Gubernur Jateng Mencanangkan Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026

Kamis, 18 Juni 2026 17:36 WIB

Penulis:SetyoNt

Editor:SetyoNt

ekonomi sensus.jpg
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi (dua dari kanan) mengalungkan tanda pengenal kepada petugas Sensus Ekonomi 2026. (dok. Humas Pemprov Jateng)

Semarang, Jatengaja.com - Pencanangan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Jawa Tengah (Jateng) dimulai dengan apel 36.891 petugas sensus di Lapangan Pancasila Kota Semarang.

Kegiatan pencanangan pelaksanan Sensus Ekonomi 2026 yang dihadiri Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi berlangsung, Kamis 18 Juni 2026.

Hadir dalam kegiatan itu Wakil Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI Sonny Harry Budiutomo Harmadi, sejumlah kepala daerah di Jawa Tengah, serta jajaran BPS se-Jawa Tengah.

Pelaksanaan Sensus Ekonomi di Jawa Tengah akan dilaksanakan hingga 31 Agustus 2026 ini melibatkan 36.891 petugas.

Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menyatakan, data sensus tersebut menjadi dasar penting dalam membaca kondisi ekonomi dan menyusun kebijakan pembangunan daerah.

“Berikan data semaksimal mungkin kepada teman-teman kita dari BPS (Badan Pusat Statistik), karena data akan memberikan fakta,” katanya.

Menurutnya, hasil sensus akan membantu pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota memetakan potensi ekonomi daerah secara lebih akurat, karena itu bupati, wali kota, hingga aparatur pemerintah ikut menyosialisasikan sensus kepada masyarakat.

Luthfi mengimbau masyarakat, khususnya pelaku usaha mulai dari UMKM hingga usaha rumah tangga, agar terbuka saat didata petugas sensus. Ia memastikan data yang diberikan masyarakat akan dijaga kerahasiaannya.

“Data yang akurat akan menjadi pijakan agar pembangunan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dapat berjalan selaras,” ujarnya.

Sementara, Wakil Kepala BPS, Sonny Harry Budiutomo Harmadi mengatakan Jawa Tengah memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. 

Pada 2026, jumlah usaha di Jawa Tengah mencapai hampir 5 juta unit usaha. Jumlah tersebut setara dengan 25,76 persen dari seluruh usaha di Pulau Jawa, dan sekitar 15,25 persen dari total usaha di Indonesia.

“Kalau kita mendata di Jawa Tengah dengan sangat baik, artinya kita menyelesaikan setidaknya 15 persen kualitas pendataan di Indonesia,” kata Sonny.

Sonny menjelaskan, Sensus Ekonomi 2026 berbeda dari sensus sebelumnya, karena turut mencakup sektor pertanian hingga rumah tangga. 

Ia menambahkan Sensus Ekonomi 2026 berbeda dengan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). 

“Sensus ini secara khusus mendata aktivitas ekonomi, baik pelaku usaha maupun ekonomi keluarga. Ia juga memastikan data yang dikumpulkan tidak berkaitan dengan perpajakan,” ujarnya.

Petugas Sensus Ekonomi 2026 dari Kecamatan Gunungpati Kota Semarang, Anastasia Putri mengatakan, pendataan dilakukan dengan mendatangi warga secara langsung dari rumah ke rumah. 

Dalam pelaksanaan di lapangan, kendala yang kerap muncul adalah kekhawatiran warga terhadap pertanyaan yang dianggap bersifat pribadi, termasuk soal pendapatan.

“Harapannya ke depan masyarakat lebih terbuka sama kita, karena ada undang-undangnya juga kan. Informasinya akan terlindungi,” ujarnya. (-)