Puncak Musim Kemarau Diprediksikan Juli hingga Agustus 2026 Durasi Lebih Panjang
Jakarta, Jatengaja.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksikan sebagian besar wilayah Indonesia diprediksikan bakal mengalami puncak musim kemarau mulai Juli hingga Agustus 2026.
Durasi musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal, sejalan dengan meningkatnya peluang terjadinya fenomena El Nino.
Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menyatakan puncak musim kemarau 2026 akan terjadi secara bertahap mulai Juli hingga September di berbagai wilayah Indonesia.
- Industri Pindar Naik Kelas, Kini Jadi Mitra Strategis Penyaluran Kredit Bank
- Kemenag Usulkan Anggaran Rp9,6 Triliun untuk Kesejahteraan Guru Agama
- Santri Hafal 30 Juz Alquran di Jawa Tengah Dapat Uang Tali Asih Rp1 Juta
- Ubah Lahan Pertanian Jadi Tambak Udang, Pengusaha Asal Batang Jadi Tersangka
- Perkuat UMKM Furnitur dan Eksyar, BI Jateng akan Gelar CJFACE 2026
“Sebagian besar wilayah Indonesia kita prediksikan akan mengalami puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus mendatang,” katanya dilansir dari Infopublik.id, Kamis 11 Juni 20026.
Menurutnya, pada bulan Juli sebanyak 83 zona musim kemarau, yang mencakup 12,26 persen luas daratan wilayah Indonesia.
Sedangkan pada Agustus, mayoritas sebanyak 369 zona musim, atau 48,84 persen dari luas daratan Indonesia, serta September, yaitu sebanyak 169 zona musim, yang mencakup 25,41 persen luas daratan wilayah Indonesia.
Lebih lanjut, Ardhasena menjelaskan, wilayah yang diprediksi mencapai puncak musim kemarau pada Juli meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan, sebagian kecil Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian tengah, serta Papua bagian timur.
Wilayah yang diperkirakan mengalami puncak kemarau pada Agustus mencakup Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, dan Maluku Utara.
Adapun puncak musim kemarau pada September diprediksi terjadi di sebagian Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku, serta wilayah Pegunungan Tengah Papua.
"Durasi musim kemarau 2026 kita prediksi lebih panjang, jadi masih konsisten dengan informasi yang kami sampaikan pada Maret yang lalu, yaitu sebanyak 437 zona musim yang mencakup 48,77 persen luas daratan wilayah Indonesia," kata Ardhasena.
BMKG mencatat sebanyak 70 zona musim atau 8,32 persen luas daratan Indonesia diprediksi memiliki durasi musim kemarau yang sama dengan kondisi normal.
- Provinsi Jateng Targetkan Lahan Sawah Dilindungi Minimal Capai 970.000 hektare
- Agar Tak Tertipu, Ini 7 Cara Mendeteksi Emas Asli atau Palsu Secara Manual
- Jateng Luncurkan Program Pendidikan Koperasi di Sekolah Jenjang SD Hingga SMA
Hanya 79 zona musim atau sekitar 9,23 persen wilayah Indonesia yang diperkirakan mengalami musim kemarau lebih singkat.
Secara umum, BMKG menyimpulkan bahwa awal musim kemarau 2026 di Indonesia cenderung datang lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologis. Curah hujan selama periode kemarau juga diprediksi berada pada kategori bawah normal atau lebih kering dari biasanya.
"Puncak musim kemarau diprediksi sebagian besar terjadi pada Agustus. Durasi musim kemarau diprediksi lebih panjang dari normal. Sehingga secara total kita melihat konsistensi pesan yang telah kami sampaikan sama dengan prediksi yang kami sampaikan pada Maret yang lalu,” ujarnya. (-)
