Dampak Cuaca Ekstrem, 63 Persen Nelayan Sementara Tak Melaut
Jakarta, Jatengaja.com - Cuaca ekstrem dalam beberapa bulan terakhir mengancam keberlangsungan hidup nelayan kecil di Indonesia. Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) mencatat, 95 persen nelayan di lebih dari 350 desa pesisir terdampak cuaca buruk, bahkan 63 persen nelayan terpaksa sementara menghentikan aktivitas melaut.
Kondisi di atas terekam dalam pengumpulan data dampak cuaca ekstrem terhadap nelayan kecil melalui survey kampung nelayan yang meliputi 41 Kabupaten/Kota di 14 Provinsi yang dilakukan DPP KNTI pada 23-24 Januari 2026.
Akibat cuaca ekstrem tersebut juga berdampak pada kerusakan infrastruktur pesisir serta menurunnya produksi perikanan tangkap. Kondisi ini dinilai semakin memperberat beban nelayan kecil yang selama ini bergantung pada hasil laut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
- Kontraktor Pembangunan SPPG Dilaporkan ke Polda Jateng
- Ini Cara Pemprov Jateng Jaga Sawah untuk Swasembada Pangan
- QGroup–YTI Salurkan Donasi untuk Sumatra via Kitabisa
- Diperkuat Layanan Kesehatan Mental di Posyandu dan PAUD
- Pemerintah pada 2026 Akan Impor 700.000 Ekor Sapi dan Kerbau
Ketua Umum KNTI Dani Setiawan menegaskan, situasi ini membutuhkan kehadiran negara dalam memberikan perlindungan yang lebih kuat bagi nelayan kecil. Nelayan seharusnya tidak dipaksa memilih antara mempertaruhkan keselamatan jiwa atau memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
“Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016, pemerintah wajib memberikan perlindungan kepada nelayan. Di tengah cuaca ekstrem, risiko melaut semakin tinggi dan tidak bisa ditanggung nelayan seorang diri,” ujar Dani dilansir dari Trenasia.id, jaringan Jatengaja.com, Sabtu (24/1/2026).
Menurut Dani, nelayan kecil di wilayah pesisir tidak cukup hanya dibekali informasi prakiraan cuaca. Lebih dari itu, mereka membutuhkan skema perlindungan sosial dan ekonomi yang lebih kuat dan konkret agar tidak terpaksa melaut dalam kondisi berbahaya.
“Nelayan memerlukan perlindungan sosial dan ekonomi, sehingga mereka tidak lagi memaksakan diri melaut saat cuaca ekstrem demi memenuhi kebutuhan sehari-hari," katanya.
Selain perikanan tangkap, cuaca ekstrem juga berdampak pada sektor perikanan budidaya dan produksi garam. Survei KNTI mencatat, petambak ikan di Tegal, Pemalang, Kendal, Karawang, dan Bekasi mengalami kerugian akibat tambak yang terendam banjir sehingga ikan lepas dari tambak. Sementara itu, petambak garam di Lombok Timur dan Jepara mengalami penurunan produksi dan pendapatan akibat faktor cuaca.
KNTI mendorong adanya respons terpadu antara pemerintah pusat dan daerah melalui penguatan perlindungan nelayan, penyaluran bantuan yang tepat sasaran, dukungan adaptasi dan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim, serta percepatan pemulihan ekonomi dan perbaikan infrastruktur di kawasan pesisir.
"Produksi perikanan tangkap, perikanan budidaya, serta garam akan berdampak langsung pada rantai perikanan lainnya. Hal ini berpotensi mengganggu penyediaan pangan nasional serta menghambat laju hilirisasi sektor kelautan dan perikanan,” ujar Dani.
Dani menambahkan pentingnya penguatan tolong menolong dan gotong-royong sesama warga serta kolaborasi yang erat antara pemerintah dengan nelayan untuk keberlanjutan kehidupan pesisir Indonesia di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata.ntara,
Sementara, Sekretaris KNTI Kota Ternate, Maluku Utara, Gafur Kaboli, menyampaikan nelayan tuna di wilayahnya sudah hampir dua bulan terakhir tidak dapat melaut secara normal. Angin kencang yang disertai hujan deras dan gelombang tinggi membuat aktivitas penangkapan ikan menjadi sangat berisiko.
“Dalam dua bulan terakhir nelayan tuna hampir tidak bisa melaut. Kalaupun ada yang melaut, risikonya sangat tinggi. Bahkan dalam satu minggu terakhir ini tidak ada nelayan yang melaut sama sekali,” ujar Gafur.
Ia menambahkan, kondisi serupa juga dialami nelayan di wilayah Indonesia Timur lainnya, seperti Maluku Tengah dan Halmahera Selatan.
- 1.239 Pesepabola Cilik Putri Ikuti MilkLife Soccer Challenge
- Pemprov Jateng Salurkan Bantuan Logistik Korban Banjir
- Brimob Amankan Kebakaran PT Chengqi Industrial Indonesia
Ketua KNTI Lingga Kepulauan Riau Hariyanto mengatakan, saat angin utara mulai bertiup, nelayan kecil hanya bisa melaut di sekitar pesisir atau di sungai yang relatif lebih aman. Namun, kondisi tersebut membuat hasil tangkapan menjadi tidak menentu.
“Kadang dapat hasil, kadang tidak mendapat ikan sama sekali. Situasi ini sangat memukul ekonomi nelayan kecil,” kata Hariyanto.
Ketua KNTI Pasangkayu Sulawesi Barat Abdul Razak mengungkapkan, seorang nelayan kecil dilaporkan hilang setelah terbawa arus laut saat memaksakan diri melaut di tengah cuaca ekstrem.
“Nelayan terpaksa melaut dengan modal nekat demi mendapatkan penghasilan, padahal risikonya sangat besar,” ujar Abdul Razak. (-)
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Ananda Astri Dianka pada 24 Jan 2026
