Pemerintah pada 2026 Akan Impor 700.000 Ekor Sapi dan Kerbau
Jakarta, Jatengaja.com - Pemerintah pada 2026 mengalokasikan impor sapi dan kerbau bakalan sebanyak 700.000 ekor yang seluruhnya diperuntukkan bagi pelaku usaha swasta.
Jumlah impor sebanyak 700.000 ekor sapi dan kerbau bakalan tersebut diestimasikan setara dengan 189,7 ribu ton daging.
Selain impor sapi dan kerbau bakalan, pemerintah juga memberikan alokasi impor daging lembu kepada pelaku usaha swasta sebesar 30 ribu ton
- Jadi Mal Kebencanaan, Anggaran Bencana di Jateng Terus Naik
- Regulasi Baru dan Arah Keberlanjutan Industri Pindar 2026
- Ingin Kuliah Gratis S1, S2, S3, LPDP Siapkan 5.750 Beasiswa
- Kiper PSIR Rembang Dilarang Bermain Sepak Bola Seumur Hidup
- Alat Plasma Ozon Buatan Undip Buat Cabai Bisa Tahan 3 Bulan
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga menjabat Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan kebijakan impor ini diambil untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional yang diproyeksikan mencapai 794,3 ribu ton.
“Produksi hewan dalam negeri belum sepenuhnya dapat mencukupi kebutuhan daging, sehingga impor masih diperlukan,” katanya dilansir dari infopublik.id, Jumat 23 Januari 2026 .
Ia menegaskan kuota impor sapi dan kerbau bakalan dan daging telah ditetapkan secara jelas dan tidak ada upaya mempersulit pelaku usaha.
“Ini kuota impor sapi, sudah keluar. Tidak ada yang dipersulit. Kemudian BUMN yang juga mendapat alokasi, itu wajib untuk melakukan stabilisasi harga,” ujarnya.
Amran menjelaskan, berbeda dengan impor sapi bakalan yang sepenuhnya dialokasikan untuk swasta, impor daging oleh BUMN memiliki fungsi strategis sebagai instrumen stabilisasi harga.
“Kebijakan impor ini bertujuan agar negara memiliki ruang intervensi ketika terjadi gejolak harga di pasar,” tandas kepala Bapanas.
Terkait potensi penyimpangan harga, Kepala Bapanas mengungkapkan adanya indikasi penjualan yang tidak sesuai dengan Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen.
Untuk mencegah penyimpangan harga , pemerintah telah meminta Satgas Pangan Polri turun langsung melakukan pengecekan di lapangan.
“Siapa yang bermain, apakah di penggemukan, distribusi, atau pihak lain, pasti akan ketemu,” tandas Amran.
Sementara, berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Daging Sapi/Kerbau per 6 Januari 2026, Bapanas mencatat stok awal daging sapi dan kerbau nasional masih berada di angka 41,7 ribu ton.
Dengan carry over stock dari 2025 ke 2026 tersebut, ketersediaan daging nasional dinilai cukup kuat, termasuk untuk menghadapi periode Ramadan dan Idulfitri pada Februari hingga Maret 2026.
- Pertamina Jamin Pasokan BBM di Kudus, Jepara, dan Pati Aman
- 1.239 Pesepabola Cilik Putri Ikuti MilkLife Soccer Challenge
- Pemprov Jateng Salurkan Bantuan Logistik Korban Banjir
Sepanjang 2026, produksi daging sapi dan kerbau dalam negeri diproyeksikan mencapai 421,2 ribu ton. Ditambah pasokan dari pemotongan sapi dan kerbau bakalan hasil impor sebesar 189,7 ribu ton serta tambahan pasokan impor daging, total ketersediaan daging sapi dan kerbau nasional diperkirakan mencapai 949,7 ribu ton.
Angka ini berada di atas kebutuhan konsumsi nasional yang diproyeksikan sebesar 794,3 ribu ton, baik untuk rumah tangga maupun non-rumah tangga.
Sementara itu, stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) dalam bentuk daging sapi dan kerbau juga masih dalam kondisi aman. Per 22 Januari 2026, stok CPP daging sapi tercatat sebesar 8 ribu ton dan daging kerbau 3 ribu ton.
Dari jumlah tersebut, ID FOOD menguasai stok daging sapi dan kerbau sekitar 11 ribu ton, sementara Perum Bulog memiliki stok sebanyak 18 ton. (-)
