Triwulan III 2026, Perekonomian Jawa Tengah Tumbuh 5,83 Persen, Lampaui Nasional
Semarang, Jatengaja.com - Perekonomian Jawa Tengah pada Triwulan III (Juli-September) 2026 tumbuh sebesar 5,83 persen secara tahunan (year on year/yoy), ditopang penyelenggaraan MTQ di Semarang.
Capaian perekonomian Jawa Tengah (Jateng) itu melampaui ekonomi nasional yang tumbuh sebesar 5,47 persen secara tahunan pada Triwulan III 2026.
Menurut Ketua Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Ali Said, capaian tersebut ditopang sejumlah faktor, di antaranya penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional XXXI 2026 di Kota Semarang, serta akselerasi program prioritas nasional.
- Masyarakat Marasa Optimis Kondisi Perekonomian Jawa Tengah Tetap Terjaga Baik
- 75 Peserta Ikuti Training for Trainer Pembelajaran Mendalam Kekhasan SIT
- Buruh dan Pengusaha Jateng Dialog Bahas Upah Layak
“Tak dapat dipungkiri perhelatan MTQ Nasional ke-31 di Semarang pada bulan September lalu, mampu menjadi stimulus ekonomi Jawa Tengah pada Triwulan III 2026," katanya dalam Rilis Indikator Strategis Jawa Tengah, Kamis 5 November 2026).
Ia mengungkapkan, gelaran MTQ Nasional XXXI pada 11-20 September 2026, menjadi salah satu stimulus bagi aktivitas ekonomi Jawa Tengah. Kegiatan tersebut diikuti 2.242 peserta, dan dikunjungi sebanyak 190.303 orang.
Dampak penyelenggaraan kegiatan itu juga terlihat dari sejumlah indikator aktivitas masyarakat. Selama 10 hari pelaksanaan MTQ, mobilitas penduduk meningkat 17,76 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan juga tercatat pada Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel yang naik 4,25 persen secara tahunan pada Triwulan III 2026, sedangkan penggunaan moda transportasi kereta api meningkat 9,23 persen pada periode yang sama.
Selain MTQ Nasional, lanjut Ali, akselerasi program prioritas Presiden Prabowo Subianto, juga turut mendukung pertumbuhan ekonomi Jateng yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
“Dukungan fiskal melalui anggaran dalam bentuk barang (transfer in kind) untuk program MBG, mengalami peningkatan signifikan. Secara tahunan, anggaran itu melonjak 306,87 persen dengan nilai nominal mencapai Rp5,9 triliun,” ujar Ali.
Sedangkan perkembangan KDKMP di Jawa Tengah juga menunjukkan kemajuan. Dari total 8.523 gerai yang terbentuk, sebanyak 5.427 gerai atau 63 persen telah beroperasi aktif.
Ali menambahkan, kegiatan usahanya mencakup penyediaan sembako, apotek, simpan pinjam, hingga pergudangan dan logistik. Adapun 3.096 gerai atau 37 persen lainnya masih dalam tahap persiapan.
"Kelembagaan ekonomi melalui Koperasi Merah Putih dari total 8.523 gerai yang terbentuk, sebanyak 5.427 gerai atau 63 persen telah beroperasi secara aktif dalam sektor penyediaan sembako, apotek, simpan pinjam, hingga pergudangan dan logistik. Sebanyak 3.096 gerai atau 37 persen dalam tahap persiapan," bebernya.
Dari sisi lapangan usaha, struktur perekonomian Jateng masih didominasi empat sektor utama. Industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar, yakni 34,05 persen, disusul perdagangan sebesar 13,58 persen, pertanian 12,17 persen, dan konstruksi 12,10 persen.
- Polri Tetapkan 20 Korporasi Dalam Negeri dan PMA Tersangka Kasus Karhutla
- Kabupaten Magelang Disiapkan Jadi Salah Satu Sentra Susu Nasional
- BI Jateng Gelar Lomba Lintas CBP Rupiah 2026 Antarsiswa SMP se-Kota Semarang
Adapun dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi komponen terbesar dengan kontribusi 58,76 persen. Berikutnya, ekspor menyumbang 45,66 persen, dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 32,63 persen.
Ali mengungkapkan, secara kuartalan (q-to-q), ekonomi Jawa Tengag tumbuh 1,20 persen dibandingkan Triwulan II 2026.
“Pertumbuhan tersebut didorong oleh lapangan usaha konstruksi yang meningkat 3,87 persen, serta PMTB yang tumbuh 3,98 persen,” katanya. (-)
