Kabupaten Magelang Disiapkan Jadi Salah Satu Sentra Susu Nasional
Magelang, Jatengaja.com - Kabupaten Magelang disiapkan menjadi daerah sentra sapi perah baru di Jawa Tengah untuk meningkatkatn produksi susu untuk mendukung upaya swasembada susu nasional.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengatakan, selain mengembangkan sentra peternakan sapi perah yang sudah mapan seperti Boyolali dan Klaten, Pemprov Jateng juga berupaya membuka kawasan produksi baru di Magelang, Batang, dan Brebes.
“Pengembangan di Magelang, Batang, dan Brebs ini dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian lahan, ketersediaan air dan pakan, serta akses pasar,” katanya saat mendampingi kunjungan kerja Wakil Menteri Pertanian, Muhammad Saleh Mustafa, di Sentra Sapi Perah Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jumat 30 Oktober 2026.
- Polri Tetapkan 20 Korporasi Dalam Negeri dan PMA Tersangka Kasus Karhutla
- BNI Kembangkan Layanan Digital, Dana Murah Tumbuh 19,6%
- Klaster Binaan BRI Bantu Pedagang Jeruk Semboro Perluas Pasar
Pemerintah Provinsi, lanjut Taj Yasin akan memberikan dukungan, salah satu upaya yang telah dilakukan Pemprov Jateng adalah melalui program Healing (Kesehatan Hewan Keliling).
“Kalau ada sapi-sapi yang potensinya terkena penyakit, itu bisa dikoordinasikan dengan kita di Provinsi Jawa Tengah. Karena kami siap untuk pengobatan dan pencegahan," kata tokoh yang akrab disapa Gus Yasin itu.
Dukungan tersebut sejalan dengan potensi Jawa Tengah sebagai salah satu daerah penghasil susu nasional. Pada 2025, populasi sapi perah di Jateng mencapai 77.566 ekor dengan produksi susu sekitar 75.366 ton.
Kontribusinya mencapai 9,66 persen terhadap produksi susu nasional, menempatkan Jateng di peringkat ketiga nasional.
Wakil Menteri Pertanian, Muhammad Saleh Mustafa mengatakan, Kabupaten Magelang memiliki peluang untuk menjadi salah satu sentra susu dalam mendukung target swasembada susu nasional.
“Kami akan mengusulkan Magelang sebagai salah satu proyek percontohan pengembangan persusuan. Pesan dari Bapak Presiden kita harus mencapai swasembada susu. Ini yang paling berat, tapi tetap kita coba dulu," ujarnya.
Saleh menambahkan, pengembangan peternakan sapi perah tidak cukup hanya mengandalkan potensi wilayah, tapi juga kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, dan kelembagaan peternak juga harus diperhatikan.
Sementara, Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menyebut wilayahnya memiliki potensi agroklimat yang mendukung pengembangan sapi perah.
Ia menyebutkan terdapat delapan kecamatan dengan kondisi wilayah yang sesuai untuk peternakan tersebut. Salah satu kawasan yang ekosistem peternakannya telah berkembang adalah Kecamatan Ngablak.
“Pengembangan peternakan sapi perah di Magelang masih menghadapi tantangan, terutama keterbatasan populasi ternak dan kapasitas produksi koperasi,” katanya.
Saat ini terdapat dua koperasi peternak sapi perah, yakni Sapto Argo dan Amarto. Produksi masing-masing koperasi masih di bawah 2.000 liter sehingga belum memenuhi kapasitas untuk memasok langsung ke industri pengolahan susu (IPS).
Akibatnya, peternak masih bergantung pada perantara dalam memasarkan susu. Kondisi tersebut turut memengaruhi harga jual yang diterima peternak.
“Berharap pengembangan sapi perah di Magelang tidak hanya berorientasi pada peningkatan populasi dan produksi, tetapi juga dibarengi pembenahan manajemen koperasi serta penguatan kemitraan dengan industri pengolahan susu,” harapnya.(-)
