Pelaksanaan MPLS Ramah 2026 Dipastikan Bebas Perundungan dam Perpeloncoan
Jakarta, Jatengaja.com - Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 dipastikan berlangsung aman, nyaman, inklusif, serta bebas dari praktik perundungan maupun perpeloncoan.
Hal ini disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq dalam keterangan di Jakarta, terkait tentang pelaksanaan MPLS Ramah 2026.
Menurutnya komitmen tersebut diwujudkan melalui pengawasan langsung ke sekolah-sekolah sekaligus penerapan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) sebagai fondasi ekosistem pendidikan yang berpihak kepada peserta didik.
- Hasil Transformasi Terlihat, Laba Pupuk Indonesia Capai Rp8,51 Triliun
- Ini 6 Perusahaan Kuasai Bisnis LPG di Indonesia
- Lindungi Anak dari Kekerasan, Pemerintah Resmi Luncurkan Gernas RANA
- Berani Coba, Kuliner Tradisional Unik Khas Semarang Ndas Maling
- Bupati Ditangkap KPK, Eko Sapto Purnomo Ditunjuk Jadi Plt Bupati Sukoharjo
“Pengawasan terhadap pelaksanaan MPLS Ramah 2026 dilakukan secara berlapis. Secara proaktif juga datang ke sekolah-sekolah untuk memastikan tidak ada pembulian maupun perpeloncoan,” katanya di Jakarta dilansir dari infopublik.id, Rabu 15 Juli 2026.
Untuk mengecek pelaksanaan MPLS Ramah 2026, Wamendikdasmen, Fajar Riza Ul Haq mengunjungi pelaksanaan MPLS Ramah di SMA Labschool Kebayoran, Jakarta Selatan.
Kunjungan dilakukan untuk memastikan implementasi Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 berjalan efektif sekaligus memastikan hak-hak murid baru terlindungi selama masa transisi ke jenjang pendidikan menengah.
Di hadapan sekitar 290 murid baru, Fajar menegaskan bahwa sekolah harus menjadi ruang belajar yang aman sekaligus rumah kedua bagi peserta didik.
Menurutnya, lingkungan sekolah yang ramah akan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, baik dari sisi akademik maupun karakter.
"Prinsip dasarnya bagaimana sekolah menjadi ekosistem pembelajaran yang ramah, inklusif, dan mendorong pertumbuhan anak secara alamiah. Sekolah harus menjadi rumah kedua bagi anak-anak kita," ujar Fajar.
Ia menilai keberhasilan MPLS tidak hanya diukur dari pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga dari kemampuan satuan pendidikan membangun budaya positif sejak hari pertama peserta didik masuk sekolah.
“Karena itu, penguatan karakter, kepemimpinan, serta nilai-nilai Pancasila menjadi bagian penting dalam pelaksanaan MPLS Ramah,” katanya.
Kemendikdasmen menargetkan MPLS Ramah 2026 menjadi momentum membangun budaya sekolah yang menghormati hak anak, bebas kekerasan, dan mendukung terbentuknya generasi pelajar berkarakter, berdaya saing, serta siap menghadapi tantangan masa depan.
- Penyaluran BBM di Wilayah Jateng dan DIY Masih Berjalan Normal dan Lancar
- Jateng Jadi Percontohan Nasional B50
- LAZiS Jateng Gelar Wonderful Muharram
Sementara, Kepala SMA Labschool Kebayoran, Suparno, menjelaskan bahwa rangkaian MPLS berlangsung selama lima hari, dimulai sejak pra-MPLS pada 10 Juli hingga 17 Juli 2026.
Seluruh kegiatan dirancang tidak hanya untuk mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membangun karakter, semangat kebangsaan, ketakwaan, dan kepemimpinan peserta didik.
"Panitianya bukan hanya guru. Kami juga melibatkan OSIS, MPK, dan Rohis dalam satu kepanitiaan yang berperan sebagai mentor bagi adik kelas," kata Suparno.(-)
