Ini 6 Perusahaan Kuasai Bisnis LPG di Indonesia

SetyoNt - Selasa, 14 Juli 2026 15:59 WIB
Nampak penjual tengah merapikan susunan tabung gas LPG 3Kg di sebuah agen gas kawasan Cipondoh Kota Tangerang.Kamis 5 Januari 2022. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

Jatengaja.com - Selain PT Pertamina Patra Niaga, terdapat sejumlah perusahaan yang memproduksi dan mendistribusikan serta mendominasi atau menguasai pasar LPG di Indonesia .

Saat ini memang PT Pertamina Patra Niaga (PPN) paling menguasai bisnis LPG dengan lebih dari 80% baik yang berasal dari produksi dalam negeri maupun impor dari luar negeri.

Dominasi tersebut membuat perusahaan pelat merah ini menjadi pemain terbesar dalam rantai bisnis LPG, mulai dari pengadaan, impor, distribusi hingga penjualan kepada masyarakat.

Di sisi lain, Indonesia hingga kini masih belum mampu memenuhi kebutuhan LPG dari produksi domestik. Sekitar 75-80% konsumsi nasional masih bergantung pada impor, sehingga bisnis LPG juga sangat dipengaruhi dinamika perdagangan energi global.=

Berikut sejumlah perusahaan menjadi penguasa bisnis LPG di Indonesia yang dilansir dari Trenasia.id, jaringan Jatengaja.com,

1. PT Pertamina Patra Niaga

Perusahaan ini mengelola dua segmen utama pasar LPG, yakni,

  • LPG subsidi (Public Service Obligation/PSO) berupa tabung gas melon 3 kg.
  • LPG nonsubsidi yang dipasarkan melalui merek BrightGas.

Selain menjual langsung kepada konsumen, Pertamina Patra Niaga juga memasok LPG secara bulk kepada sejumlah perusahaan swasta yang kemudian mengemas dan menjualnya dengan merek masing-masing, seperti BlueGas dan PrimeGas.

Dengan penguasaan lebih dari 80% pasokan LPG nasional, Pertamina Patra Niaga praktis menjadi pemain paling dominan di industri ini. Namun, dominasi tersebut juga sempat menjadi sorotan regulator.

Pada Maret 2025, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mulai menyelidiki dugaan praktik monopoli di pasar LPG nonsubsidi. KPPU menduga harga LPG nonsubsidi dijual dengan margin keuntungan yang jauh lebih tinggi dibanding LPG subsidi.

Disebut menghasilkan laba sekitar 10 kali lebih besar atau mencapai sekitar Rp1,5 triliun, sehingga mendorong sebagian masyarakat beralih menggunakan LPG subsidi sehingga meningkatkan beban anggaran negara.

2. PT Pertamina Gas (Pertagas)

PT Pertagas merupakan produsen LPG terbesar di Indonesia sekaligus anak usaha Pertamina yang bergerak di sektor gas bumi dan infrastruktur energi. Perusahaan ini menjadi salah satu pemasok utama LPG domestik yang kemudian didistribusikan melalui jaringan Pertamina maupun kebutuhan industri.

3. PT Perta-Samtan Gas (PSG)

PT Perta-Samtan Gas merupakan perusahaan patungan antara Pertagas dengan ST International asal Korea Selatan. Perusahaan ini mengoperasikan kilang LPG terbesar kedua di Indonesia setelah Kilang Balongan. Perannya cukup strategis karena mampu memasok sekitar 50% kebutuhan LPG Sumatera Bagian Selatan.

4. PT Badak NGL

PT Badak NGL, anak usaha Pertamina Hulu Energi yang dikenal sebagai operator kilang LNG terbesar di Indonesia. Selain LNG, perusahaan juga memproduksi LPG dari fasilitas pengolahan gas di Bontang, Kalimantan Timur. Kilang Badak NGL bahkan menjadi salah satu fasilitas pengolahan gas terbesar di dunia.

5. PT ESSA Industries Indonesia Tbk

PT ESSA Industries Indonesia Tbk mengoperasikan kilang LPG domestik terbesar milik swasta di Indonesia yang berlokasi di Palembang dengan kapasitas produksi sekitar 190 ton per hari.

6. PT Asynergy Nix Indonesia (ArsyGas)

PT ArsyGas dikenal sebagai satu-satunya grup swasta nasional yang telah memiliki rantai bisnis LPG terintegrasi. Perusahaan ini memiliki kilang LPG sendiri, stasiun pengisian LPG, jaringan distribusi sendiri. Kilang ArsyGas yang berlokasi di Gresik memiliki kapasitas sekitar 190 ton per hari.

Meski memiliki sejumlah produsen dalam negeri, Indonesia hingga kini masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan LPG nasional.

Berdasarkan data Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), kondisi pasar LPG Indonesia adalah sebagai berikut,

  • Konsumsi LPG nasional (2024): sekitar 8,9 juta ton per tahun.
  • Produksi domestik: sekitar 1,96 juta ton per tahun.
  • Impor LPG: sekitar 7 juta ton per tahun.
  • Proyeksi konsumsi 2026: mendekati 10 juta ton.

Artinya, sekitar 75–80% kebutuhan LPG Indonesia masih dipenuhi dari impor, sehingga pasokan dalam negeri sangat dipengaruhi harga energi internasional, nilai tukar rupiah, serta kondisi geopolitik global. (-)

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 14 Jul 2026

Editor: SetyoNt

RELATED NEWS