IndoDairy Undip dan ACIAR Hadirkan Inovasi Air Minum Otomatis untuk Sapi Perah
Boyolali, Jatengaja.com - Tim peneliti Universitas Diponegoro (Undip) Semarang melalui Program IndoDairy 2 berhasil mengembangkan sistem penyediaan air minum otomatis bagi sapi perah.
Program IndoDairy 2 yang didanai Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) tersebut sedang diimplementasikan di Jawa Tengah dan Jawa Barat sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah rakyat melalui penerapan Good Dairy Farming Practices (GDFP).
Salah satunya adalah sentra produksi susu di Boyolali, Jawa Tengah. UNDIP bersama KUD Mojosongo Boyolali memasang sistem air minum ad libitum pada 24 peternak percontohan (focus farms), sehingga sapi dapat memperoleh air minum kapan pun dibutuhkan tanpa harus menunggu peternak mengisi bak minum secara manual.
- Hasil Transformasi Terlihat, Laba Pupuk Indonesia Capai Rp8,51 Triliun
- Ini 6 Perusahaan Kuasai Bisnis LPG di Indonesia
- Lindungi Anak dari Kekerasan, Pemerintah Resmi Luncurkan Gernas RANA
- Berani Coba, Kuliner Tradisional Unik Khas Semarang Ndas Maling
- Bupati Ditangkap KPK, Eko Sapto Purnomo Ditunjuk Jadi Plt Bupati Sukoharjo
Sebelum program ini diterapkan, para peternak di Boyolali 70% tidak memiliki penampung air minum untuk sapi, mereka memberi air dicampur dengan pakan konsentrat yang dikenal dengan “sistem komboran”.
Dengan sistem ini tidak tersedia air minum untuk sapi perah. Padahal air minum adalah kebutuhan yang sangat vital bagi sapi perah untuk memproduksi susu.
Menurut Project Leader Tim IndoDairy UNDIP, Drh Dian Wahyu Harjanti, PhD pendampingan ini tidak berhenti pada pemasangan fasilitas, tetapi akan berlangsung selama 18 bulan melalui pelatihan, pendampingan teknis, dan monitoring.
“Selain itu juga penguatan kapasitas koperasi susu agar inovasi benar-benar diterapkan secara berkelanjutan oleh peternak. Termasuk pendampingan dalam manajemen pakan dan budidaya ternak,” katanya.
Teknologi air minum ini tidak menggunakan sensor, mikrokontroler, pompa otomatis, maupun jaringan listrik, tapi sistem bekerja sepenuhnya secara mekanis dengan memanfaatkan prinsip kesetimbangan fluida (fluid equilibrium) melalui mekanisme floating valve atau katup pelampung.
Ketika permukaan air turun karena diminum sapi, gaya apung pelampung ikut menurun sehingga katup terbuka dan air mengalir secara otomatis.
Setelah permukaan air kembali mencapai ketinggian tertentu, gaya apung akan menutup kembali aliran air sehingga volume air tetap stabil.
Prinsip floating valve sebenarnya telah lama digunakan pada tangki penyimpanan air. Namun, Tim UNDIP mengembangkan penerapan baru melalui desain yang disesuaikan khusus dengan karakteristik kandang sapi perah.
Ketinggian air dirancang agar selalu berada pada posisi ideal sehingga mudah dijangkau ternak, tetap higienis, serta mendukung pola minum ad libitum.
Karena bekerja sepenuhnya secara mekanis, sistem ini relatif murah, tahan terhadap kondisi kandang yang lembap, tidak memerlukan pasokan listrik, dan dapat diterapkan pada peternakan rakyat yang memiliki keterbatasan infrastruktur.
Perancang utama sistem air minum ad libitum tersebut adalah Edi Prayitno, S.Pt., M.Si, anggota Tim IndoDairy UNDIP, menyatakan kebaruan inovasi ini bukan terletak pada penemuan prinsip mekanika fluida yang baru, melainkan pada cara baru menerapkan mekanisme floating valve sehingga sesuai dengan kebutuhan manajemen sapi perah di kandang rakyat.
“Pendekatan ini menjadikan teknologi lebih sederhana, murah, mudah dirawat, dan lebih adaptif dibandingkan sistem otomatis berbasis sensor elektronik yang banyak dikembangkan saat ini,” jelas Edy.
- Penyaluran BBM di Wilayah Jateng dan DIY Masih Berjalan Normal dan Lancar
- Jateng Jadi Percontohan Nasional B50
- LAZiS Jateng Gelar Wonderful Muharram
Ketua KUD Mojosongo, Heni Prihatinningsih, mengungkapkan sejak sistem air minum ad libitum diterapkan, kondisi sapi tampak lebih sehat dengan bulu yang lebih halus dan mengilap.
Beberapa peternak juga melaporkan peningkatan kualitas susu serta kenaikan produksi hingga sekitar satu liter susu per ekor per hari.
“Pekerjaan peternak menjadi lebih efisien karena tidak lagi harus berulang kali menyediakan air minum secara manual,” ujarnya.(-)
