BLK Jasa Pariwisata Jateng Adakan Pelatihan Pemandu Wisata Gunung

SetyoNt - Minggu, 19 April 2026 16:35 WIB
Sebanyak 16 peserta mengikuti pelatihan Pemandu Wisata Gunung, yang digelar Balai Latihan Kerja Jasa Pariwisata Disnakertrans Jateng. (dok. Humas Jateng)

Semarang, Jatengaja.com - Sebanyak 16 peserta mengikuti pelatihan Pemandu Wisata Gunung (PWG), yang digelar Balai Latihan Kerja (BLK) Jasa Pariwisata Disnakertrans Jateng.

Para peserta berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah, yang rata-rata telah memiliki pengalaman sebagai pemandu maupun pegiat wisata alam.

Mereka setelah mendapatkan pembekalan teori di Balai BLK Jasa Pariwisata dilanjutkan dengan kegiatan orientasi alam di jalur pendakian Perantunan, Gunung Ungaran, Jumat-Sabtu 17–18 April 2026.

Staf BLK Jasa dan Pariwisata Jateng, Hamid Adityawarman, menjelaskan pelatihan PWG dibuka untuk mendukung kebutuhan pemandu wisata gunung yang profesional.

“Pelatihan itu diselenggarakan dengan sistem asrama selama 100 jam, yang meliputi teori dan praktik di lapangan. Dari ratusan pendaftar terpilih 16 peserta,” ujarnya.

Prinsipnya, kegiatan ini bertujuan melatih calon pemandu wisata gunung, agar memiliki kompetensi sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

Program tersebut juga mendapat dukungan dari Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Hal itu sejalan dengan penetapan 2027 sebagai tahun pariwisata dan ekonomi syariah, setelah 2025 sebagai tahun infrastruktur dan 2026 tahun swasembada pangan.

Dalam pelaksanaannya, pelatihan PWG menggandeng Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) untuk memastikan standar nasional terpenuhi, sehingga peserta yang dinyatakan kompeten siap terjun ke dunia profesional.

“Kami juga bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang berlisensi BNSP,” imbuh Hamid.

Ketua APGI Jawa Tengah, Lazuardi, menyambut baik kerja sama tersebut, karena minat wisatawan untuk mendaki sangat tinggi.

“Dari 15 kawasan wisata gunung di Jawa Tengah, tercatat sekitar 900 ribu pendaki setiap tahun,” katan dia.

Lazuardi menambahkan, kebutuhan pemandu wisata gunung di Jawa Tengah masih besar. Saat ini jumlah pemandu profesional sekitar 160 orang, belum sebanding dengan meningkatnya minat pendakian.

“Ini menjadi terobosan di bidang pemandu wisata gunung, mengingat potensi pariwisata gunung di Jawa Tengah sangat besar,” ungkapnya.

Hal tersebut dibuktikan dengan peserta batch pertama PWG 2025, yang telah terserap di sejumlah penyelenggara wisata alam. Dari sisi pendapatan, pemandu wisata gunung di Jawa Tengah dapat memperoleh Rp350 ribu hingga Rp650 ribu per hari.

Sebagian besar pengguna jasa pemandu berasal dari kota besar, seperti Jakarta yang tertarik dengan keindahan gunung di Jawa Tengah.

“Dalam pelatihan ini diajarkan berbagai keterampilan teknis, mulai dari pelayanan tamu, mendirikan kemah, navigasi, pengetahuan keanekaragaman hayati dan budaya, hingga kode etik pemandu wisata,” jelas Lazuardi.

Peserta pelatihan, Endang Pratiwi, mengaku antusias mengikuti pelatihan tersebut. Baginya, dunia alam bukan hanya hobi, tetapi juga sumber penghasilan.

“Saya berlatar belakang pecinta alam sejak kuliah, dan saat ini bekerja sebagai porter lepas. Harapannya, saya bisa meningkatkan kapasitas menjadi pemandu, bukan lagi porter,” ujarnya. (-)

Editor: SetyoNt

RELATED NEWS