Digelar Festival Perempuan Pesisir : Merawat (Ibu) Bumi dan Laut

SetyoNt - Jumat, 17 April 2026 21:59 WIB
Puspita Bahari Demak Gelar Festival Perempuan Pesisir : Merawat (Ibu) Bumi dan Laut. (dok. Komunitas EMPU)

Semarang, Jatengaja.com - Organisasi perempuan nelayan di Sayung Kabupaten Demak, Puspita Bahari didukung Komunitas EMPU akan menggelar Festival Perempuan Pesisir: Merawat (Ibu) Bumi dan Laut.

Festival Perempuan Pesisir: Merawat (Ibu) Bumi dan Laut yang merupakan kelanjutan dari perayaan Hari Perempuan Internasional pada Maret 2025, akan dilaksanakan di Desa Timbulsloko, Kabupaten Demak, Sabtu18 April 2026.

Festival Perempuan Pesisir: Merawat (Ibu) Bumi dan Laut adalah perayaan, perlawanan, dan penguatan solidaritas untuk masa depan kawasan pesisir yang adil dan berkelanjutan.

Ketua Puspita Bahari, Masnuah menyatakan, festival ini adalah sebuah ruang politik dan kolektif yang bertujuan menegaskan kepemimpinan perempuan akar rumput dalam menghadapi krisis iklim dan ketidakadilan gender di wilayah pesisir.

“Selama bertahun-tahun, perempuan pesisir di Demak telah menghadapi dampak berlapis dari pembangunan ekstraktif dan bencana banjir rob yang semakin parah,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat 17 April 2026.

Situasi ini memicu kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, gangguan kesehatan reproduksi, dan melipatgandakan beban domestik mereka. Realitas ini menjadi cerminan nyata atas ketidakmampuan negara dalam menjamin hak-hak asasi perempuan pesisir.

Di tengah situasi krisis, Puspita Bahari sebagai komunitas perempuan nelayan di Demak yang telah berdiri sejak tahun 2005 dan beranggotakan 100 orang menunjukkan daya lenting luar biasa melalui inisiatif adaptasi iklim.

Beberapa insitiatif adaptasi iklim berbasis komunitas, meliputi advokasi pengakuan identitas perempuan nelayan dan akses ke program perlindungan sosial.

Membangun koperasi dan mengembangkan produk makanan pesisir, membuat dan membagikan pembalut kain ramah lingkungan kepada perempuan dan anak perempuan.

Melakukan pembibitan Mangrove untuk mendukung ekonomi dan ekosistem pesisir, membangun bank sampah dan kebun ketahanan pangan, serta melakukan pendampingan kasus kekerasan berbasis gender Inisiatif ini adalah bukti bahwa perempuan dapat memimpin perubahan di tengah krisis.

Pada tahun 2026 ini, Puspita Bahari mendapatkan dukungan dari banyak pihak untuk terus melakukan advokasi kolektif ini.

Festival Perempuan Pesisir: Merawat (Ibu) Bumi dan Laut dibuka dengan Kirab dan Ritual Pemulihan Bumi, dilanjutkan dengan Manifesto Seni Pesisir, menampilkan Tari "The Cangik", pementasan Suara Ibu Peduli, dan Peragaan Busana eco-fashion oleh komunitas EMPU.

Puncak acara adalah Sarasehan Keadilan Iklim, sebuah ruang politik yang dinamis untuk menuntut akuntabilitas dan komitmen negara.

Sarasehan ini mempertemukan perempuan nelayan dari Purworejo, Morodemak, Margolinduk, Bedono, dan Timbulsloko dengan para pengambil kebijakan dari lembaga negara, termasuk DPR, dan Dinas terkait, serta aktivis lingkungan dan pegiat isu gender.

Festival ini didukung oleh GENERATE Project dari University of Leeds dan aliansi strategis yang kompak dengan melibatkan sekitar 150 representasi dari jaringan masyarakat sipil.

Di antaranya adalah Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI), Walhi Jawa Tengah, LBH Semarang, Jakarta Feminist, Komunitas EMPU, Timbulsloko Bangkit, FOSIL Demak, Forum Demak Hijau, Suara Ibu Peduli, dan lebih dari 30 organisasi pemuda, masyarakat sipil, dan komunitas sebagai bentuk solidaritas tanpa batas.

“Festival "Perempuan Pesisir: Merawat (Ibu) Bumi dan Laut" adalah perayaan, perlawanan, dan penguatan solidaritas untuk masa depan pesisir yang adil dan berkelanjutan,” Koordinator Komunitas EMPU/The Soeratman Foundation Leya Cattleya Soeratman. (-)

Editor: SetyoNt

RELATED NEWS