620 Anak Terpapar Ekstremisme dan Ideologi Kekerasan Melalui Ruang Digital

SetyoNt - Senin, 05 Oktober 2026 08:38 WIB
Kepala BNPT, Eddy Hartono mengungkapkan 620 Anak Indonesia Terpapar Ekstremisme dan Ideologi Kekerasan Melalui Ruang Digital (dok. infopublik)

Jakarta, Jatengaja.com - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap selama Januari–Agustus 2026 sebanyak 620 anak teridentifikasi terpapar ekstremisme dan ideologi kekerasan melalui ruang digital.

Kepala BNPT, Eddy Hartono menyatakan anak-anak tersebut berusisa antara 11 tahun hingga 18 tahun yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

“620 anak ini menunjukkan bahwa kita harus bergerak lebih awal. Generasi mereka aktif di ruang digital ini perlu kita jaga bersama melalui kolaborasi dan sumbang pikir para rektor agar langkah mitigasi ini berjalan efektif dan tidak sia-sia,” kata Eddy di Jakarta dilansir dari Infoublik.id, Senin 5 Oktober 2026.

Adanya temuan tersebut, lanjut Eddy, mendorong BNPT memperkuat pencegahan sejak dini dengan menggandeng 13 perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun ketahanan generasi muda terhadap paparan ekstremisme berbasis kekerasan yang dapat berkembang melalui lingkungan digital.

Menurutnya perkembangan ekosistem digital membuat upaya pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah.

“Perguruan tinggi dinilai memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan generasi muda sekaligus memiliki kapasitas pengetahuan untuk membaca perubahan sosial dan pola ancaman di ruang digital,” ujarnya.

Berdasarkan temuan BNPT, paparan ekstremisme terhadap anak dan remaja antara lain ditemukan melalui berbagai forum dan komunitas digital, termasuk ekosistem True Crime Community (TCC).

TCC pada dasarnya bukan jaringan terorisme, tetapi perubahan perilaku ketika anak mulai menormalisasi atau mengglorifikasi kekerasan perlu menjadi perhatian.

Namun, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya intervensi pada fase awal sebelum paparan berkembang menjadi perilaku kekerasan.

Penanganan anak juga tidak dapat dilakukan secara individual karena lingkungan terdekat memiliki peran penting dalam proses pemulihan dan pencegahan.

“Anak-anak ini kita sentuh dengan rehabilitasi dulu dengan pendekatan mikroekologi anak. Artinya melibatkan lingkungan terdekat anak yang mencakup orang tua, sekolah/kampus, serta masyarakat sekitar,” ujarnya.

Sementara, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY, Lilik Andi Aryanto, mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun kemampuan masyarakat menghadapi perbedaan dan perubahan lingkungan sosial.

Menurutu Lilik, kampus merupakan ruang yang mempertemukan pengetahuan, perbedaan pandangan, dan argumentasi secara sehat.

“Karena itu, penguatan pendidikan karakter dan kemampuan berpikir kritis menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan generasi muda,”ucapnya.

Kerja sama BNPT dan perguruan tinggi tersebut mencakup penguatan kapasitas lingkungan pendidikan, dukungan terhadap kelompok rentan, serta pembangunan resiliensi masyarakat dalam menghadapi ekstremisme berbasis kekerasan.

Dengan kolaborasi tersebut, perguruan tinggi ditempatkan sebagai mitra strategis dalam membangun sistem pencegahan berbasis pengetahuan dan lingkungan sosial.

Upaya ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan generasi muda sekaligus mencegah paparan ekstremisme berkembang menjadi tindakan kekerasan. (-)

Editor: SetyoNt

RELATED NEWS

‌‌‌
‌‌‌
‌‌‌