Berdasar Model Ekonometrik, Indonesia Ternyata Punya Peluang Juara Piala Dunia

Jumat, 29 Mei 2026 22:51 WIB

Penulis:SetyoNt

Editor:SetyoNt

FIFA-World-Cup-Trophy.jpg
Trofi Piala Dunia.

Jatengaja.com -  Seorang ahli strategi investasi asal Inggris  bernama Joachim Klement telah menemukan salah satu rumus paling unik untuk memprediksi juara Piala Dunia yakni menggunkan model ekonometrik.

Melelui ekonometrik ini, Joachim Klement selama tiga edisi Piala Dunia terakhir  berhasil menebak juara dengan akurasi sempurna yakni Jerman pada Piala Dunia tahun 2014, Prancis pada Piala Dunias tahun 2018, dan Argentina pad Piala Dunia pada tahun 2022.

Dilansir dari Trenasia.id,  untuk Piala Dunia 2026, model ekonometrik tersebut mengunggulkan Belanda sebagai kandidat juara. Yang membuat model Klement menarik bukan karena melibatkan statistik sepak bola yang rumit. 

Sebaliknya, sebagian besar variabel yang digunakan justru berasal dari data ekonomi dan demografi. Ada lima faktor utama dalam model tersebut yakni :

  • Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita,
  • jumlah populasi,
  • suhu rata-rata negara,
  • peringkat FIFA,
  • serta keuntungan bermain di kandang (home advantage).

Secara sederhana, Klement berargumen negara yang kaya, memiliki populasi besar, iklim yang mendukung, dan kualitas sepak bola tinggi akan memiliki peluang lebih besar menjadi juara dunia.

Bila Indonesia dimasukkan ke dalam model ekonometrik apakah akan berhasil menjadi juara Piala Dunia? Hal ini Jika melihat jumlah penduduk, Indonesia sebenarnya memiliki modal yang sangat besar. 

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan populasi Indonesia telah melampaui 285 juta jiwa pada 2026, menjadikannya negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah India, China, dan Amerika Serikat.

Dalam teori ekonomi olahraga, populasi besar berarti kumpulan talenta (talent pool) yang lebih luas. Semakin banyak penduduk, semakin besar peluang menemukan pemain berbakat yang mampu bersaing di level dunia.

Inilah salah satu alasan negara-negara besar seperti Brasil, Argentina, Jerman, dan Prancis relatif konsisten melahirkan generasi pesepak bola berkualitas. Namun, populasi hanyalah satu bagian dari persamaan.

Masalah muncul ketika Indonesia dibandingkan pada dua variabel lain yang dianggap sangat berpengaruh dalam model Klement: pendapatan per kapita dan peringkat FIFA.

Berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF), PDB per kapita Indonesia saat ini berada di kisaran US$5.000 per tahun.

Angka tersebut masih jauh di bawah negara-negara yang secara konsisten menjadi kekuatan sepak bola dunia.

Sebagai perbandingan:

  • Belanda memiliki PDB per kapita di atas US$60.000.
  • Jerman sekitar US$55.000.
  • Prancis lebih dari US$45.000.
  • Argentina sekitar US$14.000.

Sementara itu, Indonesia bahkan masih berada di bawah Malaysia yang telah menembus kisaran US$14.000 dan Vietnam yang terus mengejar di level menengah. Di sisi sepak bola, posisi Indonesia dalam peringkat FIFA juga masih jauh dari elite dunia.

Timnas Indonesia memang mencatat kemajuan signifikan dalam dua tahun terakhir, tetapi masih berada jauh di luar kelompok 50 besar dunia yang selama ini mendominasi turnamen internasional.

Dalam model Klement, kombinasi pendapatan dan peringkat FIFA menjadi faktor yang saling memperkuat.

Negara yang lebih kaya cenderung memiliki:

  • infrastruktur olahraga lebih baik,
  • akademi pemain yang lebih banyak,
  • kompetisi domestik yang lebih profesional,
  • fasilitas kesehatan dan nutrisi yang lebih memadai,
  • serta investasi pembinaan usia muda yang lebih besar.

Hubungan ekonomi dan olahraga sebenarnya telah lama diteliti. Ekonom olahraga dari University of Michigan, Stefan Szymanski, dalam berbagai risetnya menemukan bahwa pendapatan nasional dan ukuran populasi merupakan dua prediktor terkuat kesuksesan sepak bola internasional.

Logikanya sederhana. Negara kaya memiliki sumber daya lebih besar untuk membangun stadion, akademi, pusat pelatihan, ilmu keolahragaan, hingga sistem pencarian bakat. Karena itu, banyak negara dengan ekonomi kuat juga mendominasi olahraga global.

Sepak bola modern bukan lagi sekadar soal bakat alamiah. Ia merupakan hasil investasi jangka panjang dalam pendidikan, kesehatan, dan pembangunan manusia.

Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri BUMN, Erick Thohir, pernah menyampaikan target Indonesia masuk 50 besar FIFA pada 2045. Target tersebut bertepatan dengan visi Indonesia Emas 2045, saat pemerintah menargetkan Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan pendapatan per kapita Indonesia dapat mencapai lebih dari US$25.000 pada 2045 jika pertumbuhan ekonomi mampu dijaga secara konsisten.

Menariknya, angka tersebut tidak jauh dari kisaran yang disebut Erick Thohir sebagai salah satu prasyarat agar Indonesia dapat bersaing di level sepak bola dunia.

Artinya, ambisi menjadi kekuatan sepak bola ternyata tidak bisa dipisahkan dari pembangunan ekonomi. Semakin tinggi pendapatan masyarakat, semakin besar pula kemampuan negara berinvestasi dalam kualitas sumber daya manusia, termasuk atlet.

Jika model Joachim Klement benar, maka pertanyaan terbesar bagi Indonesia bukanlah kapan menjadi juara Piala Dunia. Pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah Indonesia mampu meningkatkan kualitas ekonominya cukup cepat untuk menciptakan ekosistem sepak bola kelas dunia?

Dalam perspektif itu, sepak bola menjadi cermin pembangunan nasional. Peringkat FIFA tidak hanya mencerminkan kualitas pemain di lapangan, tetapi juga kualitas pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan produktivitas ekonomi suatu negara.

Jalan Indonesia menuju panggung elite sepak bola dunia kemungkinan besar tidak dimulai dari stadion atau ruang ganti pemain. Jalannya justru dimulai dari pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan kemampuan menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera.

Jika itu tercapai, mungkin suatu hari Indonesia bukan hanya menjadi pasar sepak bola terbesar di Asia Tenggara, tetapi juga mulai diperhitungkan sebagai kekuatan sepak bola dunia. (-)

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 29 May 2026