Triwulan I (Januari-Maret) 2026, Perekonomian Jawa Tengah Tumbuh 5,89 Persen
Semarang, Jatengaja.com - Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Jawa Tengah mampu mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,89 persen (year on year/yoy) pada triwulan I (Januari-Maret) 2026.
Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah (Jateng) pada triwulan I 2026 tersebut meningkat dibandingkan atas triwulan IV (Oktober-Desember) 2025 yang tercatat sebesar 5,84 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, mengatakan pertumbuhan ekonomi ini ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi yang terus tumbuh.
- BI Sebut Konsumen Tetap Optimis Terhadap Kondisi Perekonomian Jawa Tengah
- Telkom Bukukan Pendapatan Konsolidasi Rp37,2 triliun
- Berdasar Model Ekonometrik, Indonesia Ternyata Punya Peluang Juara Piala Dunia
- Polda Jateng Ungkap 61 Kasus 3 C, Modus Kejahatan Kian Beragam dan Terorganisir
- Mulai 1 Juli 2026, Pemerintah Berlakukan Registrasi Kartu SIM Gunakan Biometrik
“Konsumsi rumah tangga dan investasi yang terus meningkat menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini,” katanya dalam keterangan tertulis, Sabtu 30 Mei 2026.
Menurutnya, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar terhadap perekonomian Jawa Tengah sebesar 5,08 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,44 persen.
Peningkatan tersebut didorong tingginya aktivitas ekonomi masyarakat selama puasa Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 2026.
“Momentum Ramadan dan Idulfitri memberikan dampak yang signifikan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, terlihat dari meningkatnya konsumsi rumah tangga,” ujarnya.
Selain konsumsi, investasi juga menjadi motor penting pertumbuhan ekonomi. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada triwulan I 2026 tumbuh 9,61 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 6,24 persen.
Noor menjelaskan, peningkatan investasi didorong pembangunan pabrik di berbagai kawasan industri serta berlanjutnya sejumlah proyek strategis pemerintah dan swasta.
“Aktivitas pembangunan kawasan industri dan ekspansi sektor manufaktur terus berjalan sehingga mampu mendorong pertumbuhan investasi secara signifikan,” katanya.
Ia menambahkan belanja pemerintah juga turut memberikan kontribusi positif. Pada triwulan I 2026, konsumsi pemerintah tumbuh 19,36 persen, meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 9,11 persen.
Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi percepatan pembangunan dan perbaikan infrastruktur, termasuk jalan raya serta fasilitas pendukung pariwisata menjelang arus mudik Lebaran.
Dari sisi lapangan usaha, sektor industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian Jawa Tengah dengan pangsa mencapai 32,69 persen.
Sektor ini tumbuh 4,04 persen meskipun menghadapi tantangan berupa gangguan distribusi akibat banjir yang terjadi di sejumlah wilayah.
- Tim Olimpiade Biologi Indonesia Raih Emas di Open International Biology Olympiad
- Iduladha 2026 , Presiden Prabowo Kurban Sapi Seberat 1 Ton di MAJT Semarang
- Bertemu Pengusaha Tiongkok, Ahmad Luthfi Tawarkan Investasi Pengelolaan Sampah
Sektor konstruksi juga mencatat pertumbuhan yang sangat tinggi, yakni 11,91 persen. Pertumbuhan ini didukung pembangunan infrastruktur, kawasan industri, serta berbagai program prioritas pemerintah seperti pembangunan gedung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Sekolah Rakyat, dan gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga menjadi salah satu penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan sebesar 14,14 persen.
Noor optimistis tren positif ini dapat terus berlanjut sepanjang tahun 2026.
“Kami menilai prospek pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah ke depan tetap kuat dan berdaya tahan,” ujar Noor. (-)
