Jateng Panen Raya Padi, Diperkirakan Capai 3,35 Juta Ton KGK

SetyoNt - Jumat, 20 Februari 2026 17:55 WIB
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi (dua dari kiri) melakukan panen raya padi dipusatkan di lahan sawah Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jumat 20 Februari 2026. (dok. Humas Pemprov Jateng)

Semarang, Jatengaja.com - Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mulai memasuki panen raya padi di 35 kabupaten/kota untuk periode Januari-Maret 2026, yang diperkirakan akan mencapai sekitar 3,35 juta ton gabah kering giling (GKG).

Perkiraan tersebut merupakan hasil penghitungan kerangka sampel area Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah.

Hasil panen raya ini meningkat sebesar 413.698 ton GKG atau sekitar 14% dibandingkan atas periode yang sama tahun 2025 lalu.

Secara simbolis panen raya dipusatkan di lahan sawah Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, yang dipimpin langsung Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, Jumat 20 Februari 2026.

Gubernur Ahmad Luthfi menyatakan, target luas tanam padi untuk seluruh wilayah Jateng periode Januari-Desember 2026 sekitar 2,38 Juta hektare.

Realisasi hingga 18 Februari 2026 seluas 216.098 hektare. Sementara target produksi padi Jateng 2026 sebesar 10,55 juta ton GKG atau naik 12,22% dari realisasi 2025 sebesar 9.,3 juta ton.

“Tahun 2025 kemarin kita bisa dapat kontribusi 15 persen untuk nasional, tahun 2026 harus lebih meningkat," katanya usai mengawali panen raya didampingi Bupati Semarang Ngesti Nugraha dan Kepala Bulog Jateng Sri Muniati.

Guna memenuhi target tersebut, Luthfi menginstruksikan kepada Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares meningkatkan konektivitas dengan 35 kabupaten/kota.

“Konektivitas dengan 35 kabupaten/kota dalam mempertahankan lahan, mekanisasi terkait alat, serta tidak kalah pentingnya adalah Gapoktan kita openi dari mulai pembibitan, pemupukan, sampai pascapanen," katanya.

Sementara itu, dalam panen raya kali ini juga memperkenalkan sistem dan mekanisasi panen menggunakan mesin dengan sistem sepur yang dapat mempersingkat waktu panen dan tanam.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jateng, Defransisco Dasilva Tavares mengatakan, sistem sepur yang dimaksud adalah pemakaian alat panen, pengolahan sawah, dan mesin tanam dalam satu waktu.

Cara kerjanya adalah bagian depan combine harvester yang digunakan untuk panen padi. Di belakangnya berjarak 2-3 meter sudah berjalan mesin pengolah sawah, dan drone untuk menyiram cairan dekomposer jerami untuk mempercepat mengubah menjadi bahan organik. Setelah itu ada mesin race transplanter untuk tanam padi ketika lahan sudah siap.

"Saking berurutan seperti sepur atau kereta. Ini mempersingkat waktu. Jadi panen-tanam sistem ini untuk optimalisasi lahan. Petani di sini sudah kami latih," katanya.

Sistem sepur ini dapat mempersingkat dan menghemat waktu dan lahan sampai sekitar 90 persen dibandingkan dengan pengolahan manual. Misal, untuk lahan seluas 2 hektare, pengolahan menggunakan sistem sepur dan alat mekanis tersebut bisa selesai dalam satu hari. Kalau menggunakan tenaga manual bisa sampai 10 hari.

"Ubinan juga sudah kami lakukan dengan ukuran 25 meter persegi, hasil rata-rata 6 ton per kotak ubinan. Jika maksimal, satu hektare bisa mencapai rata-rata 9,6 ton. Ini tergantung dengan irigasi, pemupukan, dan pembibitan juga," jelasnya. (-)

Editor: SetyoNt

RELATED NEWS