Tarique Rahman Resmi Dilantik Jadi PM Baru Bangladesh

SetyoNt - Rabu, 18 Februari 2026 23:06 WIB
null

Jatengaja.com - Tarique Rahman dari Partai Nasional Bangladesh (BNP) resmi dilantik sebagai Perdana Menteri Bangladesh pada 17 Februari 2026, setelah partai yang berhaluan tengah-kanan meraih kemenangan telak dalam pemilihan umum.

Sosok Tarique Rahman, 60 tahun, adalah tokoh terkemuka dari keluarga Zia yang berpengaruh. Keluarga yang memimpin salah satu dari dua partai yang telah mendominasi politik di negara itu selama beberapa dekade.

Kedua orang tua Tarique Rahman sebelumnya juga pernah menjabat sebagai pemimpin Bangladesh. Namun, jalan menuju puncak karier Rahman jauh dari mulus.

Kariernya diwarnai tuduhan nepotisme dan korupsi oleh rival politik. Selain itu juga masa pengasingan yang panjang dan pembunuhan ayahnya ketika Rahman masih remaja.

Kenaikannya menjadi ketua BNP terjadi hanya beberapa minggu sebelum Bangladesh menuju pemilu, menyusul kematian ibunya , perdana menteri wanita pertama negara itu, Khaleda Zia.

"Kedamaian, hukum, dan ketertiban harus dijaga dengan segala cara... Kami tidak akan mentolerir segala bentuk kekacauan," demikian dilaporkan Reuters mengutip pernyataan Rahman saat dilantik pada hari Selasa dilansir dari Trenasia.id.

Sebanyak 49 orang lainnya, termasuk para pemimpin berpengalaman dan wajah-wajah baru, juga mengucapkan sumpah sebagai anggota kabinet baru.

Para pejabat asing dari India, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka, serta negara-negara lain di kawasan itu, hadir dalam upacara pengambilan sumpah jabatan.

Tarique Rahman pertama kali aktif di dalam BNP pada tahun 2001, ketika ia berusia sekitar 30-an. Ini adalah awal dari masa jabatan kedua ibunya sebagai perdana menteri. Masa jabatan pertamanya berlangsung dari tahun 1991 hingga 1996.

Ayahnya, Ziaur Rahman, seorang penguasa militer yang kemudian menjadi presiden, telah tewas dalam kudeta militer pada tahun 1981. Ia adalah tokoh terkemuka dalam perjuangan kemerdekaan Bangladesh dan mendirikan BNP pada tahun 1978.

Pada tahun 2002, Rahman mengambil langkah signifikan pertamanya mengikuti jejak orang tuanya, ketika diumumkan bahwa ia telah dipromosikan ke posisi senior di dalam partai.

Pada saat itu, pihak oposisi menggambarkan kenaikannya sebagai nepotisme yang terang-terangan. Ia kemudian dikenal sebagai "orang yang bertindak keras" dan menegakkan disiplin partai.

Rahman juga pernah dituduh di masa lalu menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan keuntungan pribadi, tetapi selalu membantah tuduhan korupsi terhadapnya. Beberapa pendukungnya percaya bahwa ia dijadikan kambing hitam politik oleh lawan-lawannya.

Ia ditangkap atas tuduhan korupsi pada tahun 2007 selama pemerintahan sementara yang didukung militer dan mengatakan bahwa ia disiksa saat menunggu persidangan. Ia menghabiskan 18 bulan di penjara sebelum dibebaskan dan kemudian meninggalkan negara itu menuju London.

Laporan pada saat itu menyebutkan bahwa ia telah berjanji untuk meninggalkan dunia politik agar diizinkan meninggalkan Bangladesh.

Rahman tidak akan kembali ke negara asalnya selama 17 tahun berikutnya. Namun, meskipun tinggal di luar negeri, Rahman terus membentuk strategi dan kebijakan BNP dan telah menjadi ketua sementara partai sejak ibunya dijatuhi hukuman penjara pada tahun 2018.

Ia juga menjadi sasaran berbagai penyelidikan kriminal saat Sheikh Hasina, yang digulingkan oleh protes massa pada tahun 2004, berkuasa dan ia dijatuhi hukuman secara in absentia dalam banyak kasus Ini termasuk perannya dalam serangan granat mematikan pada sebuah demonstrasi politik pada tahun 2004. Ia kemudian dibebaskan dari semua tuduhan.

Ia akhirnya kembali ke Bangladesh pada tanggal 25 Desember 2025. Lima hari kemudian, ibunya meninggal dunia. Ibu Rahman, Khaleda Zia, adalah perdana menteri wanita pertama Bangladesh.

Pada tanggal 9 Januari, ia secara resmi menjadi pemimpin BNP. Para analis mengatakan bahwa kenaikannya ke posisi kepemimpinan di BNP adalah sesuatu yang tak terhindarkan.

"Apakah Anda berasal dari dinasti atau tidak, itu tidak relevan," katanya kepada BBC, seraya berpendapat bahwa aktivitas BNP telah begitu terhambat oleh rezim Hasina sehingga partai tersebut tidak mampu memilih pemimpin baru di luar keluarga Zia.

Yang lain mengatakan ujian sesungguhnya adalah bagaimana Rahman memimpin partainya dan negara ini ke masa depan.

"Rahman telah melihat sisi gelap politik, serta mengalami politik konflik dan balas dendam di negara ini. Apakah dia dapat menggunakan kebijaksanaan politik itu untuk beralih dari pemimpin partai menjadi pemimpin negara di masa depan masih harus dilihat," kata analis politik Mohiuddin Ahmed kepada BBC.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Amirudin Zuhri pada 18 Feb 2026

Editor: SetyoNt

RELATED NEWS