Perusahaan Ramah Lingkungan di Jateng Bakal Dapat Insentif  Pajak

Jumat, 24 Juli 2026 17:46 WIB

Penulis:SetyoNt

Editor:SetyoNt

hijau pajak.jpg
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi (tengah pakai batik) pada Jateng Green Industrial Summit 2026 di Grand Candi Hotel, Kota Semarang, Kamis 23 Juli 2026. (dok. Humas Pemprov Jateng)

Semarang, Jatengaja.com - Kawasan industri maupun perusahaan yang di Jawa Tengah yang memprioritaskan energi baru terbarukan dan konsep green economy (ekonomi hijau) akan mendapatkan insentif pajak.

Hal ini disampaikan Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ahmad Luthfi pada acara Jateng Green Industrial Summit 2026 di Grand Candi Hotel, Kota Semarang, Kamis 23 Juli 2026.

Menurut Luthfi, penerapan industri hijau bukan lagi tentang angan-angan masa depan, melainkan merupakan pilihan dan kebutuhan yang harus dilakukan saat ini. 

“Kami akan berikan insentif pajak untuk kawasan industri dan perusahaan, yang menerapkan industri hijau dan energi baru terbarukan,” kata guburnur Jateng.

Pemerintah Provinsi Jateng, lanjut Luthfi, juga sudah menetapkan industri hijau sebagai salah satu prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2025-2029.

Secara implementatif, regulasi itu diperkuat dengan Peraturan Gubernur (Pergub) Jateng No. 26 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Fasilitasi Industri Hijau.

“Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menggenjot penerapan industri yang ramah lingkungan, berkelanjutan, dan mengedepankan efisiensi energi lewat energi baru terbarukan.Dengan begitu dunia internasional akan melihat bahwa Jawa Tengah telah menerapkan green economy dan green industry,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penerapan industri hijau tentu dimulai dari hulu hingga hilir. Mulai dari industri kecil, menengah, hingga besar, karena transformasi menuju industri hijau menjadi langkah strategis agar industri di Jawa Tengah tetap mampu bersaing dalam rantai pasok global, sekaligus membuka peluang investasi yang lebih berkualitas. 

Sebab negara-negara tujuan ekspor hasil industri pengolahan dari Jawa Tengah mulai menerapkan persyaratan rendah emisi karbon.

"Saya bertemu perwakilan 41 negara Uni Eropa di Solo, mereka bilang bahwa sustainable (keberlanjutan) lingkungan, industri hijau, dan energi baru terbarukan merupakan kebutuhan," ucapnya. 

Melalui gelaran  Jateng Green Industrial Summit 2026 ini, lanjut Luthfi, diharapkan mampu mendorong transformasi industri hijau tersebut, karena mempertemukan pemerintah, dunia usaha, kawasan industri, perguruan tinggi, lembaga pembiayaan, dan berbagai pemangku kepentingan, untuk membangun ekosistem industri hijau yang lebih kuat.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah dan Institute for Essential Services Reform (IESR) tersebut juga memberikan penghargaan industri hijau Jawa Tengah. 

Sementara, CEO IESR, Fabby Tumiwa, mengatakan sudah tiga tahun ini perusahahannya bekerja sama dengan Diperindag Jawa Tengah dalam membangun industri hijau. 

Mulai penyusunan indeks siap hijau, pendampingan kepada pemerintah kabupaten/kota, membuat industrial assessment centre, dan sebagainya. 

“Kami juga melibatkan perguruan tinggi untuk membantu industri kecil dan menengah untuk menerapkan prinsip industri hijau," katanya. (-)