PKK Jateng Luncurkan Gerakan Minyak Jelantah Jadi Rupiah, 1 Liter Rp7.000

SetyoNt - Sabtu, 18 Juli 2026 08:37 WIB
Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jateng, Nawal Arafah Yasin (kiri) pada peluncuran gerakan Minyak Jelantah Jadi Rupiah di semarang. (dok. Humas Peprov jateng)

Semarang, Jatengaja.com - Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah (Jateng) meluncurkan Gerakan Minyak Jelantah Jadi Rupiah. Setiap satu liter minyak jelantah dihargai Rp7.000.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jateng, Nawal Arafah Yasin, Gerakan Minyak Jelantah Jadi Rupiah. sebagai upaya mendorong ekonomi sirkular berbasis rumah tangga, sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan kesehatan.

“Gerakan Minyak Jelantah Jadi Rupiah untuk mengubah limbah rumah tangga, menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi,” katanya pada peluncuran Kick Off Meeting Gerakan Minyak Jelantah Menjadi Rupiah, di Wisma Perdamaian Kota Semarang, Jumat 17 Juli 2026.

Setiap satu liter minyak jelantah dihargai Rp7.000. Dari nilai tersebut, Rp5.000 diberikan kepada warga dan sedangkan Rp2.000 masuk ke kas PKK desa.

Untuk mendukung gerakan ini PKK Jateng menggandeng PT BioSirkular Inovasi Indonesia dan PT Gapura Mas Lestari (GML) untuk mengembangkan program pengelolaan minyak jelantah berbasis masyarakat.

Lebih lanjut, Nawal mengatakan, pengelolaan minyak jelantah menjadi sumber daya bernilai ekonomi membutuhkan kolaborasi multipihak, terutama keterlibatan keluarga sebagai aktor utama.

"Keberhasilan pengelolaan limbah minyak jelantah ini sangat bergantung sekali pada kesadaran dan partisipasi keluarga, terutama para ibu sebagai pengelola rumah tangga," tegasnya.

Melalui program ini, kader PKK di setiap desa dan kelurahan akan menjadi ujung tombak edukasi, sekaligus koordinator pengumpulan minyak jelantah.

Gerakan ini nantinya juga diperluas melalui jaringan Posyandu yang jumlahnya mencapai 49.149 lembaga di Jawa Tengah.

"Bukan hanya PKK, nanti kita juga melibatkan Posyandu yang jumlahnya 49.149 lembaga. Ini merupakan potensi yang luar biasa untuk kita bisa membentuk ekonomi sirkular di Jawa Tengah," beber Nawal.

Konsep ekonomi sirkular ini, imbuh istri wakil gubernur Jateng ini menjadi sangat relevan, karena minyak jelantah tidak lagi dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.

Pada kesempatan itu, Nawal mencontohkan TP PKK Kabupaten Batang yang telah menerapkan program serupa. Dalam kurun waktu sekitar satu tahun sejak Juni 2025, program pengelolaan minyak jelantah menghasilkan omzet hingga Rp170 juta.

"Ini membuktikan bahwa limbah rumah tangga kini telah menjadi bagian dari transisi, menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan," imbuh istri Wakil Gubernur Jateng tersebut.

Sementara, Direktur PT BioSirkular Inovasi Indonesia Dicka Dwi Candra mengatakan, program tersebut merupakan tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman bersama TP PKK dan TP Posyandu Jateng, pada peringatan Hari Bumi, 22 April 2026 lalu.

Ia menjelaskan program dijalankan melalui empat aktivitas utama, yakni edukasi masyarakat, penyediaan titik pengumpulan minyak jelantah di desa dan kelurahan, penjemputan oleh operator di tingkat kecamatan, serta pencatatan digital dan konversi hasil penjualan ke rekening masing-masing pengelola.

“Proses konversi dilakukan melalui sistem digital, yang memungkinkan hasil penjualan dipantau secara transparan melalui aplikasi,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, TP PKK Jateng juga melakukan penandatanganan nota kesepakatan dengan PT Pegadaian (Persero) Kanwil XI Semarang, terkait sinergi program peningkatan pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga, melalui gerakan pilah sampah menjadi tabungan emas.(-)

Editor: SetyoNt

RELATED NEWS