jawa tengah
Jumat, 26 Juni 2026 09:33 WIB
Penulis:SetyoNt
Editor:SetyoNt

Semarang, Jatengaja.com - Perekonomian Jawa Tengah (Jateng) tetap stabil bahkan mengalami tumbuh di tengah ketidakpastian perekonomian global yang masih berlanjut hingga sekarang.
Tercatat pada triwulan I (Januari-Maret) tahun 2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh sebesar 5,84% (year of year /yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61% (yoy).
Demikian pula dengan inflasi Jateng pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,85% (yoy), tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1% dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,08% (yoy).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jateng M Noor Nugroho mengungkapkan, capaian ini berkat adanya sinergitas yang kuat antara Bank Indonesia, Pemerintah Daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pelaku usaha, perbankan, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan
“Untuk pengendalian inflasi daerah, Bank Indonesia bersama TPID terus memperkuat implementasi strategi pengendalian inflasi melalui kerangka 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif),” katanya dalam media briefing di Kantor BI Jateng di Semarang, Kamis 25 Juni 2026.
Lebih lanjut, ia menjelaskan berbagai program strategis terus diperkuat, antara lain penyelenggaraan Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak di 35 kabupaten/kota dan GPM Mandiri di 32 kabupaten/kota
Penguatan Kerja Sama Antar Daerah, optimalisasi Jateng Agro Berdikari (JTAB) sebagai offtaker, serta pengembangan outlet pangan.
Bank Indonesia juga turut mendukung peningkatan produktivitas pertanian melalui pemanfaatan teknologi biosaline dan biochar, pengembangan kelompok unggulan komoditas pangan strategis, hingga dukungan terhadap program swasembada bawang putih di Kabupaten Magelang.
Sejalan dengan bauran kebijakan Bank Indonesia yang diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi, penguatan sektor UMKM terus dilakukan melalui peningkatan kapasitas usaha, penguatan kelembagaan, serta perluasan akses pembiayaan dan pasar.
“Hingga Juni 2026 telah memfasilitasi berbagai Business Matching pembiayaan pada berbagai event seperti BISAID, CJFACE, dan lain-lain senilai Rp9,47 miliar,” ujar Noor.
Selain itu juga fasilitasi partisipasi UMKM pada berbagai pameran nasional maupun internasional, antara lain UMKM Grande, JIF-BW, PADI, IFEX, dan CJFACE dengan menghasilkan potensi transaksi sebesar Rp23,4 miliar.
“Diigitalisasi transaksi di Jawa Tengah terus menunjukkan perkembangan yang positif. Hingga Juni 2026, jumlah pengguna QRIS telah mencapai 8,72 juta pengguna dengan 4,65 juta merchant,” katanya.
Noor menambahkan Bank Indonesia terus memperkuat aspek pelindungan konsumen melalui edukasi, pengawasan, dan koordinasi bersama OJK, Kementerian Komunikasi dan Digital, Kepolisian Daerah Jawa Tengah, serta anggota SATGAS PASTI dalam mencegah berbagai aktivitas keuangan ilegal, termasuk penyalahgunaan sistem pembayaran.
“Kami juga terus memperkuat transparansi dan komunikasi kebijakan kepada masyarakat melalui berbagai program literasi kebanksentralan seperti BI Mengajar, kuliah umum di perguruan tinggi, kunjungan sekolah, serta pemanfaatan berbagai kanal media sosial yang terbuka bagi masyarakat,” jelasnya.
Ke depan, imbuh Noor, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas harga, mendorong transformasi ekonomi daerah, memperluas digitalisasi sistem pembayaran, memperkuat sektor UMKM, serta meningkatkan literasi ekonomi masyarakat.
“Sinergitas ini diharapkan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” harapnya. (-)
Bagikan