Triwulan II 2026, Ekonomi Jateng Tumbuh 5,71 Persen Lebih Tinggi dari Nasional

SetyoNt - Jumat, 14 Agustus 2026 07:32 WIB
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, M. Noor Nugroho pada Media Briefing di Hotel Amandaru Pekalongan, Kamis 13 Agustus 2026. (Jatengaja.com/Totok)

Pekalongan, Jatengaja.com - Di tengah ketidakpastian global, perekonomian Jawa Tengah pada triwulan II (April-Juni ) 2026 masih tetap tumbuh kuat sebesar 5,71% (year on year/yoy).

Pertumbunan ini tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi provinsi di Pulau Jawa yang sebesar 5,65% (yoy) dan nasional sebesar 5,29% (yoy).

Kinerja tersebut didukung oleh tetap kuatnya permintaan domestik, berlanjutnya investasi, serta kinerja sektor utama daerah yang terjaga.

Hal ini disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah, M. Noor Nugroho pada Media Briefing yang diikuti puluhan wartawan di Hotel Amandaru Pekalongan, Kamis 13 Agustus 2026.

Acara dihadiri Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah Andi Reina Sari, Kepala Kantor Perwakilan BI Tegal, Bimala, serta kepala kantor perwakilan BI Solo dan Purwokerta secara daring.

M Noor Nugroho menyatakan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah (Jateng) dari sisi permintaan yaitu konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,31% (yoy), ditopang mobilitas masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha dan libur panjang.

“Investasi juga tumbuh kuat sebesar 8,84 persen (yoy) seiring berlanjutnya pembangunan kawasan industri dan Proyek Strategis Nasional, sementara konsumsi pemerintah juga masih tumbuh sebesar 15,69 persen (yoy),” katanya.

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan terutama ditopang oleh industri pengolahan sebesar 5,03% (yoy), perdagangan 7,52% (yoy), serta penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 12,80% (yoy).

“Keberhasilan menjaga stabilitas harga tercermin pada inflasi Jawa Tengah pada Juli 2026 yang tercatat sebesar 2,60 persen (yoy),” ujar Nugroho.

Pencapaian ini berada di dalam rentang sasaran 2,5±1% (yoy) dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional 2,88% (yoy).

Bank Indonesia bersama Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat provinsi maupun seluruh 35 kota/kabupaten se-Jawa Tengah terus berkoordinasi dan bersinergi memperkuat pengendalian inflasi secara end-to-end, terutama pada komoditas pangan strategis.

Implementasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) diarahkan tidak hanya untuk merespons gejolak harga dalam jangka pendek, tetapi juga memperkuat struktur pasokan dan distribusi.

Hal ini dilakukan melalui peningkatan produktivitas khususnya komoditas pangan strategis, perluasan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) antara wilayah surplus dan defisit, penguatan outlet pangan dan BUMD sebagai offtaker, serta penguatan dan digitalisasi data untuk early warning system.

Menurut Nugroho, di tengah capaian tersebut, berbagai risiko tetap perlu dicermati. Hasil liaison Bank Indonesia kepada pelaku usaha pada triwulan II 2026 menunjukkan bahwa pelaku usaha masih optimistis terhadap prospek ke depan.

“Meski demikian, masih diperlukan perhatian terhadap kenaikan biaya produksi, pembiayaan, keandalan energi, serta dinamika perdagangan global,” katanya.

Karena itu, penguatan permintaan domestik, keberlanjutan investasi, serta penciptaan iklim usaha dan pembiayaan yang kondusif menjadi penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.

Berbagai upaya untuk menjaga momentum pertumbuhan tersebut dilaksanakan KPw BI se-Jateng baik berupa fasilitasi penyediaan data dan informasi maupun asesmen/riset ekonomi untuk memberikan rekomendasi dan implementasi kebijakan. (-)

Editor: SetyoNt

RELATED NEWS