Singapura
Kamis, 26 Maret 2026 22:25 WIB
Penulis:SetyoNt
Editor:SetyoNt

Jatengaja.com - Jurnalis Australian Broadcasting Corporation (ABC), termasuk pembawa acara Late Night Live David Marr dan presenter The Radio National Hour Fran Kelly melakukan aksi mogok kerja selama 24 jam, menuntut kenaikan gaji dari lembaga penyiaran publik tersebut, Rabu 25 Maret 2026 waktu setempat.
Aksi mogok kerja ini berdampak luas, karena banyak layanan ABC beralih menyiarkan program dari BBC, setelah lebih dari 2.000 staf menghentikan pekerjaan, dikutip dari Trenasia.id, yang melansr dari Sydney Morning Herald, Kamis 26 Maret 2026.
Pemogokan ini dilakukan sebagai bentuk protes atas kondisi kerja yang dinilai buruk serta tawaran kenaikan gaji sebesar 10% dalam tiga tahun yang dianggap tidak memadai. Ini menjadi aksi mogok pertama di lingkungan ABC dalam 20 tahun.
Fran Kelly, sosok berpengaruh dalam jurnalisme politik yang selama 16 tahun memandu RN Breakfast, menilai ABC telah membiarkan para pekerjanya menghadapi tekanan biaya hidup dengan gaji yang tidak mencukupi.
“Saya telah melihat terlalu banyak jurnalis luar biasa, jurnalis berdedikasi, produser berdedikasi meninggalkan (ABC) bukan karena mereka ingin, tetapi karena mereka terpaksa. Mereka harus menjalani hidup dan menghidupi keluarga mereka, dan itulah yang harus mereka lakukan,” kata Kelly di hadapan para staf dalam aksi di luar kantor ABC di Sydney.
Dalam aksi tersebut, Kelly didampingi Presiden serikat pekerja media dan jurnalis ABC, Michael Slezak. David Marr, terlihat hadir bersama reporter Four Corners, Angus Grigg. Sementara di Melbourne, ratusan staf berkumpul di depan kantor untuk menyuarakan tuntutan serikat.
Reporter bisnis ABC, Dan Ziffer, menyoroti ketidakpastian kerja di industri tersebut. Ia mengatakan, dalam beberapa kasus, jurnalis bisa saja memenangkan penghargaan pada satu hari, tetapi ditolak pengajuan kredit kendaraan pada hari berikutnya.
Sementara, Direktur Pelaksana ABC Hugh Marks mengatakan kepada pembawa acara ABC Radio Sydney, Hamish Macdonald, bahwa situasi global seperti konflik di Timur Tengah atau krisis bahan bakar dapat menjadi alasan untuk meminta staf kembali bekerja di tengah aksi mogok.
Marks, yang sebelumnya menjabat sebagai CEO di Nine, juga menyatakan keinginannya agar Fair Work Commission turun tangan menyelesaikan perselisihan. Namun, sejumlah staf menilai langkah tersebut sebagai sinyal manajemen tidak bersedia meningkatkan tawaran gaji. Komisi tersebut baru dapat turun tangan jika negosiasi dinyatakan buntu setelah sembilan bulan. Opsi ini diperkirakan baru tersedia bagi ABC pada Juli mendatang.
Rohan Doyle, mitra di bidang ketenagakerjaan dan hubungan industrial di Herbert Smith Freehills Kramer, mengatakan situasi ini berpotensi memicu aksi mogok bergilir selama berbulan-bulan jika tidak ada kesepakatan.
“Aksi industrial dapat dilakukan hingga deklarasi perundingan yang sulit dicapai dikeluarkan, dan biasanya Anda akan melihat serikat pekerja menggunakan hak mereka dan memberikan tekanan yang sah kepada pengusaha [sampai saat itu] dengan harapan mereka dapat memperoleh beberapa konsesi,” ujarnya.
Selama aksi berlangsung, stasiun radio ABC di Melbourne dan Sydney mengganti siaran berita reguler dengan pesan pra-rekaman yang menjelaskan adanya gangguan, sebelum memutar lagu hit 1980-an, Waiting for a Star to Fall.
“Karena aksi mogok kerja, kami tidak dapat menyiarkan program Anda seperti biasa. Kami mohon maaf atas gangguan ini. Program radio ABC reguler akan dilanjutkan sesegera mungkin,” demikian isi pesan tersebut.
Pihak ABC membantah angka jumlah peserta mogok yang disampaikan serikat. Di televisi, presenter Gemma Veness telah memperingatkan pemirsa bahwa akan terjadi gangguan siaran. Setelah pukul 11.00, tayangan dialihkan ke BBC World News America. Program berita utama seperti buletin pukul 19.00 dan 7.30 juga tidak ditayangkan pada Rabu malam.
Seandainya bukan karena BBC , saluran berita TV ABC mungkin hanya akan menampilkan suara statis yang mengganggu. Mulai pukul 11 pagi, siaran tersebut hampir sepenuhnya bergantung pada stasiun penyiaran Inggris – kecuali untuk pidato Tim Ayres di National Press Club, tayangan ulang Planet America, dan siaran panjang parlemen federal.
Para staf ABC menuntut perbaikan upah, kondisi kerja, serta jaminan keamanan kerja yang lebih baik. Di sisi lain, manajemen ABC mengklaim tawaran kenaikan gaji sebesar 10% dalam tiga tahun sudah adil, mengingat keterbatasan pendanaan. ABC juga menyebut rata-rata masa kerja pegawainya tergolong panjang.
Sebagai lembaga penyiaran publik, ABC menerima lebih dari US$1,1 miliar dana pajak setiap tahunnya. Dari sisi politik, juru bicara komunikasi oposisi Sarah Henderson mengkritik aksi mogok tersebut. Dalam konferensi pers di luar biro ABC di Gedung Parlemen, ia menyebut keputusan itu sebagai “aib yang mutlak”.
“Tidak pernah ada waktu yang lebih penting di negara ini di mana kita membutuhkan jurnalis ABC dan pembuat konten lainnya untuk berada di lapangan, memberi informasi kepada warga Australia. Kita menghadapi krisis bahan bakar. Kita menghadapi krisis biaya hidup,” ujarnya.
Henderson menambahkan, meskipun ia mendukung hak pekerja untuk menyuarakan tuntutan, waktu pelaksanaan aksi dinilai tidak tepat. Kepada The Guardian Australia, seorang pembaca berita pagi di ABC, Jack James, mengatakan pemogokan 24 jam itu memang harus dilakukan.
Dia mengatakan itu adalah hari di mana semua jurnalis dan staf ABC dapat menuntaskan aspirasinya setelah berjuang selama berbulan-bulan untuk kondisi yang lebih baik. “Satu-satunya alasan mengapa ABC terus ada adalah karena kita semua bekerja sangat keras. Memiliki momen di mana kita dapat menghentikan itu dan benar-benar berbicara untuk diri kita sendiri tanpa takut akan konsekuensi adalah hal yang sangat penting bagi kami," ujarnya. (-)
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 26 Mar 2026
Bagikan