jawa tengah
Kamis, 30 Juli 2026 23:38 WIB
Penulis:SetyoNt
Editor:SetyoNt

Bali, Jatengaja.com - Konsep pengelolaan pariwisata global telah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan, tidak lagi sebatas hanya berdarkan banyaknya jumlah kunjungan wisatawan.
Pariwisata modern sekarang berfokus pada kualitas pengalaman, keberlanjutan lingkungan, serta pelestarian akar budaya lokal. Sehingga sinergitas antara pariwisata berkelanjutan dan ekonomi hijau menjadi fondasi utama dalam menciptakan destinasi wisata yang tangguh.
Melalui pendekatan keberlanjutan, maka sektor pariwisata mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem dan adat istiadat.
Sudah saatnya pengelolaan pariwisata di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) juga mulai mengarah kepada pelestarian ekosistem dan adat istiadat masyarakat lokal.
Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jateng bisa belajar dari Desa Wisata Penglipuran, Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kebupaten Bangli, Provinsi Bali,
Desa Wisata Penglipurn merupkan contoh sukses penerapian pariwisata berbasis lingkungan dengan pelestarian ekosistem dan adat budaya. Destinasi wisata ini terkenal luas hingga internasional.
Kepala Badan Usaha Desa Adat Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, menjelaskan yang dikenalkan kepada pengunjung hanya semangat warga yang menjaga warisan tradisi dan adat budaya secara turun-temurun.
Komitmen warga tersebut mendapat pengakuan dari pemerintah kabupaten Bangli dengan menetapkan Desa Penglipuran pada tahun 1993 sebagai objek wisata.
“Sejak resmi menjadi desa wisata, mulai dikunjungi wisatawan wisatawan dalam negeri, hingga mancanegara yang tertarik dengan Desa Wisata Penglipuran,” katanya kepada wartawan peserta Capacity Bulding yang diadakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Rabu 29 Juli 2026.
Menurut Wayan, jumlah warga Penglipuran sekitar 285 kepala keluarga atau 1.200 jiwa. Namun, kawasan inti wisata dijaga ketat hanya terdiri dari 76 pekarangan utama (Desa Pengarep) yang diwakili oleh 78 anggota dewan desa.
“Warga sampai sekarang menjaga kebersihan lingkungan, serta menjaga keberadaan rumah adat, bersikap ramah kepada setiap orang yang datang,” ujar Wayan.
Saat ini jumlah pengunjung saat ini di angka 2.000 orang hingga 2.500 orang per hari. Jumlah pengunjung dibatasi untuk mencegah kerusakan lingkungan akibat beban kunjungan berlebih.
Ribuan pengunjung rela membeli tiket masuk senilai Rp25.000 untuk pengunjung dalam negeri dewasa dan Rp15.000 untuk anak-anak, serta Rp50.000 untuk pengunjung luar negeri dewasa dan Rp30.000 untuk anak-anak.
Seluruh pendapatan tiket masuk disetorkan ke Pemerintah Kebupaten Bangli, namun sebesar 60% diikembalikan ke desa Penglipuran untuk operasional desa, subsidi perbaikan rumah adat warga, serta alokasi insentif sosial dan pendidikan.
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, Endro Wicaksa, dalam kesempatan sama menyatakan konsep yang diterapkan Desa Wisata Penglipuran sangat luar biasa, serta akan diterapkan di Jawa Tengah.
“Sebenarnya Jawa Tengah sudah ada yang seperti Desa Wisata Penglipuran, tingga dikembangkan secara bertahap,” katanya.
Menurutnya, tantangan utama adalah memelihara kultur budaya masyarakat setempat, karena sebagian besar daerah masih berada pada tahap perlindungan dan konservasi budaya.
Ia menyebutkan saat ini Jawa Tengah memiliki sekitar 899 desa wisata yang terbagi dalam kategori rintisan, berkembang, dan maju. Sebagian besar desa wisata di wilayah ini masih berbasis pada keindahan alam dan potensi rintisan.
“Kami akan mendorong kultur budaya masyarakat agar mampu mengelola warisan budaya menjadi seni pertunjukan atau atraksi tanpa merusak nilainya,” ujar Endro.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menekankan bahwa pengembangan desa wisata membutuhkan waktu dan pendampingan berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas SDM serta stimulus kemitraan CSR.
Sementara, Peneliti Ekonomi Senior Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Agni Alam Awirya, menyatakan pentingnya mendorong pariwisata sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru.
Hal ini memungkinkan karena, pariwisata membuka lapangan usaha makananan dan minuman yang menjadikannya sumber pertumbuhan ekonomi baru yang potensial.
“Salah satu tantangan mendasar di wilayah Jawa Tengah adalah masih rendahnya perjalanan harian wisatawan yang rata-rata masih singkat kurang dari satu pekan,” katanya.
Untuk memaksimalkan dampak ekonomi perlu kolaborasi lintas pemerintah daerah dan penataan paket wisata terpadu menjadi kunci agar wisatawan, terutama wisatawan mancanegara agar dapat memperpanjang masa tinggal hingga satu pekan. (-)
Bagikan