Intip Gurita Bisnis Bos Alfamart, Djoko Susanto dari Logistik hingga Properti

SetyoNt - Jumat, 24 Juli 2026 22:19 WIB
null

Jatengaja.com - Siapa yang tak kenal dengan Alfamart, yang keberadaannya tersebar di seluruh pelosok tanah air. Sosok di balik keberhasilan minimarket tersebut adalah Djoko Susanto.

Di balik kesuksesan bisnis ritel tersebut, konglomerat yang lahir dengan nama Kwok Kwie Fo ini membangun kerajaan usaha yang jauh lebih luas, mulai dari minimarket, convenience store, logistik, properti, pendidikan hingga produk private label.

Dilansir dari Trenasia.id, jaringan Jatengaja.com, Djoko Susanto melalui PT Sigmantara Alfindo (AlfaCorp) mengendalikan sekitar 53,19% saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), emiten pengelola Alfamart yang menjadi salah satu perusahaan ritel terbesar di Indonesia.

Djoko Susanto masuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia. Per Maret 2026, nilai kekayaannya diperkirakan berada di kisaran Rp42,7 triliun hingga Rp57,96 triliun berdasarkan berbagai estimasi, termasuk Forbes.

Namun, Alfamart hanyalah satu bagian dari gurita bisnis yang dibangun selama puluhan tahun. Imperium bisnis Djoko Susanto berkembang secara terintegrasi. Tidak hanya menguasai jaringan minimarket, tetapi juga mengendalikan rantai pasok, distribusi hingga sektor pendukung lainnya.

Berikut gurita bisnis yang berada dalam kelompok usaha Djoko Susanto:

1. Alfamart (PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk/AMRT)

Alfamart merupakan tulang punggung kerajaan bisnis Djoko Susanto sekaligus penyumbang pendapatan terbesar grup.

Perusahaan ini mengoperasikan jaringan minimarket modern yang tersebar di hampir seluruh Indonesia dengan lebih dari 21.120 gerai hingga akhir 2025 serta mempekerjakan sekitar 170.000 karyawan.

Selain menjual kebutuhan pokok, Alfamart juga berkembang menjadi pusat pembayaran digital, layanan keuangan, hingga distribusi berbagai produk UMKM.

Sebagai perusahaan inti, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk terus mencatatkan pertumbuhan bisnis yang relatif solid.

Pendapatan perusahaan menunjukkan tren meningkat dalam dua tahun terakhir.

  • 2024: Rp118,22 triliun, tumbuh 10,54% secara tahunan.
  • 2025: Rp126,73 triliun, meningkat 7,19% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kontributor terbesar masih berasal dari penjualan makanan yang mencapai Rp89,62 triliun sepanjang 2025.

Menariknya, wilayah di luar Pulau Jawa kini menjadi penyumbang pendapatan terbesar dengan nilai Rp49,64 triliun, menunjukkan ekspansi perusahaan mulai menghasilkan pertumbuhan yang lebih merata secara geografis.

Kinerja laba AMRT mengalami dinamika dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023 perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp3,40 triliun. Namun pada 2024 laba turun menjadi Rp3,14 triliun atau melemah sekitar 7,5% secara tahunan..

Meski demikian, kondisi mulai membaik pada 2025. Sepanjang semester I-2025 laba bersih mencapai Rp1,88 triliun, meningkat 4,98% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara sepanjang tahun buku 2025, laba bersih berhasil pulih menjadi Rp3,41 triliun, atau naik 8,34% secara tahunan berkat efisiensi operasional dan pertumbuhan penjualan, dengan Total aset meningkat menjadi Rp42,57 triliun.

Peningkatan aset tersebut menjadi modal penting bagi perusahaan untuk melanjutkan ekspansi jaringan ritelnya. Saat total jaringan Alfamart menjadi 21.120 gerai di seluruh Indonesia. Perusahaan juga terus memperkuat ekosistem digital melalui aplikasi Alfagift yang telah memiliki sekitar 29 juta anggota.

Ekspansi grup tidak berhenti di pasar domestik. Melalui kerja sama internasional, Alfamart kini telah memiliki lebih dari 2.000 gerai di Filipina. Perusahaan juga mulai masuk ke Bangladesh melalui skema joint venture bersama Kazi Farms Group dan Mitsubishi Corporation.

2. Alfamidi (PT Midi Utama Indonesia Tbk/MIDI)

Selain Alfamart, Djoko Susanto juga mengendalikan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) yang mengoperasikan jaringan Alfamidi.

Konsep Alfamidi berbeda dengan Alfamart karena memiliki ukuran toko yang lebih besar dengan pilihan produk lebih lengkap, termasuk produk segar seperti buah, sayur, dan daging.

Segmen ini menyasar konsumen yang membutuhkan pengalaman belanja lebih lengkap dibanding minimarket konvensional.

Pada semester I-2025, Alfamidi membukukan laba bersih sebesar Rp390,51 miliar, meningkat 20,27% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

3. Lawson Indonesia

Ekspansi berikutnya dilakukan melalui akuisisi Lawson Indonesia. Pada 2023, Grup Alfamart mengakuisisi bisnis convenience store asal Jepang tersebut dengan nilai sekitar Rp200 miliar.

Akuisisi ini memperkuat posisi grup di pasar convenience store yang menawarkan makanan siap saji, minuman, hingga berbagai kebutuhan harian.

4. PT Trimitra Trans Persada Tbk (BLOG)

Untuk memperkuat rantai pasok, Djoko Susanto juga memiliki bisnis logistik melalui PT Trimitra Trans Persada Tbk (BLOG). Perusahaan ini menyediakan layanan logistik terintegrasi, mulai dari pergudangan, distribusi hingga transportasi barang.

BLOG resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada Juli 2025 dan memperoleh dana IPO sebesar Rp140,81 miliar. Dana tersebut digunakan untuk membangun gudang baru di berbagai wilayah diantaranya, Pontianak, Makassar, Tangerang, Bandung, dan Boyolali.

Perusahaan logistik ini mencatat laba bersih Rp71,08 miliar pada semester I-2025 atau tumbuh 36,57% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut didukung meningkatnya kebutuhan distribusi logistik seiring ekspansi jaringan ritel Grup Alfamart.

5. Alfaland Group

Di luar sektor ritel, Djoko Susanto juga mengembangkan bisnis properti melalui Alfaland Group. Perusahaan ini bergerak dalam pengembangan berbagai proyek properti sebagai bagian dari diversifikasi usaha grup

6. Yayasan Pendidikan Bunda Mulia

Djoko Susanto juga memiliki kiprah di sektor pendidikan melalui Yayasan Pendidikan Bunda Mulia. Keberadaan yayasan ini menjadi salah satu bentuk ekspansi grup di luar bisnis komersial.

7. Produk Private Label

Grup Alfamart juga mengembangkan berbagai produk merek sendiri (house brand/private label). Strategi ini bertujuan meningkatkan margin keuntungan sekaligus memperkuat loyalitas pelanggan melalui produk dengan harga lebih kompetitif.

Model bisnis yang saling terhubung tersebut membuat Grup Alfamart tidak hanya bergantung pada penjualan minimarket, tetapi juga memiliki dukungan logistik, distribusi, ekspansi internasional, hingga diversifikasi usaha.

Dengan jaringan lebih dari 21 ribu gerai, jutaan pelanggan digital, dan ekspansi ke pasar internasional, imperium Djoko Susanto masih menjadi salah satu kekuatan utama dalam industri ritel nasional. (-)

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 24 Jul 2026

Editor: SetyoNt

RELATED NEWS