Selasa, 06 Oktober 2026 20:26 WIB
Penulis:SetyoNt
Editor:SetyoNt

Salatiga, Jatengaja.com - Kelangkaan pupuk yang memicu tingginya biaya produksi serta menyulitkan petani dalam menjaga produktivitas pangan melatarbelakangi lahirnya inovasi beras pratanak (parboiled rice) Low Glycemic Index (LGI) dengan merek Q-Tha.
Produk beras sehat ini dikembangkan melalui kolaborasi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (FPIK UNDIP) bersama Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) Salatiga.
Pembina SPPQT, Bahruddin, menjelaskan inovasi beras pratanak Q-Tha diupayakan untuk dapat mengungkit Harga Eceran Tertinggi (HET) gabah di tingkat petani.
“Melalui peningkatan nilai gizi, beras yang dihasilkan memperoleh penetapan harga yang lebih baik dari konsumen,” katanya pada Workshop Business Plan Rumah Produksi yang diselenggarakan FPIK UNDIP beberapa waktu lalu.
Beras pratanak Q-Tha diproses sejak gabah dalam kondisi basah (kering panen) melalui pencucian dan perendaman (hydrating) selama beberapa jam. Selanjutnya, gabah dikukus dengan suhu tinggi (steaming).
Proses pengukusan ini melarutkan residu pupuk maupun racun kimia sintetis, sekaligus memaksa nutrisi (super food) dari kulit padi meresap masuk ke dalam jaringan bernutrisi di dalam biji beras (endosperma).
Setelah itu, beras dikeringkan dan digiling hingga menghasilkan beras parboiled. Proses pengolahan unik tersebut menghasilkan beras dengan kandungan gizi yang jauh lebih tinggi.
Tahapan perendaman, pengukusan, dan pengeringan memaksa vitamin B, zat besi, dan kalsium dari kulit padi masuk ke dalam biji beras, sehingga melebihi kadar nutrisi beras putih biasa.
Selain itu, beras ini memiliki indeks glikemik yang lebih rendah (Low Glycemic Index), sehingga lebih lambat meningkatkan kadar gula darah dan menjadikannya pilihan tepat bagi penderita diabetes maupun masyarakat yang sedang mengelola berat badan.
Dari segi kuliner dan daya simpan, beras parboiled Q-Tha memiliki tekstur padat, terpisah, dan tidak lengket setelah dimasak, sehingga sangat ideal untuk olahan seperti nasi goreng atau nasi kebuli.
Tingginya kandungan serat serta perubahan struktur pati di dalamnya membuat beras ini lebih mudah dicerna oleh tubuh.
Di samping itu, proses produksi mampu menonaktifkan enzim pemecah pati, membuat beras lebih tahan lama saat disimpan serta tidak menggumpal ketika dipanaskan kembali.
Pendampingan FPIK UNDIP terhadap Rumah Produksi Kelompok Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT) dirancang secara terstruktur dan berkelanjutan.
Berawal pada tahun 2025, FPIK UNDIP memberikan pembekalan dasar kelayakan usaha Tahap I serta penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) untuk menjamin dasar produksi pangan yang aman dan ekologis.
Pada awal tahun 2026, pendampingan berlanjut ke Studi Kelayakan Usaha Lanjutan (Tahap II) melalui dokumentasi perancangan usaha (business plan) berbasis green and blue farming.
Dari serangkaian workshop pada Maret, April, hingga Mei 2026, berhasil didokumentasikan lima produk unggulan, yakni Parboiled Rice LGI, Integrated Farming (susu sehat dan rumput Gama Umami), Gulanas (gula LGI), empon-empon, serta budidaya ikan Nila Saline (Oreochromis niloticus).
Sebagai langkah konkret, FPIK UNDIP menggelar workshop business plan pada awal Juli 2026. Langkah ini kemudian ditindaklanjuti dengan penyusunan work plan pada 19 September 2026 yang fokus pada pengembangan dan operasionalisasi lima produk start-up tersebut.
Pengembangan inovasi ini juga menarik perhatian Prof Y. Sardjono dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang menjajaki kerja sama hilirisasi produk melalui pengembangan pilot plant obat herbal berbasis kulit jeruk japan yang dibahas pada 2 Oktober 2026 di Yogyakarta.
Untuk menaungi seluruh proyek pengembangan usaha ini, FPIK UNDIP dan SPPQT sepakat mendirikan PT Agro Tekno Lestari sebagai holding company pada 3 Oktober 2026.
Ketua Tim Pengabdian FPIK UNDIP & Partner Pembinaan Rumah Produksi Qaryah Thayyibah, Prof. Dr. Ir. Nur Taufiq-Spj, M.App.Sc, menyatakan melalui pendampingan di Rumah Produksi Qaryah Thayyibah, mendorong penerapan teknologi beras parboiled dengan Low Glycemic Index (LGI) agar mampu menghasilkan beras sehat bernutrisi tinggi, sekaligus meningkatkan taraf ekonomi para petani binaan secara berkelanjutan.
“Dukungan dari Rektor Undip Prof Suharnomo menjadi semangat bagi kami untuk terus mengawal pembinaan di Qaryah Thayyibah. FPIK UNDIP siap memastikan proses produksi beras parboiled LGI ini menjaga standar kualitas tinggi, efisiensi biaya, dan memberikan nilai tambah yang maksimal bagi petani serta masyarakat luas,” ujarnya. (-)
Bagikan