BI Jateng Gelar OASE 2026 untuk Perkuat Literasi dan Ekosistem Syariah

Selasa, 28 Juli 2026 23:08 WIB

Penulis:SetyoNt

Editor:SetyoNt

bi.jpg
Kepala Kantor Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah M. Noor Nugroho dan Pimpinan Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan, Dr KH. Fadlolan Musyaffa', Lc, MA, (tiga dan empat dari kiri) membuka OASE di Semarang, Selasa 28 Juli 2026 . (Jatengaja.com/Totok)

Semarang, Jatengaja.com - Guna memperkuat literasi serta memperluas ekosistem ekonomi dan keuangan syariah, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan Olimpiade Aksi dan Syiar Ekonomi Syariah (OASE) 2026.

Gelaran OASE, yang semula bernama Festival Santri Jawa Tengah (FITRAH) berlangsung  di kompleks Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan, Kota Semarang, Selasa-Jumat, 28-30 Juli 2026. 

OASE hadir sebagai wadah kolaborasi yang tidak hanya mempertemukan santri, namun juga pelajar, mahasiswa, komunitas kreatif, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mengakselerasi pengembangan ekonomi syariah yang inklusif dan berkelanjutan. 

Pembukaan  OASE 2026 dilakukan Kepala Kantor Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah M. Noor Nugroho didampingi Pimpinan Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan, Dr KH. Fadlolan Musyaffa', Lc, MA, Selasa 28 Juli 2026 .

Pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan,  Fadlolan Musyaffa' menyatakan OASE menjadi penetrasi Bank Indonesia untuk  pemberdayaan ekonomi umat melalui pesantren.

”Pondok Pesantren itu miniatur negara kecil, karena para santri berasal dari berbagai daerah di Tanah Air seperti Papua, Kalimantan, Sulewasi, Jawa,  dan lainnya,” katanya.  

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah menegaskan penguatan literasi ekonomi syariah merupakan bagian dari upaya mencetak generasi yang religius, produktif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman

Sementara, Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah, M Noor Nugroho menyatakan OASE menjadi ruang kolaborasi bagi berbagai kalangan untuk memperkuat ekonomi syariah yang inklusif dan berdampak nyata bagi masyarakat. 

”OASE membuka ruang yang lebih luas bagi santri, mahasiswa, pelajar, komunitas kreatif, serta masyarakat umum untuk bersama-sama menjadi bagian dari pengembangan ekonomi syariah,” katanya. 

Ia berharap melalui OASE dengan berbagai kegiatan edukasi, pemberdayaan UMKM halal, pengembangan industri halal, ekonomi pesantren, digitalisasi sistem pembayaran, hingga literasi keuangan syariah masyarakat dapat semakin mengenal dan merasakan manfaat nyata ekonomi syariah dalam kehidupan sehari-hari.

Nugroho menambahkan OASE Jawa Tengah 2026 menghadirkan enam kompetisi yang merepresentasikan berbagai aspek pengembangan ekonomi syariah, mulai dari seni budaya Islam (Hadroh), literasi dan dakwah ekonomi syariah (Dakwah Ekonomi Syariah dan Musabaqah Keilmuan Santri).

Penguatan filantropi Islam (ZISWAF Unggulan), pengembangan industri halal (Halal Chef Competition), hingga kreativitas digital melalui pembuatan Konten Ekonomi Syariah. 

Selain itu, guna mengembangkan ekosistem komoditas pangan halal dan berkelanjutan akan diselenggarakan workshop kemandirian pesantren melalui pengelolaan pertanian organik secara terintegrasi dengan narasumber dari Yoso Farm, Klaten. 

”Workshop ini menjadi bagian dari upaya mendorong kemandirian ekonomi pesantren melalui pengembangan sektor pertanian organik yang terintegrasi, sehingga pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga mampu mengembangkan usaha produktif berbasis halal dan berkelanjutan,” ujarnya.

Untuk meningkatkan literasi masyarakat terhadap tugas dan fungsi Bank Indonesia di daerah, OASE Jawa Tengah 2026 juga menyediakan booth edukasi. 

OASE 2026 menjadi salah satu rangkaian penguatan ekosistem ekonomi syariah di Jawa Tengah dan merupakan road to Festival Jateng Syariah (FAJAR) 2026 yang akan diselenggarakan pada 69 Agustus mendatang di Queen City Mall Semarang. (-)