Tentukan Bobot Sapi Cukup Gunakan Pita Saja, Ini Caranya

SetyoNt - Kamis, 03 September 2026 21:39 WIB
Tim Ekspedisi Patriot 3 Undip mengenalkan cara menentukan bobot sapi dengan menggunakan alat sederhana pita kepada peternak di Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua. (dok. Humas Undip)

Papua, Jatengaja.com - Tim Ekspedisi Patriot 3 Universitas Diponegoro (Undip) mengenalkan cara menentukan bobot sapi dengan menggunakan alat sederhana pita kepada peternak di Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua.

Langkah ini untuk mengatasi keterbatasan fasilitas timbangan ternak di pelosok Papua, supaya para peternakan bisa menentukan berat badan atau bobot sapi miliknya.

Untuk menentukan berat badan sapi, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 3 UNDIP yang diketuai Ir Daud Samsudewa, S.Pt, M.Si, Ph.D, IPM, cukup berbekal pita ukur meteran.

Caranya pita ukur cukup dilingkarkan pada bagian dada sapi, tepat di belakang bahu saat posisi berdiri. Angka hasil pengukuran lingkar dada tersebut kemudian dimasukkan ke dalam rumus perhitungan khusus untuk mengestimasi bobot badan ternak.

Pengitungannya yaitu bobot badan (kg) = (lingkar dada dalam cm + 22) pangkat dua, dibagi 100. Sebagai contoh, sapi dengan lingkar dada 180 cm ditaksir memiliki bobot sekitar 408 kg.

Menurut Daud, berdasarkan hasil observasi dan interaksi langsung selama tiga pekan di lapangan, TEP 3 UNDIP mendapati fakta peternak setempat selama ini hanya mengandalkan perkiraan visual atau insting berbasis pengalaman.

“Padahal, kepastian data bobot ternak memegang peranan vital, yaitu membantu pemantauan laju pertumbuhan sapi secara berkala sekaligus menjadi penentu harga jual yang ideal di pasaran,” ujarnya.

Ia menambahkan cara ini sudah lama dipakai peternak di berbagai daerah di Indonesia sebagai solusi praktis saat timbangan tidak tersedia dan kini coba diperkenalkan tim kepada peternak di Senggi sebagai bagian dari pendampingan awal.

Sebagai langkah awal, TEP 3 UNDIP melakukan sampling pengukuran terhadap lima ekor sapi milik empat peternak berbeda di Senggi. Hasilnya memberikan peta gambaran fisik ternak dewasa secara jelas.

Sapi indukan memiliki lingkar dada di atas 190 cm, sementara sapi jantan berada pada rentang 180–200 cm. “Data awal ini menjadi pijakan penting untuk memetakan kualitas dan kondisi riil ternak di wilayah tersebut,” ujarnya.

Pengukuran sederhana ini juga menjadi bagian dari proses tim dalam memahami kondisi peternakan di Senggi secara langsung.

Data yang dikumpulkan selama pendampingan nantinya akan menjadi salah satu bahan dalam menyusun rekomendasi pengembangan peternakan sapi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat

Para peternak sangat antusias mempraktikkan metode baru ini. Pengalaman pertama menggunakan pita ukur memberikan pemahaman baru bagi peternak setempat mengenai transparansi penentuan harga.

“Saya baru tahu kalau sapi bisa diukur pakai meteran. Biasanya kami cuma kira-kira saja bobotnya untuk patokan harga jual,” ungkap warga bernama Mak Tri.

Menurut Mak Tri, kehadiran pita ukur tersebut sangat membantu peternak kecil seperti dirinya agar memiliki patokan pasti dan tidak lagi sekadar menebak-nebak harga jual sapi di pasaran. (-)

Editor: SetyoNt

RELATED NEWS