Hingga Agustus 2026 Produksi Padi Jateng Sudah Capai 6,69 Juta Ton

SetyoNt - Kamis, 03 September 2026 17:07 WIB
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi (kiri) melakukan raya padi di Desa Kedungbanjar, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Kamis, 3 September 2026. (dok. Humah Pemprov Jateng)

Pemalang, Jatengaja.com - Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ahmad Luthfi mengklaim produktivitas padi di pada periode Januari-Agustus 2026 mencapai 6,69 juta ton atau sekitar 63% dari target 10,5 juta ton.

Dengan capain ini, Ahmad Luthfi mengaku optimistis dapat mencapai target tersebut pada akhir tahun ini, menyusul musim panen raya kedua yang hampir mencapai puncak dan masih akan ada panen ketiga di beberapa daerah.

“Selama Januari-Agustus ini sudah 6,69 juta ton. Hari ini kita panen padi di Pemalang, di kabupaten/kita lain juga melakukan panen. Apabila ini bisa dipertahankan maka target akan bisa terpenuhi,” katanya di sela acara panen raya padi di Desa Kedungbanjar, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Kamis, 3 September 2026.

Menurutnya, Pemalang merupakan lima besar penyangga produksi padi di Jawa Tengah, sehingga untuk meningkatkan produktivitas petani akan menggelontorkan bantuan alat pertanian berupa traktor, combine harvester, pompa air, dan benih kepada para petani.

Bantuan itu tidak hanya di Pemalang tetapi juga di daerah lainnya di Jawa Tengah untuk mendukung pencapaian target 10,5 ton padi.

"Alat-alat pertanian dan pompa kita geser ke Pemalang. da dua mekanisme penanganan lahan pertanian, yaitu sawah tadah hujan dengan perpompaan dan perpipaan, kemudian sawah irigasi dengan optimalisasi jaringan irigasi tersier,” ujar Gubernur Jateng.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jateng, Defransisco Dasilva Tavares mengatakan, beberapa daerah memang memiliki kearifan lokal terkait pertanian.

Ia mencontohkan di wilayah Pantura seperti di Kedungbanjar tersebut dua kali musim panen padi dengan diselingi komoditas pertanian lainnya. Tapi ada juga daerah dengan tiga kali musim tanam dan panen.

"Tapi semua petani itu sebenarnya tergantung pada air, kalau ada air mereka pasti akan menanam padi. Tapi dengan metode PMAS atau pertanian modern agriculture advance system itu dua kali musim tanam cukup karena produksinya tinggi,” katanya.

Ia menambahkan untuk mendorong produktivitas padi, Pemprov Jateng juga memiliki program Pilar Jateng, yang sistem pemetaan infrastruktur lahan, irigasi, dan alat mesin pertanian beserta kondisinya.

“Semua terlaporkan, sehingga perencanaan pembangunan pertanian bisa presisi atau tepat sasaran. Dari situ kita bisa tentukan intervensi atau bantuan yang akan diberikan kepada kelompok tani," katanya.

Ketua Kelompok Tani Sri Berkah 1 Tegalbati, Petarukan, Pemalang menyampaikan terima kasih mendapatkan bantuan combine harvester sehingga dapat menekan biaya produksi.

"Terima kasih atas bantuan combine harvester ini. Biasanya kami datangkan dari daerah lain. Pada musim tanam satu kita kadang telat panen karena menunggu mesin dari daerah lain, itu juga mempengaruhi harga gabah,” katanya.(-)

Editor: SetyoNt

RELATED NEWS