Model dan Aktivis Perempuan Peragakan Busana Eco Fashion Bersama Komunitas EMPU
Demak, Jatengaja.com - Model dan aktivis perempuan peragakan busana eco fashion yang digagas Komunitas EMPU di kawasan yang tenggelam oleh rob, Dukuh Timbul Sloko, Sayung, Kebupaten Demak
Peragaan busana eco fashion ini menjadi puncak Festival Festival Perempuan Pesisir: Merawat (Ibu) Bumi dan Laut yang diprakasai kelompok perempuan nelayan Demak, Puspita Bahari yang digelar di Dukuh Timbul Sloko, Sayung, Demak, Sabtu 18 April 2026.
Kegiatan peragaan busana ini, bukan sekadar pameran mode, melainkan sebuah pernyataan kolektif yang tegas mengenai keadilan iklim, daya lenting perempuan pesisir, dan filosofi zero waste sebagai praktik nyata merawat bumi.
- Desa Sumberejo Pacitan Melesat Lewat UMKM dan Wisata Bersama Dukungan BRI
- Klasterku Hidupku Dorong 43 Ribu Lebih Klaster Usaha Lebih Produktif
- Forum Petani Muda Jateng Gelar PADI 2026 di Soropadan Agro Center
- MitMe Fest 2026 Perkuat Ekosistem UMKM Lewat Kolaborasi Strategis
- Pemprov Jateng dan Aceh Teken Kerja Sama Berbagai Sektor Senilai Rp1,06 Triliun
Peragaan busana yang melibatkan desainer Zie Batik, Sabda Ecoprint, Lusi Tjan, Sora Handmade, Mlati Wangi, Lyna Windi, Collabox Creative Hub, Just-M, dan perhiasan Beti Pakpahan, Omah Petrok, dan Leya Cattleya.
“Peragaan busana ini menjadi mimbar advokasi yang menghidupkan kembali kearifan lokal Tembang Jawa, Lir Ilir, sebagai himne perlawanan,” kata Koordinator Komunitas EMPU Leya Cattleya dalam keterangan tertulis, Jumat 24 April 2026.
Leya menambahkan, mengambil inspirasi dari bait “Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir, dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore”, peragaan busana eco-fashion ini melambangkan penjahitan sosial dan ekologis di tengah krisis berlapis yang dihadapi perempuan pesisir Demak.
Kain (dodot) yang sobek diibaratkan sebagai lingkungan pesisir yang rusak akibat pembangunan ekstraktif dan bencana alam yang kian parah, memicu kemiskinan dan ketidakadilan gender.
Melalui penggunaan prinsip zero waste dan pewarnaan alam (natural dyeing) secara konsisten oleh 8 desainer anggota Komunitas EMPU, peragaan ini menunjukkan bahwa krisis tidak mematikan kreativitas dan ketahanan, melainkan memanggil untuk kebangkitan ekologis.
“Seluruh koleksi yang dipamerkan mengedepankan sumber daya lokal, seperti pewarna dari limbah kayu, mangrove, hingga teknik eco-print yang mengabadikan jejak flora setempat di atas kain,” ujar Leya.

Lokasi yang dipilih, Dukuh Timbul Sloko, semakin menguatkan narasi ini, menjadikan setiap langkah model di atas panggung resiliensi sebagai penanda kerentanan sekaligus manifestasi dari nilai kegigihan (lunyu lunyu penekna) yang termaktub dalam Lir Ilir.
Kehadiran 17 model, yang digambarkan sebagai "tandure wong sumilir tak ijo royo royo", adalah wujud kepemimpinan perempuan akar rumput yang berjuang untuk masa depan pesisir yang adil dan berkelanjutan.
- Kisah Nasabah PNM Mekaar Bojonegoro Jadi Penggerak Ekonomi Warga
- Diperkuat Megawati, Jakarta Pertamina Enduro Lolos Grand Final Proliga
Peragaan busana ini secara spesifik menyoroti koleksi dari Zie Batik, Omah Petruk, Sabda Batik, dan sebuah karya personal yang ikonik, yang masing-masing dibawakan sosok pejuang lingkungan dan hak asasi manusia.
Mereka adalah Ketua kelompok perempuan nelayan Puspita Bahari Demak, Masnuah yang mengenakan balutan batik warna alam bermotif stilasi mangrove rancangan Zie Batik.
Kemudian mantan Ketua Komnas Perempuan periode 2019-2014 dan Anggota EMPU, Yuniyanti Chuzaifah membawakan salah satu karya paling filosofis yang disajikan Komunitas EMPU.
Yuni mengenakan batik bermotif dengan nama Saparinah Sadli, pendiri Komnas Perempuan, yang digambarkan sebagai burung phoenix melambangkan kekuatan, kebangkitan, dan harapan yang dijahit kembali dari keputusasaan.
Busana ini dibuat dari bahan batik yang dianggap ‘rusak’ atau ‘rejeck’ atau limbah, sebuah perwujudan filosofi zero waste yang paling kuat.
Sosok perempuan berikutanya adalah, Azalya aktivis dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jateng yang mengenakan two pieces berbahan eco print yang dikombinasikan dengan tenun Troso Jepara, sebuah karya dari Sabda Eco-print Jombang.
Terakhir, Putra Rangga, seorang staf muda dari Collabox Creative Hub dan anggota Komunitas EMPU, melambangkan generasi muda yang berani menghadapi krisis iklim melalui aksi nyata dan kajian.
Putra mengenakan outer Zie Batik dengan pewarna alam indigofere dan sarung pewarna alam karya Omah Petrok bernama Nyadong Rejeki, yang mencitrakan kekayaan alam Jepara, dengan perahu menghadap langit sebagai lambang harapan.
Filosofi zero waste Omah Petrok terlihat jelas pada pewarna yang digunakan: sarung ini mendapatkan warnanya dari kayu-kayu limbah furniture industri dari pesisir Jepara.
Transformasi sampah industri menjadi keindahan budaya ini adalah perwujudan konkret dari filosofi zero waste dan harapan akan kemandirian ekologis.
Sementara owner, Zie Batik Semarang, Sasi Syifaurohmi menyatakan, keikutsertaan dalam festival ini ingin menyuarakan tentang pentingnya sustainable fashion dalam merespon krisis iklim.
“Sebagaimana kita ketahui industri fashion merupakan penyumbang emisi karbon kedua yang paling mencemari lingkungan setelah ekstraksi tambang. Kain dan fesyen yang kami tampilkan pada festival perempuan pesisir ini merupakan hasil karya Zie Batik dan teman-teman komunitas EMPU,” ujarnya
Menurut Ifa, panggilan Sasi Syafaurohmi, semua proses produksinya memakai bahan pewarna alami yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab.
Kain batik, eco print, dan kain tenun di padupadankan dengan apik serta beberapa aksesories yang dibuat dari perca dan limbah menjadi sebuah karya yang dapat diterima pasar baik nasional maupun global.
“Harapan kami ke depan, semoga pemerintah dan semakin banyak pihak lain memahami kerja kreatif artisan wastra dan fesyen ramah lingkungan, memberi insentif dan ruang serta konsisten merespon krisis iklim serta memberikan perhatian kepada masyarakat yang berdampak langsung di area pesisir,” harap Ifa.
Sebelum peragaan busana, Festival dibuka dengan Kirab dan Ritual Pemulihan Bumi, di mana para model dan peserta melakukan Aksi kolektif Panen Kedaulatan Pangan dan tebar eco-enzyme di perairan yang tenggelam, menjadikannya simbol perlawanan dan harapan.
- Diperkuat Megawati, Jakarta Pertamina Enduro Lolos Grand Final Proliga
- BLK Jasa Pariwisata Jateng Adakan Pelatihan Pemandu Wisata Gunung
Festival Perempuan Pesisir: Merawat (Ibu) Bumi dan Laut didukung oleh Aliansi Strategis yang kuat, melibatkan lebih dari 30 organisasi masyarakat sipil dan komunitas, termasuk KIARA, PPNI, Walhi, LBH Semarang, Komunitas EMPU dan Jakarta Feminist, sebagai bentuk solidaritas tanpa batas untuk Ibu Bumi.
Melalui festival dan peragaan busana eco-fashion Komunitas EMPU ini adalah seruan yang menggema. Sebagaimana lirik tembang: "Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane", ini adalah saat yang tepat untuk bertindak.
Acara ini bukan hanya perayaan budaya, tetapi perlawanan dan penguatan solidaritas kolektif demi masa depan pesisir yang adil dan berkelanjutan. (-)
