Bos Indonesia Airlines Heran, Maskapai Penerbangan Bisa Rugi dan Minta Subsidi
Jakarta, Jatengaja.com - Maskapai penerbangan baru Indonesia Airlines yang didirikan pengusaha asal Bireuen, Aceh., skandar Ismail meramaikan idustri penerbangan di Tanah Air akan berbasis di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Meski berbasai di Indonesia, tapi kantor pusat Indonesia Airlines justru berada di negara Singapura. karena maskapai tersebut akan fokus pada layanan penerbangan internasional.
CEO PT Indonesia Airlines Group sekaligus Executive Chairman Calypte Holding, Iskandar Ismail dalam ssebuah penyataan menyatakan keheranannya mengenai kondisi maskapai-maskapai di Indonesia yang mengalami kerugian dan memerlukan subsidi pemerintah.
- BRI Hadirkan Layanan E-Channel Tetap Andal, Transaksi Lebaran Jadi Lebih Mudah
- Jaga Stabiltas Harga Jelang Lebaran, TPID Jateng Gelar Gerakan Pangan Murah Serentak di 35 Kabupten dan Kota
- Bisnis Kosmetik Kian Berkembang, Binaan BRI Nikmati Lonjakan Omzet
- Demi Ketahanan Pangan, Pupuk Indonesia Optimalkan Kapasitas Produksi
- Nikmati Diskon Ramadhan di BRILiaN Fest Ramadhan 1446 H, Sembako Murah Menanti!
Sebagai contoh adalah, maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) melaporkan kerugian bersih senilai US$131,22 juta atau sekitar Rp2,06 triliun pada kuartal III tahun 2024.
"Saya bingung mengapa banyak yang mengklaim bisnis airlines itu susah untungnya, padahal kalau dicek di maskapai internasional tidak ada yang rugi hanya di Indonesia yang rugi dan harus disubsidi pemerintah," katanya dilansir dari Trenasia.com jaringan Jatengaja.com, Jumat 21 Maret 2025.
Menurut Iskandar, pada 2023 maskapai Singapore Airlines bagi-bagi keuntungan pada karyawannya hingga delapan kali gaji serta pada 2024 juga mereka melakukan hal yang sama.
Tidak hanya Singgapore Airlines, tapi juga maskapai Emiret, Qatar Airlines, Etihad Airways serta British Airways juga tidak pernah merugi serta harus meminta subsidi kepada pemerintah.
“Pertanyaannya kenapa mereka bisa melakukan hal itu sedangkan maskapai Indonesia selalu teriak merugi,” ungkapnya.
Iskandar menambahkan sebelum mendirikan Indonesia Airlines, dirinya telah melakukan studi kelayakan yang tidak sebentar. “Saya telah melakukan studi kelayakan terkait bisnis Aviasi di Indonesia, di mana lokasi Indonesia yang sangat strategis di antara dua benua dan dua samudera,” paparnya.
Meskipun saat ini beberapa maskapai banyak mengalami kerugian, Iskandar menjelaskan jika bisnis Aviasi Indonesia bukan karena gagal penanganan, namun belum maksimal dalam pengelolaannya.
Iskandar mencontohkan bandara Changi Singapura saja pada 2024 hanya 40 juta lebih dan dibawah dari Indonesia.
“Mereka saja yang penumpangnya lebih rendah dari kenapa bisa make mooney dan ini merupakan tanda tanya besar bagi kita,” ujarnya.
Iskandar menyoroti tantangan yang dihadapi oleh industri penerbangan Indonesia, di mana beberapa maskapai besar mengalami kesulitan finansial. Indonesia Airlines, dengan model bisnis dan strategi operasionalnya, berupaya untuk mengatasi tantangan tersebut dan memberikan layanan yang efisien serta berkualitas bagi para penumpang.
Iskandar menjelaskan Indonesia Airlines mulai merintis melalui Calypte Holding Pte. Ltd di tengah pandemi COVID-19 lalu. Ia melihat ada peluang bahwa Singapura mendorong pertumbuhan perusahaan Startup.
Menurutnya ia melihat peluang setelah berdiskusi panjang dengan salah satu rekannya di suatu Kementerian di Singapura. "Ya mungkin karena kita punya visi-misi yang sama tentang energi terbarukan, bidang-bidang utama seperti aviasi, pendidikan, kesehatan, pertanian sehingga dicoba,"lanjutnya.
Berdasarkan data Indonesia Airlines, Calypte Holding Pte. Ltd. adalah perusahaan pengembang Energi Terbarukan, Penerbangan, dan Pertanian yang berkantor pusat di Singapura.
Setelah menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 1.000 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (CCGT) 500 MW senilai Rp 19 triliun di Pulau Bengkalis, Pekanbaru, Riau, Rabu, 9 Agustus 2023, perusahaan itu kini juga merambah ke sektor penerbangan.
- Dinsos P3AP2KB Kudus Andalkan DMS Cazbox by Metranet untuk Atasi Stunting
- Mudik Lebih Tenang dengan BRImo! Pesan Tiket Kapal Kapan Saja, di Mana Saja
- PAN Kota Semarang Buka Pendaftaran Calon Formatur
Setelah sukses dengan peluncuran proyek raksasa Pembangkit listrik tenaga surya 2500 Megawatt, Calypte Holding PTE. LTD. kembali melanjutkan kiprahnya di Indonesia dengan mendirikan perusahaan maskapai.
Setelah melakukan studi kelayakan secara komprehensif dengan konsultan aviasi dari Singapura dan Amerika Serikat secara resmi Calypte Holding Pte. Ltd. telah mendaftarkan anak perusahaan baru melalui Notaris untuk pendirian PT. Indonesia Airlines Group 7 Maret 2025.
Sebagai tahap awal keberadaan maskapai ini di tanah air, INA akan mengoperasikan sebanyak 20 armada pesawat. 20 pesawat ini akan didatangkan secara bertahap yang terdiri dari 10 unit pesawat badan kecil dan 10 unit pesawat badan lebar.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.com oleh Debrinata Rizky pada 21 Mar 2025