Penduduk Jakarta Didominasi Gen Z dan Milenial , Sebagian Enggan Cari Kerja

SetyoNt - Kamis, 07 Mei 2026 21:21 WIB
Penduduk DKI Jakarta didominasi generai Z dan milenial. (Ilustrasi/Dok. UIN Sunan Kalijaga)

Jakarta, Jatengaja.com - Penduduk Ibu kota DKI Jakarta ternyata didominasi kalangan Generasi Z, Milenial, dan Post Generasi Z denngan jumlah mencapai 66,72 persen. Angka ini berdasararkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang digelar Badan Pusat Statistik Jakarta.

Kepala Badan Pusat Statisk (BPS) DKI Jakarta Kadarmanto mengungkapkan dari total sebanyak 10,72 juta jumlah penduduk Jakarta sekitar 66,72% penduduk DKI Jakarta merupakan gabungan dari Generasi Z, Milenial, dan Post Generasi Z.

“Dari total 10,72 juta jiwa penduduk Jakarta, Gen Z mencapai 24,12 persen dan Milenial 24,82 persen, serta Post Gen Z, anak-anak yang lahir sejak karena2013 menyumbang 17,78 persen,” katanya dilansir dari trenasia.id jaringan Jatengaja.com.

Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim menyebut hasil SUPAS 2025 menunjukkan kondisi ini sebagai momen puncak bonus demografi.

"SUPAS 2025 memberikan sinyal kuat bahwa Jakarta sedang berada di puncak bonus demografi. Dominasi generasi muda yang produktif, tingkat kesuburan yang terkendali, serta rasio ketergantungan yang rendah adalah modal emas bagi kita untuk membangun Jakarta yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing," jelasnya dalam keterangan resmi, dikutip Kamis, 7 Mei 2026.

Secara statistik, optimisme itu punya landasan. Rasio ketergantungan Jakarta tercatat hanya 40,34 angka yang menunjukkan beban penduduk nonproduktif terhadap usia produktif masih sangat ringan.

Dalam bahasa ekonomi, Jakarta punya lebih banyak tangan yang bisa bekerja dibanding mulut yang perlu diberi makan.

Indonesia memang sedang berada dalam fase bonus demografi, periode ketika jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibanding usia non-produktif. Secara teori, ini seharusnya menjadi mesin pertumbuhan ekonomi besar.

Namun, di balik komposisi demografi yang terlihat ideal itu, ada tekanan struktural yang jauh lebih rumit, banyak anak muda usia kerja justru kesulitan mendapatkan pekerjaan stabil dan berkualitas.

Masalahnya bukan hanya soal pengangguran terbuka, tetapi juga meningkatnya kelompok yang putus asa mencari kerja dan melonjaknya pekerja informal yang bertahan lewat ekonomi gig.

Berdasarkan data yang disampaikan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), gambarannya sebagai berikut, Tekanan ini juga terlihat dari besarnya kelompok usia muda yang bahkan sudah berhenti mencari pekerjaan.

Kelompok “putus asa” terus membesar:

  • Sekitar 48,6% Gen Z dan Milenial masuk kategori tidak bekerja dan tidak aktif mencari kerja
  • Generasi Milenial menyumbang sekitar 25% dari kelompok tersebut
  • Gen Z menyumbang sekitar 24%

Fenomena ini sering disebut sebagai discouraged workers, orang yang sebenarnya ingin bekerja, tetapi berhenti mencari karena merasa peluangnya terlalu kecil.

Di level perkotaan, tekanan pasar kerja juga semakin terlihat. Kondisi Jakarta menunjukkan tekanan sektor formal.

Menarik sekaligus problematis, dalam statistik resmi, seseorang yang bekerja hanya satu jam dalam seminggu tetap dihitung sebagai “bekerja”. Karena itu, angka pengangguran resmi sering kali tidak sepenuhnya menggambarkan kualitas pekerjaan yang tersedia.

Artinya, tantangan Indonesia hari ini bukan sekadar menciptakan pekerjaan, tetapi menciptakan pekerjaan yang cukup stabil untuk membuat generasi muda bisa benar-benar naik kelas secara ekonomi.

Akar masalahnya bukan sekadar kuantitas tapi kualitas dan kecocokan. Apindo menyebut sebagian besar pengangguran Gen Z adalah lulusan tingkat menengah yang memiliki keterampilan umum, namun pasar kerja formal membutuhkan keahlian teknis dan vokasional spesifik. Banyak perusahaan mengeluhkan lulusan muda tidak punya "skill siap kerja", baik dari sisi teknis maupun soft-skill.

Bank Dunia mencatat bahwa transisi dari sekolah ke pekerjaan di Indonesia masih penuh friksi, terutama bagi lulusan baru yang tidak mendapat dukungan karier atau akses jaringan kerja.

Hasilnya, generasi terbesar di Jakarta justru paling kesulitan masuk ke sistem ekonomi yang seharusnya mereka dorong.

Di sisi lain, ketika mereka punya uang, cara mereka menghabiskannya berbeda dari generasi sebelumnya. Ini membentuk peluang pasar yang besar sekaligus risiko finansial personal yang nyata.

Dilansir dari ASEAN Consumer Sentiment Study (ACSS) 2025 dari UOB, Gen Z menjadi katalisator utama konsumsi ekonomi pengalaman, lebih dari 50% dari total transaksi experience economy, padahal jumlah mereka dalam survei hanya 31% responden.

Dorongan transaksinya bukan lagi pada kepemilikan barang, melainkan pada emosi dan ingatan yang dihasilkan dari konsumsi.

Namun pola ini punya sisi gelap, penelitian dalam jurnal ilmiah yang dipublikasikan ResearchGate menemukan bahwa digital payment meningkatkan efisiensi transaksi, namun juga mendorong pembelian tidak terencana akibat promo, cashback, dan fitur paylater. Faktor psikologis seperti FOMO serta rendahnya literasi keuangan memperkuat kecenderungan konsumtif Gen Z.

Survei Populix menemukan bahwa Gen Z umumnya berbelanja cenderung FOMO atau Fear of Missing Out yang diakibatkan paparan tinggi pada media sosial, mendorong pembelian impulsif mengikuti tren yang sedang terjadi. Uma

Sementara dari sisi aspirasi, studi Populix juga menunjukkan bahwa 78% Milenial dan Gen Z sepakat menabung adalah tujuan keuangan paling penting, diikuti investasi jangka panjang (58%) dan tabungan beli rumah (45%). Namun kesenjangan antara aspirasi dan perilaku aktual masih sangat lebar.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 07 May 2026

Editor: SetyoNt

RELATED NEWS