Mohammad Saleh : 6,3 Juta Ton Sampah di Jateng Bisa Jadi Sumber Energi Listrik
Semarang, Jatengaja.com - Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh menyatakan dukungan terhadap rencana pembangunan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di berbagai daerah sebagai solusi mengatasi persoalan sampah yang terus meningkat.
Pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energy, menurut Mohammad Saleh, merupakan langkah strategis untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus menghasilkan energi alternatif yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Pengolahan sampah menjadi energi listrik merupakan solusi yang sangat baik untuk menjawab persoalan sampah sekaligus mendukung energi ramah lingkungan,” ujarnya di Semarang.
- Hadapi Kemarau Panjang, Mohammad Saleh Minta Pemprov Jateng Siapkan Mitigasi
- Indeks Demokrasi Indonesia Jateng 2025 Naik Peringkat Ketiga Nasional
- BI Rate Naik Jadi 5,25% untuk Perkuat Stabilitas dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi
- SMBC Indonesia Economic Forum 2026 Bahas Strategi Hadapi Ketidakpastian Ekonomi
- Resmi Dibuka! Catat Syarat Pendaftaran UOB Painting of the Year 2026
Saleh mengatakan, persoalan sampah saat ini menjadi tantangan serius yang harus ditangani secara menyeluruh dan berkelanjutan. Berdasarkan data, volume sampah di Jateng mencapai sekitar 6,3 juta ton per tahun.
Karena itu, ia mendukung penuh rencana pembangunan PSEL di sejumlah daerah. Di Jateng sendiri, implementasi program tersebut akan difokuskan pada tiga kawasan prioritas berbasis aglomerasi yang selama ini menghadapi persoalan darurat sampah.
Tiga kawasan itu masing-masing Semarang Raya yang meliputi Kota Semarang, Kabupaten Kendal, Semarang, dan Demak dengan lokasi fasilitas PSEL direncanakan berada di Kota Semarang.
Kawasan Pekalongan Raya yang mencakup Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Pemalang, dan Batang akan memiliki fasilitas PSEL di Kota Pekalongan.
Serta kawasan Tegal Raya yang meliputi Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan Brebes direncanakan memiliki fasilitas PSEL di Kabupaten Tegal.
Selain pengembangan PSEL, lanjut Saleh, mengapresiasi pengelolaan sampah melalui sistem refuse derived fuel (RDF) yang saat ini telah diterapkan di sedikitnya 18 kabupaten/kota di Jateng dengan menggandeng pabrik semen.
“Berbagai inovasi pengelolaan sampah tersebut menunjukkan bahwa sampah tidak lagi hanya dipandang sebagai limbah, tetapi juga memiliki nilai manfaat ekonomi dan energi,” ujar Saleh.
Meski demikian, Mohammad Saleh menekankan pengendalian sampah tidak bisa hanya dilakukan dari sisi hilir melalui teknologi pengolahan semata, tapi juga harus dimulai dari hulu, terutama dari kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah tangga.
Untuk itu, ia mendorong optimalisasi peran bank sampah di tingkat desa dan kelurahan sebagai upaya menekan produksi sampah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari limbah yang dihasilkan masyarakat.
- Diduga Lakukan Langgar Hukum Haji, 19 WNI Ditangkap Aparat Keamanan Arab Saudi
- Mentan Amran Lepas Ekspor Perdana 47.250 Pupuk Urea ke Australia
- Film Captain Phillips, Kisah tentang Pembajakan Kapal
“Kalau pengelolaan sampah dilakukan dengan baik, bukan hanya lingkungan menjadi bersih, tetapi juga bisa membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujar Ketua DPD Golkar Jateng tersebut.
Saleh menambahkan, kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan menjadi fondasi penting dalam menciptakan kualitas hidup yang lebih baik.
"Harapannya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan komunitas lingkungan terus diperkuat agar persoalan sampah dapat tertangani secara lebih efektif dan berkelanjutan," harapnya. (-)
