200 Siswa SMA di Kabupaten Grobogan Ikuti Kompetensi Membaca Kritis dan Analitis
Grobogan, Jatengaja.com - Tim Kerja Literasi Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (Jateng), mengadakan kegiatan Peningkatan Kompetensi Membaca Kritis dan Analitis bagi Siswa SMA di Kabupaten Grobogan.
Kegiatan yang diikuti sebanyak 200 siswa SMA negeri maupun swasta di Kabupaten Grobogan berlangsung di Aula SMA Negeri 1 Purwodadi Rabu-Kamis 27- 28 Agustus 2025.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Jateng, Dwi Laily Sukmawati, S.Pd., M.Hum, mengatakan kegiatan Peningkatan Membaca Kritis dan Analitis tersebut bertujuan membekali siswa agar dapat membaca buku secara kritis dan analitis, tidak sekadar memahami.
- BATIC 2025 Hubungkan Konektivitas Global
- Ini Alasan Menabung Emas Lebih Menarik, Karena Tren Harga Emas Cenderung Naik
- SDN Jatisari dan SMP IT Bina Amal Semarang Raih Juara I Olimpiade Cinta Bangga Paham Rupiah 2025
- BRI Wujudkan Kepedulian Sosial dengan Program Beasiswa Pendidikan
- Raih Kehati ESG Award 2025, Bukti Dedikasi BRI terhadap Prinsip Keuangan Berkelanjutan
“Setelah pertemuan ini, para peserta nanti masih akan didampingi narasumber dalam peningkatan kompetensi membaca kritis mereka,” ujar Laily.
Laily menambahkan melalui kegiatan ini diharapkan generasi muda Grobogan tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu memahami, menganalisis, dan memanfaatkan bacaan untuk memperluas wawasan serta memperkuat karakter.
Sementara, Kepala Cabang Dinas Pendidikan IV, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng, Budi Santosa, S.Pd., M.Pd., M.Si, menyatakan kegiatan Peningkatan Kompetensi Membaca Kritis dan Analitis merupakan kesempatan bagi siswa-siswa SMA agar lebih kompetensi membacanya.
“Kami berharap anak-anak SMA bisa memanfaatkan kesempatan mengikuti pelatihan ini dengan sebaik-baiknya. Gunakan waktu membaca secara baik karena pengetahuan akan bertambah jika kita banyak membaca,” ujarnya.
Budi berharap siswa-siawa SMA di Grobogan berpikir global dan bertindak lokal atau biasa dikenal dengan ungkapan ‘think globally, act locally’. Para siswa juga harus bisa menguasai dan tepat menggunakan tiga bahasa, yakni bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan bahasa asing.
“Kalian harus bertindak berdasarkan nilai-nilai luhur lokal masyarakat Jawa karena di situ ada sopan santun, tetapi kalian juga harus berpikir global,” pesan Budi kepada peserta kegiatan. (-)