Pemprov Jateng Beri Uang Tali Asih 1.041 Santri Penghafal Alquran

Selasa, 12 Mei 2026 17:20 WIB

Penulis:SetyoNt

Editor:SetyoNt

Alquran penghafal.jpg
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin menyerahkan uang tali asih kepada santri penghafal 30 juz Alquran. (dok. Humas Pemprov Jateng)

Kudus, Jatengaja.com - Selama tahun 2025, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) memberikan uang tali asih kepada sebanyak 1.041 santri penghafal 30 juz Alquran dengan total senilai Rp1,041 miliar.

Dana uang tali asih yang bersumber dari APBD Provinsi Jawa Tengah tersebut diberikan kepada setiap santri penghafal 30 juz Alquran dengan nilai Rp1 juta.

Wakil Gubernur (wagub) Jawa Tengah, Taj Yasin menyatakan uang tali asih itu merupakan bentuk perhatian Pemprov Jateng kepada para santri penghafal  30 juz Alquran.

“Tidak melihat santri dari Jateng atau luar Jateng. Setiap selesai menghafal 30 juz Alquran, kita akan memberikan tali asih atau bisyaroh setiap anak sebesar Rp1 juta,” katanya.

Gus Yasin panggilan wagub Jateng, menyerahkan uang tali asih kepada enam penghafal 30 juz Alquran dalam acara Wisuda Tahfidh Pondok Pesantren Darul Qur’an Krandon, Kabupaten Kudus, Senin 11 Mei 2026 malam

Mereka adalah Wahyu Indra Maulana asal Pati, Shihab Labib Ruwaifi Iswandy asal Muko-Muko, Bengkulu; Roihan Muhammad Iqbal Farid asal Kudus. Kemudian Ahmad Syauqi Muhammad, putera Muhammadun asal Probolinggo, Jawa Timur, Mochamad Hakiki asal Semarang, dan Ahmad Bayu Al Azhar asal Jepara.

Wagub Jateng berharap, program yang dijalankan bersama Gubernur Ahmad Luthfi itu dapat membawa keberkahan bagi anggaran daerah, sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Khataman Alquran bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk penghormatan kepada santri yang telah menjaga hafalan Alquran. Ia mengingatkan, agar para santri diminta terus menjaga hafalan. Setelah khatam, jangan berhenti. Hafalan itu harus dijaga,” ujar Gus Yasin.

Ia mengatakan, kecintaan terhadap Alquran telah dicontohkan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam, para sahabat, dan ulama terdahulu. 

“Para sahabat menjadikan bacaan Alquran sebagai sumber ketenangan dan pelembut hati,” ujarnya. (-)