jawa tengah
Jumat, 05 Juni 2026 23:13 WIB
Penulis:SetyoNt
Editor:SetyoNt

Semarang, Jatengaja.com - Provinsi Jawa Tengah pada bulan Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,23 persen (month to month/mtm), setelah bulan sebelumnya deflasi sebesar 0,03 persen (mtm).
Menurut Pelaksana harian (Plh) Kepala Kantor Bank Indonesia Jawa Tenga, Anggis Rakhmi, inflasi Jawa Tengah pada Mei 2026 lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 0,28 persen (mtm).
“Inflasi pada bulan Mei terutama dipengaruhi oleh peningkatan harga pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,07 persen,” katanya dalam rilis di Semarang, Jumat 5 Juni 2026.
Komoditas penyumbang inflasi pada kelompok tersebut antara lain karena kenaikan cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit seiring dengan penurunan produktivitas akibat perubahan cuaca ekstrim.
Serta serangan organisme pengganggu tumbuhan, dan kekeringan yang terjadi di sejumlah sentra produksi seperti Temanggung untuk cabai, serta Pati dan Demak untuk bawang merah. Selain itu, juga terjadi peningkatan permintaan menjelang Hari Raya Iduladha dan musim hajatan.
Lebih lanjut, Anggis menyatakan komoditas minyak goreng mengalami kenaikan harga seiring dengan keterbatasan pasokan dan peningkatan biaya produksi akibat harga bahan pendukung (plastik kemasan) yang meningkat.
“Beberapa komoditas memberikan andil deflasi dan menahan inflasi yakni telur ayam ras dan daging ayam ras seiring dengan pasokan yang melimpah di tingkat peternak,” ujarnya.
Inflasi juga disumbang Kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan (andil: 0,06%;mtm), Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga seiring dengan penyesuaian harga Liquid Petrolium Gas (LPG) non subsidi pada minggu ketiga April 2026 seiring dengan pergerakan harga di pasar internasional.
Lanjut Inflasi tertahan dengan deflasi pada Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya (andil: -0,05%; mtm). Deflasi pada kelompok tersebut terutama didorong komoditas emas perhiasan seiring dengan tren koreksi harga emas global dalam beberapa bulan terakhir sebagai imbas dari kebijakan Bank Sentral yang mempertahankan suku bunga tinggi (antara lain The Fed).
Sejalan dengan inflasi pada level provinsi, seluruh kota IHK di Jawa Tengah juga mengalami inflasi seiring dengan kenaikan harga komoditas hortikultura.
Tercatat inflasi tertinggi berlangsung di Kota Surakarta, Kudus, dan Cilacap yang pada periode laporan mencatatkan inflasi sebesar 0,31% (mtm), diikuti Kabupaten Wonogiri (0,30%; mtm), Purwokerto (0,28%; mtm), Rembang (0,24%; mtm), Kota Semarang (0,16%; mtm), Kota Tegal (0,14%; mtm), dan Wonosobo (0,12%; mtm).
Ke depan, untuk menjaga inflasi berada pada rentang sasaran, Bank Indonesia bersama dengan para pemangku kepentingan di daerah yang tergabung dalam Forum TPID Provinsi Jawa Tengah dan TPID Kota/Kabupaten se-Jawa Tengah akan terus berkoordinasi dan bekerja sama melaksanakan berbagai program pengendalian inflasi.
“Fokus program pengendalian inflasi tersebut ditujukan untuk menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi barang/komoditas di Jawa Tengah sehingga inflasi dapat terjaga di rentang sasaran 2,5±1%,” kata Anggis Rakhmi
Bagikan