Gegara El Nino Musim Hujan 2026 Datang Lebih Lambat dari Kondisi Normal

Sabtu, 03 Oktober 2026 17:44 WIB

Penulis:SetyoNt

Editor:SetyoNt

Cuaca panas.jpeg
Gegara El Nino Musim Hujan 2026 Datang Lebih Lambat dari Kondisi Normal. (Istimewa)

Jakarta, Jatengaja.com - Musim hujan tahun 2026 diperkirakan datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal, karena pengaruh El Nino masih aktif dengan intensita sangat kuat.

Menurut Direktur Perubahan Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), A. Fachri Radjab, berdasarkan analisis kondisi atmosfer dan lautan hingga September 2026, fenomena El Nino masih aktif dengan intensitas sangat kuat dan diprediksi bertahan hingga awal 2027.

Meski El Nino masih bertahan hingga awal 2027 tidak berarti musim kemarau akan berlangsung hingga periode tersebut, tapi tetap akan berangsur berakhir dan beralih menuju musim hujan secara bertahap. 

“El Ninonya bertahan sampai awal 2027, tapi musim kemarau sendiri akan berangsur-angsur berakhir, beralih ke musim penghujan,” kata Fachri di Jakarta dilansir dari Infopublik.id, Sabtu 3 Oktober 2926.

Fachri menyatakan secara umum musim hujan tahun ini diperkirakan datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal, sedangkan puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Desember, Januari, hingga Februari 2027.

Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena jarak antara awal musim hujan dan periode puncaknya relatif berdekatan. 

Dengan periode puncak yang berlangsung selama tiga bulan, masyarakat dan pemerintah daerah perlu mengantisipasi kemungkinan hujan dengan intensitas tinggi dalam periode yang relatif singkat. 

“Antara awal musim hujan dengan puncak ini sangat berdekatan. Periode puncak musim hujan ada tiga bulan itu, sehingga kita perlu antisipasi intensitas hujan yang tinggi, tapi dalam periode yang pendek,” ujarnya.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih spesifik, BMKG membagi wilayah berdasarkan karakteristik iklim yang relatif serupa ke dalam zona musim (ZOM).

Di Indonesia terdapat 699 ZOM. Melalui pembagian tersebut, informasi mengenai perkembangan musim dapat dianalisis dan disampaikan berdasarkan karakteristik masing-masing wilayah.

Informasi tersebut penting karena kondisi musim tidak selalu berlangsung seragam di seluruh wilayah. Dengan prediksi berbasis zona musim, pemerintah daerah dan masyarakat dapat menyesuaikan langkah kesiapsiagaan maupun perencanaan kegiatan berdasarkan kondisi wilayah masing-masing.

Fachri menambahkan informasi cuaca dan iklim BMKG tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, tapi juga penting bagi berbagai sektor yang aktivitasnya dipengaruhi kondisi cuaca dan iklim.

Sejumlah sektor yang dapat memanfaatkan informasi BMKG antara lain pertanian, perkebunan, peternakan, pariwisata, kesehatan, pertahanan dan keamanan, hingga pengelolaan air.

Informasi cuaca dan iklim dapat digunakan sebagai dasar dalam perencanaan maupun pelaksanaan kegiatan sehingga keputusan yang diambil dapat disesuaikan dengan kondisi atmosfer dan iklim. 

“BMKG berkomitmen terus meningkatkan kualitas informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika agar semakin akurat, tepat waktu, serta mudah dipahami oleh masyarakat dan pengguna jasa,” ujarnya. (-)