Intip Gurita Bisnis Orang Tua Group, yang Terseret Kasus Miras Newport
Jatengaja.com - Bisnis Group Orang Tua Group (OT Group) tengah menjadi sorotan setelah merek minuman keras (miras) Newport diterpa kontroversi yang memicu gelombang kecaman dan seruan boikot terhadap seluruh produk perusahaan tersebut.
Kejadian tersebut memicu kritik luas karena dianggap mencampurkan simbol agama dengan promosi minuman keras. Kasus tersebut tidak hanya memunculkan kecaman dari masyarakat dan tokoh agama, tetapi juga mendorong laporan ke kepolisian serta desakan agar pemerintah mengevaluasi izin edar Newport.
Tidak hanya itu di media sosial, seruan boikot kemudian meluas dan tidak hanya menyasar Newport, tetapi juga seluruh produk yang berada di bawah naungan bisnis Orang Tua Group.
- KPK Tahan 4 Tersangka Dugaan Korupsi Iklan Bank BJB Senilai Rp223,6 Miliar
- Gelar Gebyar Fest 81 Bank Jateng, Naik Trans Jateng Cukup Bayar Rp81 Pakai QRIS
- BRI Peduli Dampingi UMKM Desa Brilian Hargobinangun agar Makin Berkembang
Dikhawatirkan adanya kontroversi ini berpotensi dapat mengganggu ekspansi maupun rencana bisnis Orang Tua Group untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berikut adalah gurita Orang Tua Group yang dilansir dari Trenasia.Id, jaringan Jatengaja.com. Orang Tua Group merupakan salah satu perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) terbesar di Indonesia.
Perusahaan ini berawal dari industri minuman herbal yang didirikan pada 1948 di Medan oleh Chandra Djojonegoro. Dari bisnis keluarga berskala kecil tersebut, perusahaan berkembang menjadi konglomerasi consumer goods yang kini memiliki puluhan fasilitas produksi dan ribuan karyawan.
Bisnis tersebut kemudian diteruskan oleh generasi kedua keluarga Djojonegoro, yakni Hamid Djojonegoro, Husain Djojonegoro, dan Pudjiono Djojonegoro.
Selama hampir delapan dekade, strategi utama OT Group adalah membangun produk konsumsi sehari-hari dengan harga terjangkau namun memiliki volume penjualan tinggi. Pendekatan tersebut membuat berbagai merek milik perusahaan mampu menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Berbeda dengan anggapan sebagian masyarakat yang hanya mengenal Tango atau Teh Gelas, sebenarnya portofolio bisnis Orang Tua Group jauh lebih luas.
Produk-produknya tersebar pada berbagai kategori, antara lain:
- Makanan ringan: Tango, MintZ, Blaster, Oops, biskuit, dan berbagai produk permen.
- Minuman: Teh Gelas, Crystalin, Top Coffee, Torabika, You C1000, dan Kiranti.
- Perawatan diri: Formula untuk pasta gigi dan sikat gigi.
- Minuman tradisional dan beralkohol: Anggur Merah Cap Orang Tua dan Newport.
Diversifikasi tersebut membuat OT Group tidak bergantung pada satu kategori bisnis saja, sehingga ketika salah satu segmen mengalami perlambatan, lini usaha lain masih dapat menopang pertumbuhan perusahaan.
Meski berstatus perusahaan tertutup (private company), sejumlah indikator menunjukkan besarnya skala usaha Orang Tua Group, antara lain memiliki lebih dari 5.300 karyawan, mengoperasikan lebih dari 30 pabrik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, memasarkan produk ke lebih dari 34 negara melalui jaringan ekspor, serta memiliki jaringan distribusi yang menjangkau jutaan titik penjualan, mulai dari supermarket modern hingga warung tradisional.
Produk-produk OT Group tidak hanya tersedia di supermarket modern, tetapi juga menjangkau warung tradisional hingga pelosok daerah. Model distribusi inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama perusahaan dibanding banyak kompetitor.
Karena belum menjadi perusahaan publik, OT Group tidak wajib membuka laporan keuangan secara rinci. Meski demikian, sejumlah indikator dapat memberikan gambaran mengenai ukuran bisnis perusahaan. Beberapa indaktornya meliputi sebaga berikut,
Keluarga Djojonegoro yang mengendalikan Orang Tua Group termasuk dalam daftar orang terkaya Indonesia. Perkembangan kekayaannya menunjukkan tren meningkat, yakni, tahun 2022 sekitar US$1,08 miliar, 2023 sekitar US$1,25 miliar, dan 2024 meningkat menjadi US$1,33 miliar atau sekitar Rp21,5 triliun.
Kenaikan kekayaan tersebut mengindikasikan bahwa nilai bisnis perusahaan juga mengalami pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, sejumlah lembaga riset memperkirakan pendapatan tahunan perusahaan berada pada kisaran US$100 juta hingga hampir US$1 miliar, bahkan terdapat estimasi yang menempatkan pendapatan mendekati US$582,8 juta pada 2026. Namun angka tersebut merupakan estimasi karena perusahaan tidak mempublikasikan laporan keuangannya secara resmi.
Keberhasilan Orang Tua Group tidak hanya berasal dari banyaknya produk, tetapi juga posisi pasar sejumlah mereknya. Beberapa pencapaiannya antara lain, Formula diperkirakan menguasai sekitar 60% pangsa pasar sikat gigi nasional, Tango menjadi salah satu merek wafer paling populer di Indonesia, Teh Gelas berkembang menjadi pemain utama pada kategori teh siap minum dengan harga ekonomis, dan Top Coffee menjadi salah satu pemain penting di pasar kopi instan nasional.
Selain pasar domestik, OT Group juga aktif memperluas pasar internasional. Beberapa langkah ekspansi perusahaan meliputi, telah diekspor ke lebih dari 34 negara, memperluas penetrasi pasar Asia, termasuk Taiwan, menjalin kerja sama strategis dengan DH Group asal Korea Selatan pada akhir 2025, menargetkan pengembangan pasar Korea Selatan melalui distribusi produk seperti BlackJack Cola.
Rumor mengenai rencana IPO Orang Tua Group sebenarnya telah beredar sejak 2025. Manajemen perusahaan telah mengonfirmasi bahwa perusahaan memang tengah melakukan konsolidasi internal sebagai bagian dari persiapan menuju pasar modal.
Apabila IPO benar-benar terlaksana, publik untuk pertama kalinya akan melihat secara transparan laporan keuangan Orang Tua Group, termasuk pendapatan, laba bersih, margin keuntungan, hingga struktur utangnya.
Di tengah persiapan IPO, munculnya kontroversi Newport menjadi tantangan baru bagi perusahaan. Dalam industri FMCG, reputasi merupakan salah satu aset terpenting karena berkaitan langsung dengan kepercayaan konsumen.
Gelombang boikot yang muncul di media sosial memang belum dapat dipastikan dampaknya terhadap penjualan. Namun apabila berlangsung dalam waktu lama dan meluas ke berbagai daerah, tekanan terhadap pendapatan dapat mulai terasa, terutama pada produk-produk yang menyasar pasar domestik.
- Meski TKD Dipangkas, Pemprov Jateng Pastikan Tetap Bisa Bayar Gaji PNS dan PPPK
- Perkuat Ekosistem Ekonomi dan Keuangan Syariah, BI Jateng Gelar FAJAR 2026
- Pemprov Jateng dan Kaltim Jalin Kerja Sama dengan Nilai Capai Rp20,2 Triliun
Bagi perusahaan yang sedang mempertimbangkan langkah menuju pasar modal, isu tata kelola perusahaan (corporate governance), manajemen risiko, hingga pengelolaan reputasi biasanya menjadi aspek yang diperhatikan investor institusi.
Menanggapi polemik tersebut, pihak Newport menyampaikan bahwa aktivitas menghafal Surah Ad-Dhuha bukan merupakan program resmi perusahaan.
"Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk dalam bentuk apa pun," ungkap pernyataan yang diunggah di akun @thesoundsproject, Selasa, 11 Agustus 2026. (-)
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 12 Aug 2026
