Hal-Hal Ini Terlarang Dilakukan Umat Hindu Saat Hari Raya Nyepi

SetyoNt - Kamis, 03 Maret 2022 14:05 WIB
Ilustrasi saat umat Hindu merayakan Nyepi

Semarang, Jatengaja.com - Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi, Kamis (3/3). Nyepi merupakan bentuk dari penyatuan manusia dengan alam sehingga pada hari itu tidak boleh ada kegiatan sama sekali.

Pada Hari Nyepi, di Bali yang mayoritasnya warga beragama Hindu tidak ada aktivitas orang di luar rumah seperti hari -hari biasa. Jalanan terlihat lenggang dan sepi, termasuk pelayanan umum tutup kecuali rumah sakit. Bahkan Bandara udara Internationa I Gusti Ngurah Rai ditutup.

Perayaan Nyepi mulai dilakukan umat Hindu pada tahun 78 masehi silam yaitu saat Tahun Baru Saka diresmikan yang bersamaan dengan penobatan Raja Kanishka dari dinasti Kushana.

Nyepi merupakan ajaran Hindu yang menerapkan empat hal larangan, atau dalam bahasa hindu bali dinamakan Catur Brata Nyepi atau pantangan–pantangan yang tidak boleh dilakukan atau terlarang bagi umat Hindu ketika proses nyepi berlangsung.

Hal-hal yang dilarang dilakukan oleh umat Hindu pada saat Hari Raya Nyepi yakni :

1. ‘Amati’ Karya/ Tidak Bekerja

Saat melakukan hari raya nyepi, tidak boleh bekerja atau beraktivitas yang berkaitan dengan duniawi. Masyarakat dan wisatawan dilarang keluar rumah untuk kegiatan seperti bekerja dan kegiatan lainnya.

Tujuan dari hal ini adalah untuk merenung di dalam proses nyepi. Ssehingga tercapai keselarasan antara manusia, alam dan Sang Maha Pencipta.

2. ‘Amati’ Geni / Tidak Boleh Menyalakan Api/ pakai penerangan lampu/listrik

Pada saat nyepi, masyarakat dilarang menyalakan api atau lampu bercahaya. Hal ini secara simbolis mengisyaratkan untuk menundukkan api/ nafsu di dalam diri sendiri. Nafsu ini harus dikontro sepenuhnya. Nafsu berupa rasa iri, tinggi hati, dan segala pikiran yang tidak baik.

3. ‘Amati’ Lelungan/ Tidak Bepergian

Masyarakat dilarang untuk berpergian sehingga tercipta suasana hening, suasana hening sangat diperlukan sebagai bahan untuk mengheningkan diri. Karena nyepi merupakan berasal dari kata sepia tau hening.

Ketika manusia tidak berpergian maka hakikatnya dia telah menjaga ibu bumi dari kegaduhan aktivitas manusia

4. ‘Amati’ Lelanguan/ Tidak Bersenang-Senang

Masyarakat juga dilarang untuk mendengarkan dan memainkan segala hal yang berbau music. Karena untuk mencapai kondisi hening maka hal ini sangat diperlukan untuk ketenangan.

Bumi pun akan bersih dari hal – hal yang menganggu dirinya. Serta ini bertujuan sebagai bentuk permohonan maaf manusia kepada bumi yang selama ini telah melakukan perusakan terhadap alam.

Hal ini berarti juga masyarakat dilarang untuk bersenang – senang selama proses nyepi. Mengorbankan kesenangan untuk pemusatan pemikiran kepada sang hyang widhi. Jika manusia larut dalam kesenangan maka manusia akan lupa akan hakikat tujuan hidupnya di muka bumi. Proses penyepian dilakuan selama 24 jam nonstop.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa nyepi harus amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak mendengarkan music/lagu).

Karena tidak boleh menyalakan api, kompor atau listrik, banyak yang memilih menjalani Catur Brata Penyepian dengan berpuasa. Anjuran untuk “tidak menyalakan api” juga diartikan sebagai tidak boleh ‘menyalakan’ rasa marah atau kebencian pada orang lain maupun diri sendiri.

Itu sebabnya saat melakukan penyepian, umat Hindu akan lebih banyak berdiam, merenung, berdoa, beribadah atau melakukan meditasi. Penyepian biasanya dilakukan mulai dari pukul 6 pagi hingga pukul 6 lagi keesokan harinya. Namun ada juga yang mulai melakukannya pada tengah malam atau tepat begitu memasuki hari Nyepi.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa nyepi harus amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak mendengarkan music/lagu).

Karena tidak boleh menyalakan api, kompor atau listrik, banyak yang memilih menjalani Catur Brata Penyepian dengan berpuasa. Anjuran untuk “tidak menyalakan api” juga diartikan sebagai tidak boleh ‘menyalakan’ rasa marah atau kebencian pada orang lain maupun diri sendiri.
Itu sebabnya saat melakukan penyepian, umat Hindu akan lebih banyak berdiam, merenung, berdoa, beribadah atau melakukan meditasi. Penyepian biasanya dilakukan mulai dari pukul 6 pagi hingga pukul 6 lagi keesokan harinya. Namun ada juga yang mulai melakukannya pada tengah malam atau tepat begitu memasuki hari Nyepi.

Apa Tujuannya?

Nyepi sebenarnya adalah usaha untuk memberi ruang hening bagi diri dan memulai damai dari diri sendiri. Dalam diri sendiri, pikiran dan tindakan terkadang membuat hati menjadi tidak damai. Prinsipnya dalam agama Hindu, jika ingin mengubah dunia misalnya, maka mulailah dari diri sendiri dulu.

Nyepi sebenarnya juga memiliki tujuan untuk pembersihan alam semesta yang selama ini telah memberi begitu banyak pada manusia. Saat Nyepi adalah saat manusia memberikan ‘hadiah’ berupa waktu istirahat selama 24 jam untuk bumi, udara, air, api, seluruh semesta ini.

Di Bali misalnya, tidak ada kendaraan yang digunakan selama Nyepi. Hasilnya tidak ada asap knalpot selama 24 jam dan udara menjadi sangat bersih. Belum lagi kalau kita hitung berapa banyak bensin atau daya listrik yang dihemat selama sehari dan masih banyak manfaat untuk alam lainnya.

Karena tidak boleh keluar rumah selama sehari penuh, Nyepi juga melekatkan hubungan antara anggota keluarga dan membuat yang menjaninya merasa lebih rileks dan bahagia. (-)

Tulisan ini telah tayang di jogjaaja.com oleh Ties pada 03 Mar 2022

Editor: SetyoNt

RELATED NEWS