Butuh 1.165 Dokter Spesialis, Kemenkes Gelar Program RSPPU
Solo, Jatengaja.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan berbagai upaya untuk mempercepat penambahan jumlah dokter spesialis, agar persebarannya merata di semua daerah.
Salah satu upayanya adalah Kementrian Kesehatan mengadakan kerja sama dengan perguruan tinggi dan rumah sakit di sejumlah daerah, melalui program pendidikan dokter spesialis pada Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU).
Menurut Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin saat ini Indonesia membutuhkan 1.165 dokter spesialis dengan kompetensi tambahan untuk memberikan layanan prioritas jantung, stroke, dan kanker.
- Rumah Bersama Ekspor Jateng Dukung UMKM Tembus Pasar Global
- Jateng Dapat DAK Nonfisik Rp17,6 Miliar untuk Perpustakaan
- 18 Tahun SRC, Pesta Retail 2026 Dorong UMKM Berdaya Saing
- SRC Bawa Semangat UMKM Mandiri di Pesta Retail 2026
- Atlet Disabilitas Jateng Raih 116 Medali di ASEAN Para Games
Setiap tahun ada ribuan orang yang meninggal dunia akibat penyakit-penyakit tersebut, sedangkan antrean untuk layanan prima bagi penderita jantung dan stroke masih sangat panjang di rumah sakit.
“Sedangkan golden period (waktu krusial) untuk jantung dan stroke hanya hitungan jam. Kalau layanan hanya ada di rumah sakit besar, tentu kasihan pasien,” kata Budi pada Rapat Koordinasi dan Konsolidasi Teknis (Rakontek) Pelayanan Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 di Hotel Mercure Solo, Kamis (29/1/2026).
Melalui pendidikan dokter spesialis pada RSPPU tersebut, lanjut Budi, diharapkan lebih banyak lagi dokter-dokter spesialis yang diproduksi.
“Para dokter spesialis itu, nanti akan ditempatkan ke rumah sakit yang belum punya dokter spesialis,” ujarnya.
Kemenkes menargetkan kekurangan dokter spesialis tersebut pada kurun waktu 5-10 tahun mendatang, “Kami harapkan bias lebih cepat dari waktu tersebut,” tandas Menkes.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Kesehatan melakukan penandatangan nota kerja sama (MoU) dengan RSUD Prof Margono Soekarjo Purwokerto, dan RSUD Dr Moewardi, serta Universitas Diponegoro, untuk membuka pendidikan spesialis bedah saraf dan bedah anak, serta mikrobiologi
Sementara, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno, mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memberikan apresiasi atas sinergi dan kolaborasi pemerintah pusat dengan provinsi dan kabupaten/kota dalam program kesehatan.
“Mudah-mudahan ini menjadi bahan evaluasi kita semua, agar program kesehatan di Jawa Tengah tahun 2026 akan lebih baik lagi,” ujarnya. (-)
