Rumah Terapi Tanda Cinta Bagi ABK dan Disabilitas di Temanggung

Selasa, 07 April 2026 22:11 WIB

Penulis:SetyoNt

Editor:SetyoNt

temanggung.jpeg
Rumah Terapi Tanda Cinta Bagi ABK dan Disabilitas di Temanggung. (dok. jatengprov)

Temanggung, Jatengaja.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung meluncurkan Rumah Terapi Tanda Cinta bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) dan penyandang disabilitas.

Kehadiran Rumah Terapi Tanda Cinta menjadi jawaban atas aspirasi masyarakat yang selama ini terkendala akses layanan terapi bagi penyandang disabilitas dan ABK akibat berbagai keterbatasan administratif.

Bupati Temanggung, Agus Setyawan, menjelaskan, gagasan pendirian rumah terapi tersebut berawal dari keluhan warga terkait pembatasan layanan BPJS di rumah sakit, khususnya batas usia maksimal tujuh tahun. 

Selain itu, terdapat kendala persyaratan ekonomi, seperti kategori desil 1 hingga 5 pada layanan di Sentra Terpadu Kartini Kementerian Sosial RI.

“Alhamdulillah, ini kerja bareng dari berbagai elemen untuk merealisasikan Rumah Terapi. Ini sebagai bentuk tanda cinta Temanggung kepada bapak, ibu semua. Bukan dari saya, tapi dari kita semua,” kata Agus saat meresmikan Rumah Terapi Tanda Cinta di Kantor Dinas Sosial Temanggung, Senin 6 April 2026 dilansir dari jatengprov.go.id.

Rumah Terapi Tanda Cinta menyediakan tiga layanan utama secara gratis, yakni fisioterapi, terapi okupasi, dan terapi wicara. 

Dalam operasionalnya, Dinas Kesehatan menerjunkan 25 tenaga dari puskesmas secara bergiliran, didukung tenaga ahli dari RSUD Temanggung dan Sentra Terpadu Kartini.

Selain pelayanan medis, fasilitas ini juga menekankan aspek transfer pengetahuan kepada orang tua. Tujuannya agar orang tua, yang sebagian besar tergabung dalam komunitas Rumah Anak Spesial (Ruas) Temanggung, mampu melakukan pendampingan terapi secara mandiri di rumah.

“Harapannya, orang tua ketika di rumah bisa selalu telaten mendampingi. Karena kunci perkembangan anak ada pada orang tua yang mendampingi setiap waktu,” harap Bupati Temanggung.

Kepala Sentra Terpadu Kartini Temanggung, Nova Dwiyanto Suli, menambahkan komitmen dalam melatih sumber daya manusia serta orang tua/wali guna memastikan keberlanjutan program tersebut.

“Harapannya, mereka bisa melakukan terapi secara mandiri kepada komunitasnya sendiri,” harapnya. (-)