QRIS Kian Go International dengan Pengguna Capai 60 juta

Senin, 04 Mei 2026 21:22 WIB

Penulis:SetyoNt

Editor:SetyoNt

QRIS
Quick Response Code Indonesian Standard atau biasa disingkat QRIS (dibaca KRIS) adalah penyatuan berbagai macam QR dari berbagai Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) menggunakan QR Code. / Bi.go.id

(Istimewa)

Jatengaja.com - Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), bukan lagi sekadar pengganti uang receh. Bank Indonesia sedang membangunnya menjadi infrastruktur pembayaran lintas negara, dan angka-angkanya serius.

Metode pembaaran QRIS dirancang untuk menciptakan sistem pembayaran yang mudah, cepat, murah, aman, dan andal, sekaligus mendorong inklusi keuangan dan digitalisasi UMKM.

Pada awal peluncuran tahun 2019, pengguna QRIS  sebanyak 1,6 juta orang,  jumlah pengunanya tahun 2026 ditargetkan mencapai 60 juta dengan 17 miliar transaksi, dan 45 juta merchant.

Sepanjang 2025, QRIS mencatat 13,66 miliar transaksi, jauh melampaui target awal yang hanya 6,5 miliar. Merchant yang terdaftar mencapai 42 juta, dengan sekitar 90% di antaranya adalah pelaku UMKM. 

Dari sisi nilai, transaksi QRIS tumbuh 139,99% secara tahunan sepanjang 2025, dari Rp659,9 triliun menjadi Rp1.486,8 triliun. Lalu memasuki Januari 2026 saja, nilai transaksi sudah menyentuh Rp164,48 triliun dengan volume 1,83 miliar transaksi tumbuh lebih dari 100% dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Bank Indonesia menargetkan nilai transaksi QRIS mencapai Rp3.110,6 triliun di 2026, dan melonjak lagi ke Rp5.674,3 triliun pada 2027. 

Saat ini QRIS telah bisa digunakan di sejumlah negara antara lain, Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, dan Korea Selatan.  Serta dalam proses penjajagan China, India, Uni Emirat Arab, serta Arab Saudi.

Ini yang sering terlewat, skema yang digunakan QRIS antarnegara adalah penghubungan switching dengan settlement berbasis Local Currency Transaction (LCT), konversi langsung antar mata uang lokal, tanpa perlu lewat pihak ketiga. 

Artinya, biaya transaksi bisa lebih murah dari kartu kredit atau kartu debit internasional yang biasanya kena biaya konversi dan foreign transaction fee.

Di destinasi seperti Bangkok, Kuala Lumpur, dan Singapura, wisatawan Indonesia cukup scan QR lokal menggunakan aplikasi bank atau dompet digital Indonesia tanpa menukar uang tunai atau memasang aplikasi negara setempat.

Kalau kamu sering jalan-jalan ke luar negeri, implikasi langsungnya jelas: tidak perlu lagi ribet tukar uang atau khawatir biaya gesek kartu yang mahal. Cukup buka aplikasi mobile banking atau dompet digital Indonesia, scan, selesai.

Untuk pelaku UMKM, ini membuka pasar baru. Wisatawan dari negara mitra termasuk dari Jepang dan Korea yang angka kunjungannya ke Indonesia terus naik, bisa bayar langsung lewat sistem mereka ke merchant Indonesia.

Dalam skala lebih besar, ini adalah langkah Indonesia membangun kedaulatan sistem pembayaran digital di tengah dominasi jaringan kartu internasional yang selama ini menjadi satu-satunya pilihan transaksi lintas batas. (-)

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 04 May 2026