Peniliti Undip Ungkap Wisata Baru Unik ALaDin, Hanya Ada Satu di Dunia

Selasa, 11 Agustus 2026 09:27 WIB

Penulis:SetyoNt

Editor:SetyoNt

alor  undip.jpg
Undip menungngkap Wisata Baru Unik ALaDin di Kabupaten Alor yang satu di dunia. (dok. Humas Undip)

Alor, Jatengaja.com - Fenomena laut yang sangat unik terjadi di Perairan Desa Alor Kecil, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yakni pada waktu-waktu tertentu di bulan Agustus-November, suhu permukaan laut dapat turun hingga mendekati 10°C selama 1-2 jam. 

Ini merupakan fenomena alam ini diklaim merupakan satu satunya di dunia, karena tidak mungkin ditemukan di perairan tropis manapun yang biasanya hangat.

Tim peneliti Departemen Oseanografi FPIK Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang dipimpin Prof. Dr.Sc. Anindya Wirasatriya, S.T., M.Si., M.Sc mengungkapkan fenomena alam ini.

Melalui penelitian sejak tahun 2020, berhasil menguak fenomena alam serta memberi nama sebagai ALaDin (Air Laut Dingin). Dalam istilah oseanografi, ALaDin sebenarnya merupakan fenomena upwelling yang merujuk pada proses naiknya massa air laut dalam yang dingin ke permukaan.

Menurut Prof. Anindya, berbeda dengan upwelling biasa yang dibangkitkan oleh angin, ALaDin merupakan upwelling ekstrim yang dibangkitkan oleh arus pasang berinteraksi dengan topografi dasar laut Selat Pantar yang unik sehingga hanya akan terjadi pada kondisi pasang purnama dan terisolasi di Perairan Desa Alor Kecil.

“Hal yang luar biasa dari ALaDin adalah dampaknya, yakni saat ALaDin terjadi, dinginnya air laut yang datang secara tiba-tiba akan membuat ikan-ikan pingsan sehingga menarik kumpulan lumba-lumba untuk datang dan memangsa,” katanya dalam keterangan tertulis melalui Humas Undip, Senin 10 Agustus 2026.

Kejadian unik ini sangat menarik minat masyarakat untuk datang dan menikmati sensasi air dingin di tengah udara Alor yang panas, menangkap ikan-ikan yang pingsan dengan alat seadanya maupun melihat atraksi lumba-lumba hanya dari bibir pantai.

Kendala terbesar mengapa fenomena unik ini belum dapat termanfaatkan, lanjut Prof Anindya  adalah karena kemunculannya yang singkat dan tiba-tiba sehingga tidak dapat dikelola dan hanya dapat dinikmati warga lokal, sehingga tidak ada manfaat ekonomi yang didapat. 

“Jadi hanya penduduk sekitar justru yang menjadi penikmat ALaDin. Ke depan, paradigma ini harus diubah, yang menjadi penikmat ALaDin seharusnya adalah para wisatawan,” ujarnya. 

Sedangkan penduduk lokal harus menjadi penyedia fasilitas bagi para wisatawan dalam menikmati fenomena ALaDin agar mendapatkan manfaat ekonomi. 

“Untuk dapat mewujudkan itu semua, peramalan yang tepat dan pemantauan yang kontinyu dan realtime menjadi kunci untuk dapat mengembangkan kejadian ALaDin di perairan Alor Kecil menjadi event wisata,” katanya.

Prof Anindya menambahkan melalui Program Hilirisasi Riset Sinergi Strategis dengan pendanaan LPDP tahun 2026, Tim peneliti UNDIP dan Universitas Tribuana Kalabahi (UNTRIB) yang merupakan universitas lokal akan berkolaborasi dengan Pemkab Alor untuk dapat mewujudkan potensi wisata ALaDin. 

Tim UNDIP sendiri menyiapkan teknologi SI ALaDin yaitu Sistem Monitoring IoT dan Peramalan ALaDin yang memudahkan masyarakat dan stake holder untuk dapat memantau dan meramalkan kejadian ALaDin dari gawainya masing-masing. 

Karena gaya pembangkit ALaDin adalah pasang surut, dan pasang surut adalah fenomena oseanografi yang predictable karena sifatnya yang periodik, maka ALaDin juga dapat diramalkan.

“Peramalan kejadian ALaDin ini didasarkan pada hubungan antara suhu permukaan laut dengan pasang surut,” ujanya. 

Metode ini terbukti tepat meramalkan kejadian ALaDin di tahun 2023-2025. Tim UNTRIB akan berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat Desa Alor Kecil agar siap menjadi penyedia jasa wisata berbasis ALaDin. 

Dengan pendekatan partisipatif, berbasis kearifan lokal, dan berorientasi pariwisata berkelanjutan, kegiatan ini diharapkan mampu menciptakan produk unggulan Desa Alor Kecil yang berdaya saing dan berkelanjutan sesuai dengan prinsip blue economy.

Selain itu, masyarakat juga akan dilatih untuk dapat menyiapkan fasilitas untuk wisatawan selama event ALaDin sebagai bentuk community based tourism. 

Dengan peramalan yang akurat dan kesiapan masyarakat, Pemkab Alor berkomitment untuk memanfaatkan fenomena ALaDin di perairan Desa Alor Kecil melalui penyelenggaraan Festival ALaDin di bawah payung program Wismaraya di bulan September 2026. 

Prof. Anindya menegaskan adanya harapan besar Festival ALaDin nantinya tidak hanya akan menjadi ikon wisata di Kabupaten Alor, tetapi menjadi ikon wisata Indonesia karena keunikannya. 

“Jika Labuhan Bajo bisa mendunia karena memiliki komodo, kadal raksasa satu-satunya di dunia, Alor juga bisa karena memiliki ALaDin yang juga satu-satunya di dunia,” ujarnya.

Sementara, Rektor Undip Prof  Suharnomo menyatakan Undip mendukung penuh pelaksanaan Festival ALaDin tersebut. 

“Insya Allah saya akan datang untuk menyaksikan Festival ALaDin di Kabupaten Alor,” katanya. (-)