Makkah
Sabtu, 06 Juni 2026 14:22 WIB
Penulis:SetyoNt
Editor:SetyoNt

Makkah, Jatengaja.com - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia menyebutkan penyakit sesak napas dan serangan jantung paling mendominasi penyebab sakit jemaah haji Indonesia 1447 Hijriah/2026.
“Berdasarkan data dan kondisi terkini dua jenis penyakit yang paling mendominasi jemaah haji Indonesia yang dirawat tahun ini adalah gangguan pernapasan dan serangan jantung,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenhaj RI, dr Dani Pramudyadi Kantor Kesehatan Haji Indonesia, Makkah Arab Saudi dilansir dari haji.go.id, Sabtu 6 Juni 2026.
Menurutnya, gangguan pernapasan atau sesak napas mayoritas dialami jemaah haji lanjut usia (lansia) akibat faktor kelelahan fisik. Selain, kondisi dipicu adanya penyakit bawaan, seperti batuk kronis atau riwayat tuberkulosis (TBC).
"Kelelahan ekstrem membuat organ paru-paru jemaah yang rentan menjadi terganggu, sehingga menimbulkan sesak napas,” ujarnya.
Sedangkan serangan jantung, menyerang jemaah yang memiliki riwayat komorbid atau penyakit penyerta terdahulu, seperti hipertensi (darah tinggi) dan diabetes (sakit gula), yang kemudian terpicu oleh beratnya aktivitas fisik selama prosesi haji.
Lebih lanjut dr Dani menyatakan, pada pelaksanaan ibadah haji 2026 terjadi penurunan signifikan pada jumlah jemaah haji Indonesia yang mengalami sakit setelah melewati fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Berdasarkan data Kemenhaj pada musim haji tahun 2026, tercatat sebanyak 210 jemaah haji yang mendapatkan perawatan medis pascaArmuzna. Mengalami penurunan dibandingkan pada musim haji tahun 2025, yang menyentuh angka 300 jemaah.
Tren penurunan ini merupakan dampak langsung dari konsistensi pemerintah dalam menerapkan skrining kesehatan yang ketat terhadap para calon Jemaah haji sebelum berangkat.
"Alhamdulillah, dengan adanya implementasi peraturan istita’ah kesehatan, kami melakukan proses seleksi yang sangat ketat sejak di embarkasi. Pengetatan istita’ah ini terbukti efektif menekan angka kesakitan jemaah di Tanah Suci,” ujar dr Dani.
Sebagai bagian dari komitmen menjaga keselamatan jemaah, imbuh dr Dani, selama fase pemberangkatan di embarkasi, terdapat kurang lebih 300-an jemaah yang akhirnya dinyatakan tidak laik terbang.
Langkah tegas membatalkan keberangkatan calon jemaah yang tidak lolos syarat istita’ah tersebut diambil demi mencegah risiko fatalitas kesehatan saat pelaksanaan ibadah di Arab Saudi. (-)
Bagikan
Kemenag
setahun yang lalu