Kapolri
Minggu, 30 Agustus 2026 21:42 WIB
Penulis:SetyoNt
Editor:SetyoNt

Sukoharjo, Jatengaja.com - Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, menghadiri silaturahmi akbar 6.500 Eks Anggota Jemaah Islamiyah di Sukoharjo, Jawa Tengah.
Eks anggota Jemaah Islamiyah (JI) saat ini tergabung dalam organisasi Garda Satya NKRI yang dipimpin ustadz Para Wijayanto yang juga mantan amir JI.
Kegiatan dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang dihadiri sekitar 6.500 eks anggota JI Jawa Tengah (Jateng), Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur, berlangsung di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sukoharjo, Jawa Tengah, Minggu 30 Agustus 2026.
Kepala Densus 88 Anti Teror Polri, Irjen Polisi, Sentot Prasetyo, S.I.K., dalam laporannya menyatakan komitmen penuh kepolisian dalam mengawal proses reintegrasi sosial para mantan anggota JI agar kembali setia pada ideologi Pancasila.
“Hingga saat ini, sebanyak 7.942 eks anggota Jemaah Islamiyah di 28 provinsi telah aktif mengikuti program pembinaan dan 19 pelatihan kemandirian ekonomi yang difasilitasi oleh Polri bersama kementerian terkait,” ujarnya.
Rangkaian acara juga diisi dengan diskusi panel strategis dengan menghadirkan tiga narasumber utama yang mengupas tuntas masa depan program integrasi dengan moderatori Bambang Sukirno.
Sebagai narasumber utama Brigjen Pol. Tubagus Ami Prindani, S.I.K. (Wakadensus 88 anti teror Polri), yang memaparkan materi mengenai perjalanan eks anggota JI dan roadmap integrasi.
Ustadz Ir Para Wijayanto (Dewan Pakar Rumah Wasathiyah), mengulas pemahaman Wasathiyah (moderat) dalam mencintai Negara, dan Prof Dr H. Muhammad Saerozi, M.Ag (Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum UIN Salatiga), memproyeksikan program penguatan ekonomi berbasis komunitas.
Wiyanto menegaskan keputusan untuk membubarkan JI dan kembali ke NKRI bukan dilakukan karena tekanan, melainkan melalui proses perubahan dan musyawarah di internal organisasi.
“Kami kembali bukan berdasarkan tekanan, tapi memang perubahan metode dalam penanganan terorisme yang tepat. Kami bisa berubah, membubarkan diri dengan sukarela berdasarkan musyawarah-musyawarah mufakat dan kembali ke NKRI,” ujar Wijayanto.
Menurutnya, keputusan tersebut juga diikuti keinginan untuk memberikan kontribusi yang lebih besar bagi Indonesia dengan membentuk Garda Satya NKRI.
“Anggota Garda Satya NKRI diharapkan dapat mengaktualisasikan kemampuan yang dimiliki melalui berbagai bidang yang selama ini ditekuni, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat,” harapnya.
Sementara, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyambut komitmen tersebut dengan mendorong Garda Satya NKRI untuk tidak berhenti pada keputusan kembali ke NKRI, tetapi melanjutkannya melalui kontribusi nyata.
“Beliau-beliau memiliki keinginan kuat untuk kemudian bisa mengaktualisasikan apa yang beliau miliki di bidang-bidang yang saat ini sudah ditekuni, baik di kewirausahaan, di ekonomi, di bidang dakwah, serta keterpanggilan melaksanakan kegiatan-kegiatan kemanusiaan seperti bencana ataupun hal lain,” kata Kapolri.
Menurutnya, para anggota Garda Satya NKRI dapat bersama-sama dengan Polri dan institusi lainnya mengambil peran dalam menghadapi berbagai ancaman maupun tantangan yang dapat membahayakan bangsa dan negara.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolri juga menyampaikan bahwa proses bergabungnya mantan anggota Jemaah Islamiyah ke dalam Garda Satya NKRI sampai sekarang masih terus berlangsung.
“Tidak ada tekanan, tidak ada paksaan, tapi ini lebih memunculkan panggilan dari hati nurani untuk bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam ikatan Garda Satya NKRI,” ujar Kapolri.
Kapolri berharap Garda Satya NKRI mampu mengambil bagian dalam menjaga persatuan, membantu masyarakat, dan bersama-sama mendorong Indonesia menjadi bangsa yang semakin maju. (-)
Bagikan