DPR RI
Rabu, 28 Januari 2026 17:57 WIB
Penulis:SetyoNt
Editor:SetyoNt

Jakarta, Jatengaja.com - Anggota Komisi XI DPR RI secara sepakat bulat menetapkan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) untuk periode 2026–2031 menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri.
"Rapat internal di Komisi XI memutuskan yang menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia, pengganti Bapak Juda Agung yang mengundurkan diri, adalah Bapak Thomas AM Djiwandono. Kita sepakati diputuskan bersama menjadi keputusan Komisi XI di rapat internal," kata Misbakhun setelah uji kelayakan di Gedung DPR RI Senayan, Jakarta, Senin, 26 Januari 2026 dilansir dari Trenasia.id jaringan Jatengaj.com.
Thomas Djiwandono yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), merupakan tokoh berpengalaman dengan latar belakang di sektor keuangan, bisnis, dan pemerintahan.
Ia juga dikenal sebagai keponakan Presiden RI Prabowo Subianto dan putra mantan Gubernur BI Soedradjad Djiwandono.
Dalam fit and proper test di DPR RI, Misbakhun menegaskan keputusan pengangkatan Thomas diambil melalui musyawarah mufakat berdasarkan penilaian atas visi dan kapasitasnya.
Menyikapi kekhawatiran publik terkait hubungan politiknya, Thomas menegaskan komitmennya untuk menjunjung independensi Bank Indonesia. Serta telah mengundurkan diri dari keanggotaan Partai Gerindra, termasuk posisi Bendahara Umum yang dijabatnya selama 17 tahun, sebagai bentuk langkah awal menegaskan netralitas lembaga moneter.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada DPR dan secara khusus pimpinan serta anggota Komisi XI yang kemarin telah menjalankan proses fit and proper test (uji kelayakan dan kepatutan) secara baik,” kata Thomas seusai rapat di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa, 27 Januari.
Penetapan Thomas Djiwandono memicu reaksi di pasar keuangan. Melansir dari Reuters, Selasa, 27 Januari 2026, pengumuman ini terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap kemandirian bank sentral, setelah nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terendah sebelum stabil kembali menyusul keputusan tersebut.
Pencalonan Thomas sempat memicu kekhawatiran di kalangan investor terkait independensi Bank Indonesia, yang menekan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level terendah 16.985 per dolar AS pada pekan lalu.
Namun, rupiah kemudian kembali menguat setelah Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya sebagai langkah menopang stabilitas nilai tukar. Hari ini, Selasa, 27 Januari 2026, rupiah tercatat bergerak stabil di kisaran 16.760 per dolar AS.
Setelah terpilih, Thomas menekankan pentingnya sinergi antara otoritas moneter dan fiskal dalam menghadapi dinamika ekonomi global tanpa mengorbankan kebijakan independen BI.
“Seperti yang saya sampaikan dalam proses fit and proper test, komitmen saya adalah menjaga independensi bank sentral,” Ujar Thomas.
Selain itu, Thomas juga menekankan pentingnya melakukan penguatan sinergi kebijakan fiskal dan moneter dalam mendukung stabilitas serta pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, sinergi tersebut perlu dilakukan tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian serta mandat utama dari Bank Indonesia.
Thomas Djiwandono memiliki rekam jejak karier yang panjang di berbagai sektor. Sebelum menjabat Wamenkeu dan Deputi Gubernur BI, ia memiliki pengalaman sebagai wartawan magang di Majalah Tempo pada 1993. Tak hanya itu, ia juga bekerja di Indonesia Business Weekly.
Untuk memperluas kariernya Thomas Djiwandono juga pernah bekerja sebagai analisis keuangan di Whetlock NatWest Securities, Hong Kong. Pada 2006, ia ditunjuk sebagai Deputy CEO Arsari Group.
Harta kekayaan yang dilaporkan Thomas dalam LHKPN mencapai Rp 74,4 miliar atau tepatnya Rp 74.497.761.234. Aset terbesar yang dimiliki Thomas berasal dari tanah dan bangunan dengan nilai keseluruhan Rp 40.570.630.000. Serta memiliki aset lainnya berupa tanah, bangunan, surat berharga, alat transportasi, serta kas dan setara kas, yang menjadi sorotan publik sejak pencalonannya. (-)
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Maharani Dwi Puspita Sari pada 27 Jan 2026
Bagikan