Setiap Tahun di Indonesia Terjadi 1 Juta Kasus Penyakit TB
Jakarta, Jatengaja.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan Indonesia menjadi salah satu negara dengan penyakit tuberkolusis (TB) tertinggi di dunia.
Menurut Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Benjamin P. Octavianus, lebih dari satu juta kasus penyakit tuberkulosis setiap tahunnya terjadi di Indonesia.
“Setiap menit dua orang terinfeksi TB dan setiap empat menit satu orang meninggal dunia di Indonesia,” katanya dilansir dari Infopublik.id, Kamis 9 April 2026.
- Dari Hobi Jadi Bisnis, UMKM Fesyen Difabel Berkembang Bersama LinkUMKM
- Pegadaian–SMBC Kolaborasi, BRI Komitmen Perkuat Ekonomi Rakyat
- Prabowo Resmikan Perakitan Kendaraan Linstrik Komersial di Magelang
- LinkUMKM BRI Perkuat UMKM Fesyen Berbasis Wastra Nusantara
- Corporate Rebranding Jadi Kunci BRI Amankan Posisi di Panggung Global
Wamenkes menyatakan tuberkulosis masih menjadi tantangan besar, bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan faktor sosial, ekonomi, gizi, dan lingkungan.
Pemerintah mendorong langkah cepat melalui deteksi dini masif, termasuk Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan target menjangkau sebanyak 130 juta masyarakat pada 2026.
Selain itu, strategi lain yang diperkuat meliputi pelacakan kontak erat, pemberian terapi pencegahan TB, serta penguatan peran masyarakat dan kader kesehatan.
“Tidak ada waktu untuk menunda. Setiap kasus yang ditemukan dan diobati adalah langkah menyelamatkan nyawa,” tandas Benjamin.
Sementara, Perwakilan WHO Indonesia, dr. Setiawan Jati Laksono, menyebut Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus TB dunia.
Data menunjukkan, pada 2024 terdapat sekitar 118.000 kematian akibat TB pada orang tanpa HIV dan 8.100 kematian pada orang dengan HIV di Indonesia.
“Tubekolusis masih menjadi ancaman global. Ada kemajuan, tetapi belum cukup cepat. Komitmen politik dan pendanaan nasional sangat menentukan,” ujar dr. Setiawan.
WHO juga menyoroti tantangan besar, seperti kasus yang belum terdiagnosis, TB resistan obat, serta faktor risiko seperti malnutrisi, diabetes, dan kebiasaan merokok.
Meski demikian, harapan tetap ada melalui inovasi, dengan lebih dari 100 alat diagnostik, 29 obat TB, dan 18 kandidat vaksin yang sedang dikembangkan. (-)
