Kerugian Penipuan Digital di Indonesia Capai Rp7,5 Triliun
Jatengaja.com - Penggunaan artificial intelligence (AI) di Indonesia berkembang semakin cepat. Pemerintah, organisasi, hingga masyarakat mulai mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam aktivitas sehari-hari dan proses operasional.
Menurut Ensign InfoSecurity dalam Cyber Threat Landscape Report 2026 pertumbuhan infrastruktur digital AI di Indonesia berjalan lebih cepat dibandingkan dengan tata kelolanya.
Kondisi tersebut dapat menciptakan celah keamanan, termasuk kesalahan konfigurasi dan titik akses tidak sah yang berpotensi dieksploitasi. Pada saat yang sama, pemahaman terhadap phishing dan praktik keamanan data masih dinilai rendah.
- MTQ Nasional Telah Berlangsung 31 Kali, Berikut Daftar Nama Tuan Rumah
- Selama Tahun 2027, Ada 26 Hari Libur Resmi Baik Libur Nasional dan Cuti Bersama
- Sejarah MTQ Nasional di Semarang, Eksebisi Disabilitas Tuli Ikut Tartil Alquran
Dilansir dari Trenasia.id, jaringan Jatengaja.com, risiko siber di Indonesia telah terlihat melalui berbagai bentuk serangan. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital kerugian yang dilaporkan akibat penipuan digital mencapai Rp7,5 triliun.
Selain itu, berdasarkan sumber Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), tercatat 5,5 juta serangan siber pada 2025. Data lain yang dikutip Ensign dari Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 menunjukkan 89 % perusahaan lokal menyatakan belum siap menghadapi serangan siber.
Angka tersebut memberikan gambaran bahwa perkembangan ekonomi digital tidak otomatis berjalan beriringan dengan kesiapan pertahanan siber. AI canggih kini digunakan organisasi untuk meningkatkan efisiensi dalam skala besar.
Menurut Ensign, permukaan serangan tidak hanya berasal dari perangkat atau jaringan tradisional. Agen AI, model AI, dan data yang digunakan dalam penerapan AI juga dapat menjadi bagian dari permukaan serangan baru.
Di sisi pelaku ancaman, AI canggih dapat menurunkan tingkat keahlian teknis yang dibutuhkan untuk melakukan serangan.
Teknologi tersebut juga dapat membantu menghasilkan rekayasa sosial dan phishing yang lebih meyakinkan serta mendukung berbagai tahapan serangan siber secara lebih efektif.
Artinya, risiko keamanan tidak hanya muncul karena organisasi menggunakan teknologi baru, tetapi juga karena teknologi tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak yang ingin mengeksploitasi kelemahan sistem.
Ensign kemudian menguji kemampuan AI melalui AI Cyber Range. Sebanyak 10 model AI diuji dalam lingkungan jaringan universitas yang terkontrol.
Masing-masing model menjalankan delapan tujuan serangan sebanyak 16 kali. Pengujian tersebut dirancang untuk melihat sejauh mana model AI dapat menjalankan rangkaian serangan siber.
Hasilnya menunjukkan seluruh model berhasil memperoleh akses awal ke jaringan dengan tingkat keberhasilan 100 %. Kemampuan mengakses data sensitif mencapai 90 %, sedangkan melewati batas jaringan dan mengambil alih sistem tepercaya masing-masing mencapai 85 %.
- Indonesia Kirim 1.021 Atlet di Asian Games 2026, Target Peringkat Tiga besar
- Hafiz-Hafizah Terima Bisyaroh dari Pemprov Jateng
- Presiden Janjikan Bonus Rp3 Miliar kepada Atlet Peraih Emas Asian Games 2026
Namun, kemampuan AI kemudian menurun pada tahapan lebih kompleks. Keberhasilan mencuri kredensial login mencapai 75 %, perpindahan antar-sistem 67,5 %, dan menghindari deteksi keamanan 40 %.
Temuan ini memperlihatkan bahwa pertahanan masih dapat memainkan peran penting setelah penyerang memperoleh akses awal.
Dengan semakin luasnya penggunaan AI, keamanan siber menjadi bagian penting dari proses transformasi digital. Tantangannya bukan sekadar bagaimana organisasi mengadopsi AI, tetapi bagaimana teknologi tersebut digunakan dengan pengamanan yang mampu mengikuti perkembangan ancaman. (-)
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 16 Sep 2026
