Ini Manfaat dan Risiko Diet Karnivora yang Lagi Populer

SetyoNt - Selasa, 06 Januari 2026 23:53 WIB
Lagi Tren, Ini Manfaat dan Risiko Diet Karnivora (freepik.com/KamranAydinov)

Jatengaja.com - Konten dengan istilah bertajuk diet karnivora berseliweran di media sosial. Diet jenis ini semakin populer dan diklaim memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan tubuh.

Menurut pendukung diet karnivora menyebut metode ini bisa membantu menurunkan berat badan, meredakan peradangan, memperbaiki pencernaan, sampai membantu kondisi tertentu.

Dilansir dari Verywell Health, yang dikutip dari trenasia.id, diet karnivora adalah pola makan rendah karbohidrat yang kerap dibandingkan dengan diet keto dan paleo. Diet ini sangat ketat, karena hanya mengizinkan konsumsi makanan berbasis hewani seperti daging, ikan, telur, dan sebagian produk susu.

Berikut manfaat dari diet karnivora :

1. Menurunkan gula darah

Diet karnivora mampu membantu menurunkan kadar gula darah karena hampir tidak mengandung karbohidrat. Hal ini berpotensi bermanfaat bagi penderita diabetes atau gula darah yang tinggi.

Selain itu, menurut penelitian yang dilansir dari Verywell Health, diet rendah atau nol karbohidrat dapat membantu menjaga kadar gula darah, terutama pada penderita diabetes tipe 2.

Meski begitu, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui dampak jangka panjang dari diet rendah karbohidrat berbasis hewani seperti ini.

2. Membantu Mengatasi Resistensi Insulin

Diet karnivora diklaim mampu memperbaiki resistensi insulin. Walau belum ada bukti kuat khusus untuk diet karnivora, beberapa penelitian mendukung klaim manfaat positif diet rendah karbohidrat dalam meningkatkan sensitivitas insulin.

Namun, penelitian lain justru menemukan bahwa diet rendah karbohidrat justru dapat memperburuk resistensi insulin pada orang sehat. Oleh karena itu, diet ini perlu dijalani dengan sangat hati-hati.

3. Memenuhi Kebutuhan Protein

Diet karnivora sepenuhnya berbasis hewani, sehingga secara alami tinggi protein. Protein penting untuk struktur tubuh, fungsi vital, enzim, dan antibodi.

Umumnya, kebutuhan protein adalah sekitar 0,8 gram per kilogram berat badan per hari, meski bisa lebih tinggi pada atlet, lansia, atau orang dengan kondisi medis tertentu. Dengan diet karnivora, kebutuhan protein biasanya mudah terpenuhi.

Namun, konsumsi protein berlebihan juga bisa berisiko, seperti gangguan ginjal, kesehatan tulang yang buruk, dan masalah kesehatan lain jika tidak diimbangi nutrisi lain.

4. Membantu Menurunkan Berat Badan

Seperti diet tinggi protein lainnya, diet karnivora dapat membantu menurunkan berat badan. Protein dapat menekan hormon lapar sehingga nafsu makan berkurang dan asupan kalori menurun.

Namun, diet ini sering menyebabkan penurunan berat badan yang sangat cepat, yang umumnya dianggap kurang aman. Penurunan berat badan yang lebih sehat biasanya berkisar 0,5–1 kg per minggu.

5. Berpengaruh pada Mood

Pendukung diet karnivora mengklaim diet ini dapat memperbaiki suasana hati dan kesehatan mental. Beberapa studi menunjukkan konsumsi daging dikaitkan dengan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih rendah dibandingkan vegetarian atau vegan.

Meski efek keterkaitan pada mood ini belum jelas dan data penelitiannya memiliki keterbatasan.

Bukti manfaat diet rendah karbohidrat terhadap mood masih sangat terbatas dan sebagian besar bersifat pengalaman pribadi.

Selain memiliki manfaat, diet karnivora juga memiliki resiko yakni :

Diet karnivora bisa jadi tidak cocok untuk semua orang, karena memiliki risiko seperti menyebabkan diare, sembelit, kenaikan berat badan, kram otot, rambut rontok, sulit tidur, kulit kering, perubahan siklus menstruasi, mual, lelah, dan dehidrasi.

Selain itu, anak-anak, ibu hamil atau menyusui, serta penderita penyakit ginjal juga perlu menghindari diet jenis ini. Diet karnivora bisa membuat kita mengonsumsi lemak jenuh yang berlebihan sehingga justru meningkatkan kolesterol dan risiko penyakit jantung.

Jika tidak diimbangi dengan makan serat dan buah, dan hanya menerapkan diet karnivora saja, maka tubuh dapat kekurangan serat, antioksidan, dan fitokimia yang hanya terdapat pada makanan nabati, sehingga berisiko menyebabkan kekurangan nutrisi jangka panjang. (-)

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Justina Nur Landhiani pada 06 Jan 2026

Editor: SetyoNt

RELATED NEWS