Diplomasi Meja Makan: Merawat Tasamuh di Hari Fitri

Sulistya - Sabtu, 21 Maret 2026 22:47 WIB
Said Fadhlain

RAMADAN dan Syawal bagi seorang Muslim bukanlah sekadar siklus kalender ritual tahunan yang mekanistis. Ia adalah sebuah laboratorium pencapaian spiritual yang sangat presisi; sebuah fase di mana manusia diuji untuk melampaui ambang batas kediriannya. Jika Ramadhan adalah bulan tarbiyah (pendidikan) bagi integritas diri dan kesalehan sosial, maka Syawal adalah momentum pentasbihan—sebuah wisuda bagi insan yang lulus dengan predikat terbaik menuju derajat insan fitri yang rahmatan lil alamin.

Namun, sebuah ironi kerap muncul di sela-sela gema takbir yang membahana. Gelar kesalehan yang baru saja diraih seolah diuji seketika oleh ego kolektif yang terjebak dalam arus delegitimidasi dan degradasi keyakinan pihak lain. Fenomena perbedaan penentuan 1 Syawal sering kali menjadi panggung bagi kontestasi otoritas, yang jika tidak dikelola dengan komunikasi profetik, justru berpotensi mencederai ukhuwah yang telah dipupuk dengan susah payah. Saatnya kita menyadari bahwa perbedaan bukanlah noktah perpecahan, melainkan ruang diskursus untuk menguji sejauh mana "wisuda" Ramadhan kita berdampak pada adab berilmu di tengah masyarakat yang majemuk.

Meja Makan: Laboratorium Sosial

Di tengah keriuhan diskursus di tingkat elit yang terkadang terjebak dalam positivisme hukum penanggalan, saya menemukan jawaban yang lebih menyejukkan di sebuah meja makan di Labuhanhaji, Aceh Selatan. Di wilayah yang dikenal sebagai pusat peradaban spiritual dan intelektual dayah ini, saya menyaksikan harmoni yang unik dalam lingkup keluarga besar. Di bawah satu atap, kami merayakan hari kemenangan dalam waktu yang berbeda, bernaung dalam latar belakang pemikiran yang beragam, serta berkomunikasi dalam percampuran bahasa Aceh dan Aneuk Jamee yang saling bersahutan tanpa sekat.

Secara sosiologis, meja makan ini adalah sebuah "Laboratorium Komunikasi Antarbudaya" yang sangat nyata. Di sini, identitas kelompok yang kaku luruh oleh hangatnya rasa kekeluargaan. Perbedaan ijtihad diikat oleh satu nilai universal: Tasamuh (toleransi). Fenomena ini mengingatkan kita pada peristiwa historis-profetik di lembah Bani Quraizhah. Kala itu, para sahabat Rasulullah SAW memiliki tafsir berbeda atas instruksi mengenai waktu salat Ashar. Sebagian memahami secara tekstual, sebagian secara kontekstual. Ketika dilaporkan, Rasulullah SAW tidak mendelegitimidasi salah satunya, melainkan memvalidasi keduanya sebagai ijtihad yang terhormat.

Keteladanan ini selaras dengan kaidah fikih klasik: “Al-ijtihadu la yunqadu bil-ijtihadi” (ijtihad tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad yang lain). Jika otoritas nubuwah saja memberikan ruang bagi keragaman pemahaman, lantas mengapa di era digital ini kita justru terjebak dalam "ruang gema" (echo chamber) yang hanya membenarkan kelompok sendiri? Di meja makan kami, piring-piring berisi Lamang jo Tapai dan Thimpan Srikaya diedarkan tanpa interogasi metode. Inilah titik temu universal yang melampaui segala angka di kalender.

Dialektika Komunikasi

Dalam kacamata keilmuan komunikasi, fenomena ini mengonfirmasi teori Konstitutif Komunikasi dari Robert T. Craig, yang memandang komunikasi bukan sekadar transmisi pesan, melainkan proses sosial yang membentuk realitas dan identitas. Komunikasi di meja makan kami adalah proses "negosiasi makna" yang menghasilkan harmoni. Lebih dalam lagi, Hamid Mowlana dalam konsep Islamic Communication menekankan pentingnya unsur Ummah dan Taqwa sebagai basis interaksi. Komunikasi profetik bukan untuk mencari pemenang dalam debat sektarian, melainkan mencari titik temu kemaslahatan (Maslaha).

Bagi saya, memegang teguh keyakinan pribadi sembari tetap menghormati keteladanan orang tua dan guru adalah manifestasi dari Etika Komunikasi Dialogis yang diusung oleh Martin Buber, di mana hubungan "Aku-Engkau" (I-Thou) dikedepankan untuk memanusiakan sesama, bukan "Aku-Itu" (I-It) yang memandang orang lain sebagai objek untuk disalahkan. Menghargai ijtihad yang berbeda adalah tanggung jawab moral yang melampaui teks administratif. Sebagaimana risalah Rasulullah: "Permudahlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan membuat orang lari" (HR. Bukhari & Muslim). Pesan ini adalah fondasi bagi peradaban yang etis (ethics), di mana perbedaan ijtihad tidak boleh mengorbankan martabat kemanusiaan.

Urgensi Tabayyun bagi Elit dan Keummatan

Di tengah kompleksitas persoalan umat, kita mendambakan kehadiran elit yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus kejernihan intelektual. Sayangnya, perbedaan seringkali dijadikan komoditas untuk mempertegas batas "kita" dan "mereka". Di sinilah pentingnya Tabayyun (klarifikasi dan verifikasi) sebagai pilar etika komunikasi keummatan. Elit kebijakan dan keummatan seharusnya menjadi jembatan yang menyambungkan perbedaan, bukan pemantik bara perselisihan.

Tabayyun bagi elit bukan sekadar soal kebenaran data astronomi atau rukyatul hilal, melainkan tabayyun nurani. Sejauh mana kebijakan yang diambil mampu menjaga kohesi sosial? Sejauh mana otoritas yang dijalankan memberikan ketenangan bagi umat akar rumput yang merindukan kedamaian? Elit yang tercerahkan adalah mereka yang berani mendudukkan kepentingan umat di atas ego sektoral. Kemenangan Syawal seharusnya menjadi momentum bagi para elit untuk melakukan pembersihan diri dari penyakit hubbud dun-ya (cinta dunia) yang seringkali mewujud dalam rasa ingin paling berkuasa secara pemikiran.

Integritas Diri dan Keberpihakan pada Mustadh'afin

Di era disrupsi digital saat ini, tantangan keberagamaan semakin kompleks. Media sosial sering kali mengamplifikasi perbedaan menjadi kebencian melalui algoritma yang memecah belah nurani. Di sinilah Syawal harus menjadi momentum kristalisasi integritas diri. Lulusan Ramadhan yang sejati adalah mereka yang mampu membawa nilai jujur, disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian ke ruang publik. Tanpa integritas, keberagamaan kita hanya akan terjebak pada simbolisme hampa sementara fondasi hidup berbangsa dan bernegara keropos oleh ketiadaan kejujuran.

Senada dengan itu, semangat Islam yang mencerahkan mengingatkan kita bahwa esensi hari raya adalah keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan. Keshalehan tidak boleh bersifat "egositik", melainkan harus mampu menjawab penderitaan sesama. Spirit Syawal harus menghidupkan kembali Teologi Mustadh'afin—sebuah keberpihakan pada mereka yang lemah secara struktural.

Di tengah terpuruknya kondisi ekonomi dan sosial, Idulfitri memanggil kita untuk hadir membela mereka yang terpinggirkan secara sistemik. Keberpihakan ini adalah bukti nyata bahwa puasa telah melahirkan empati fungsional sebagaimana Rasulullah SAW membangun peradaban Madinah melalui Piagam Madinah, sebuah dokumen komunikasi politik paling demokratis yang menjamin hak-hak kaum tertindas dan minoritas. Inilah "Diplomasi Meja Makan" yang sesungguhnya: sebuah komitmen untuk berbagi beban dan kebahagiaan secara adil.

Penutup: Merawat Nalar Publik yang Sehat

Lebaran di Labuhanhaji tahun ini mengajarkan saya bahwa persatuan tidak harus berarti keseragaman. Di pesisir Aceh Selatan ini, saya melihat bahwa harmoni tidak lahir dari paksaan satu warna, melainkan dari kesediaan untuk saling memberi ruang. Di sana, ijtihad tidak beradu di atas mimbar yang saling menjatuhkan, melainkan menyatu di atas meja makan yang saling menguatkan.

Bagi kalangan intelektual Muslim di Indonesia, tantangan terbesar kita hari ini bukanlah pada perbedaan metodologi, melainkan pada kemampuan merawat nalar publik yang sehat di tengah gempuran polarisasi. Intelektualitas sejati adalah intelektualitas yang membebaskan; yang mampu melihat perbedaan sebagai rahmat (rahmah), bukan sebagai ancaman (fitnah). Kita seringkali fasih berdebat tentang derajat hadis, namun terkadang gagap dalam mempraktikkan derajat kemanusiaan.

Persatuan adalah ketika kita bisa saling tersenyum di meja makan, menghargai piring ijtihad masing-masing, dan menyadari bahwa kita semua adalah musafir yang sedang menuju titik kembali yang sama: Sang Khalik. Semoga wisuda Ramadhan kali ini benar-benar melahirkan pribadi yang lulus dengan predikat kesalehan solidaritas yang otentik, demi tegaknya peradaban yang gemilang dan etis di Bumi Teuku Umar hingga ke seluruh pelosok negeri. (-)

Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Said Fadhlain, (Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Teuku Umar (UTU))

Editor: Sulistya
Bagikan

RELATED NEWS