Triwulan III 2026, Realisasi Investasi Jawa Tengah Tembus Rp72,54 Triliun

Rabu, 21 Oktober 2026 22:54 WIB

Penulis:SetyoNt

Editor:SetyoNt

investasi.jpg
Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi pada acara Semarang Business Forum (Sembiz) ke-19 Tahun 2026 di The Suri Ballroom, Queen City Mall, Kota Semarang, Rabu 21 Oktober 2026. (dok. Humas Pemprov Jateng)

Semarang, Jatengaja.com - Hingga triwulan III (Januari-September) tahun 2026, realisasi investasi di Jawa Tengah tercatat telah menembus angka Rp72,54 triliun. Tertinggi Kabupaten Kendal. 

Realisasi investasi di Jateng tersebut dengan capaian sebanyak 82.420 proyek, serta mampu menyerap jumlah tenaga kerja sebanyak 340.334 orang 

Hal itu disampaikan Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi  pada acara Semarang Business Forum (Sembiz) ke-19 Tahun 2026 di The Suri Ballroom, Queen City Mall, Kota Semarang, Rabu 21 Oktober 2026. 

Menurut Luthfi, capaian investasi senilia Rp72,54 triliun tersebut terdiri atas Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebanyak Rp31,77 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebanyak Rp40,77 triliun. 

Dengan lima daerah dengan realisasi investasi tertinggi adalah Kabupaten Kendal sebesar Rp13,61 triliun, Kota Semarang Rp9,07 triliun, Kabupaten Batang Rp8,54 triliun, Kabupaten Temanggung Rp5,05 triliun, dan Kabupaten Demak Rp4,29 triliun

“Pengembangan ekonomi daerah tidak bisa hanya mengandalkan anggaran pemerintah, tapi juga dibutuhkan investasi swasta serta kerja sama antardaerah untuk memperluas kegiatan usaha dan membuka lapangan pekerjaan,” ujarnya Luthfi.

Ia mendorong Kota Semarang menjadi pusat penggerak investasi dan pertumbuhan ekonomi kawasan, karena memiliki posisi strategis sebagai pusat aktivitas ekonomi yang dapat menghubungkan potensi daerah-daerah di sekitarnya, seperti Kendal, Demak, Grobogan, dan Salatiga.

“Melalui pembagian peran dan kerja sama tersebut, masing-masing daerah diharapkan dapat mengembangkan keunggulannya, sekaligus saling mendukung dalam menarik investasi,” ujarnya.

Luthfi menambahkan, Jawa Tengah memiliki daya tarik investasi di tengah tantangan ekonomi global dan keterbatasan fiskal. Selain iklim usaha yang kondusif, provinsi ini didukung pertumbuhan ekonomi dan tenaga kerja yang kompetitif, terutama untuk industri padat karya.

“Ada 57 perusahaan Vietnam padat karya nanti akan membangun di wilayah kita. Karena role model kegiatan padat karya Vietnam sama dengan kita,” katanya.

Luthfi berharap penyelenggaraan forum bisnis seperti Sembiz dapat menjadi pemicu bagi kabupaten/kota lain untuk memperkenalkan potensi investasi, perdagangan, dan pariwisata di wilayah masing-masing.

Sementara, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, kolaborasi antardaerah menjadi kebutuhan dalam pengembangan investasi. 

“Sebab, Kota Semarang memiliki keterbatasan lahan untuk pembangunan kawasan industri berskala besar,” ujarnya.

Karena itu, Kota Semarang lebih diarahkan untuk mengembangkan sektor perdagangan dan jasa, dengan tetap mengandalkan dukungan daerah penyangga yang memiliki potensi industri maupun sumber daya lainnya.

“Kota Semarang tidak bisa sendiri. Pemerintah Kota Semarang tidak bisa sendiri. Maka kami mengundang seluruh investor untuk turut serta bersama-sama mengembangkan usaha untuk kebersamaan dan kemajuan,” ujarnya.

Agustina menambahkan, Sembiz yang telah diselenggarakan sebanyak 19 kali menjadi sarana mempertemukan investor dengan berbagai peluang usaha. 

Pemerintah Kota Semarang juga terus mengevaluasi hasil penyelenggaraan sebelumnya agar kerja sama yang terbangun dapat ditindaklanjuti.

“Pemerintah berkewajiban memastikan investasi tidak hanya menguntungkan pelaku usaha, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara bersama-sama,” ujarnya. (-)