Ribuan Warga Muhammadiayh Solo Ikuti Salat Idulfitri 1447 Hijriah

Jumat, 20 Maret 2026 22:32 WIB

Penulis:SetyoNt

Editor:SetyoNt

salat ied.jpg
Ribuan Warga Muhammadiyah Solo Ikuti Salat Idulfitri 1447 Hijriah/2026. (Jatengaja.com/Istimewa)

Solo, Jatengaja.com  - Ribuan warga Muhammadiyah Kota Solo dan sekitarnya memadati Lapangan Kottabarat untuk melaksanakan Salat Idulf itri 1447 Hijriah, Jumat 30 Maret 2026. 

Panitia menyiapkan sebanyak 12 shaf atau barisan untuk menampung jamaah yang hadir. Kehadiran jamaah diperkirakan kurang lebih berjumlah mencapai sekitar 1.200 jemaah.

Bertindak sebagai imam dan khotib, Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Andri Nirwana.

Prof. Andri Nirwana dalam khutbahnya mengajak seluruh jamaah untuk menjaga keistikamahan dalam beribadah setelah bulan Ramadan.

Ia menegaskan tantangan terbesar umat Islam bukan hanya menjalankan ibadah selama Ramadan, tetapi bagaimana mempertahankan konsistensi tersebut di bulan-bulan berikutnya. 

“Pada bulan Ramadan, ibadah terasa lebih ringan karena setan dibelenggu. Namun, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga konsistensi ibadah di luar bulan Ramadhan,” ujarnya.

Salah satu kunci menjaga keistikamahan, lanjut Prof  Andri,  adalah peran keluarga dalam membentuk kebiasaan ibadah. Keluarga perlu menyusun jadwal rutin, seperti puasa sunnah, salat berjamaah, serta membaca Alquran  agar amalan Ramadan tetap berlanjut. 

“Jika kebiasaan ini tidak dibangun dalam keluarga, akan sulit untuk istiqamah, apalagi ketika masing-masing anggota memiliki kesibukan. Dengan perencanaan yang baik, amalan Ramadhan bisa terus berlanjut hingga bertemu Ramadan berikutnya,” katanya.

Dalam khotabahnya, Prof. Andri juga menyinggung perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri yang terjadi di tengah masyarakat. Ia mengimbau umat Islam untuk menyikapi perbedaan tersebut dengan bijak dan penuh kedewasaan.

Perbedaan tersebut muncul karena perbedaan metode, seperti rukyat dan hisab. Muhammadiyah, misalnya, telah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang berbasis perhitungan ilmiah dan dapat diprediksi jauh ke depan. 

“Pada masa Rasulullah, rukyat digunakan karena keterbatasan ilmu pengetahuan. Saat ini, ilmu astronomi sudah berkembang, sehingga penentuan kalender bisa dilakukan secara lebih akurat. Perbedaan ini tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan,” tegasnya.

Pelaksanaan Shalat Idulfitri di Lapangan Kottabarat berlangsung tertib, khusyuk, dan penuh kebersamaan. Momentum ini tidak hanya menjadi ajang ibadah, tetapi juga mempererat tali persaudaraan umat Islam. (-)